Eropa Sambut Positif Kemajuan Indonesia dalam Penanganan Deforestasi

Oleh : hendro - Kamis, 28/02/2019 15:31 WIB

Suasana Dialog interaktif Capacity4Change (C4C)

Brussel, INDONEWS.ID - Indonesia, diwakili oleh KBRI Brussel, telah berpartisipasi dalam Dialog interaktif Capacity4Change (C4C): Sustainable Agricultural Supply Chains & EU Action on Deforestation and Forest Degradation yang diadakan oleh German Agency for Development (GIZ) dan Conservation International (CI), beberapa waktu lalu di Brussel.

Dialog ini diadakan dalam rangka untuk melakukan diskusi terbuka mengenai strategi bersama untuk menangani deforestasi dan bertukar pandangan soal best practices on sustainability oleh berbagai pemangku kepentingan pemerintah di Uni Eropa, kalangan swasta, akademisi, dan NGO dan Indonesia selaku negara produsen.

 Secara khusus, acara ini juga diselenggarakan untuk memfasilitasi pertukaran pandangan mengenai EU Communication on Action Deforestation and Forest Degradation yang akan dipublikasikan Uni Eropa pada pertengahan tahun 2019. 

Hadir sebagai pembicara dalam dialog ini antara lain Hon. Benedek Jávor (Wakil Ketua ENVI, Parlemen Eropa), Rodrigo Montoya (Direktur, Food and Agriculture Organization/FAO for the European Union), perwakilan dari Komisi Eropa (DG ENVI dan DG DEVCO), Dr. Stefan Schmitz (Deputy Director General, German Federal Ministry for Economic Cooperation and Development (BMZ), Herbert Lust (Wakil Presiden Conservation International), Haley Drage (Wakil Presiden Public Affairs Starbucks), Maike Möllers (Deputy Director GIZ), Mondelez, Ministry of Agriculture, Nature and Food Quality of the Netherlands (selaku ketua Amsterdam Declaration Group), dan Andi Sparringa (KBRI Brussel).  

Mewakili Indonesia dalam acara tersebut, Andi Sparringa menjelaskan updates kebijakan dan komitmen kuat Indonesia dalam upaya penanganan deforestasi dengan mendorong pendekatan holistik, yakni menyeimbangkan penguatan perlindungan lingkungan hidup dengan pengupayaan aspirasi pertumbuhan ekonomi dan sosial (food security dan pengentasan kemiskinan) di Indonesia.  

“Meski terdapat perdebatan mengenai isu deforestasi, Indonesia dan Uni Eropa perlu meningkatkan kemitraan yang efektif dengan seluruh pemangku kepentingan terkait dan diarahkan untuk penguatan program yang membawa manfaat langsung bagi petani kecil (smallholders). Penting bagi semua pihak untuk memiliki pendekatan “forward looking” guna mendukung upaya pencapaian UN Sustainable Development Goals (SDGs). Kemitraan kuat Indonesia – Uni Eropa di sektor ini terefleksi antara lain oleh skema FLEGT VPA yang perlu terus dikuatkan ke depan," ungkap Andi. 

Sementara itu, Bojan Grlas, Forest Team Leader (DG ENVI – Komisi Eropa) menjelaskan bahwa EU Action on Deforestation and Forest Degradation merupakan integrated approach Uni Eropa untuk memerangi deforestasi, melindungi hutan sekaligus memastikan supply chain yang berkelanjutan.

Soal Sawit

Menyinggung soal sawit, Dionne Heijnen (Mondelez), sebagai perwakilan dari kalangan industri Eropa di sektor makanan dan minuman, menekankan pentingnya untuk memperbaiki perspektif di Eropa yang cenderung demonize sawit sebagai sumber deforestasi.

 “Terlihat jelas upaya pemerintah Indonesia dalam mempromosikan sawit lestari termasuk melalui komitmen untuk bekerja sama dengan pihak industri”, tukasnya.  

Dalam hal ini, Wakil Presiden Conservation Internasional, Herbert Lust mengatakan, terdapat banyak contoh model program (working models) seperti sustainable landscape approach yang telah berhasil di lapangan dan perlu ditingkatkan serta secara serius dipertimbangkan oleh Uni Eropa dalam penyusunan strategi mengatasi deforestasi. 

Aplikasi program seperti ini telah diimplementasikan bersama dengan pemerintah lokal di Indonesia seperti di daerah Mandailing Natal (Madina), Tapanuli Selatan (Tapsel), Tapanuli Utara, Pakpak Bharat, serta Papua Barat.  

Artikel Terkait