Budaya

Persaingan Di Era Globalisasi Dan Ekonomi Digital

Oleh : indonews - Sabtu, 28/10/2017 20:06 WIB

DR. Ir. Agus Puji Prasetyono, M.Eng., Staf Ahli Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi bidang Relevansi dan Produktivitas, Dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. (Foto: Ist)

Oleh : DR. Ir. Agus Puji Prasetyono, M.Eng.

Sekalipun sebuah modernisasi ditandai dengan kecepatan arus informasi, globalisasi dan ekonomi digital tidak akan pernah dapat dilepaskan oleh pengaruh besar teknologi. Keampuhan teknologi itu kemudian mendulang sukses mengintegrasi tradisi perdagangan yang bersifat abstraksi, berubah ke dalam bentuk yang lebih sempurna, universal dan spasio-temporal (mampu menembus ruang dan waktu).

Inovasi tidak lagi terbatas pada sektor teknologi tinggi, namun lebih jauh saat ini telah menjadi fenomena-global yang mempengaruhi semua sektor kehidupan. Gempitanya dunia melalui berbagai forum tidak hentinya mempromosikan “era-baru” globalisasi yang ter-afirmasi dalam “aliran-data” dan informasi yang menghasilkan lonjakan pendapatan ekonomi menggiurkan. Bagaimana sebuah informasi mampu menggerakkan perdagangan barang melalui transmisi arus informasi dan gagasan, arus data tersebut kemudian mendeterminasikan pergerakan barang, jasa, keuangan, dan manusia memasuki fase baru yang didefinisikan oleh arus didaripada perdagangan barang dan jasa pada abad sebelumnya. Laporan McKinsey Global Institute (MGI) menjelaskan bahwa Era baru “Persaingan-global” memungkinkan perusahaan mencapai pasar internasional dengan model bisnis yang kurang padat modal, hal tersebut berdampak pada risiko dan tantangan bagi berbagai negara dalam memformulasikan sebuah kebijakan baru untuk mengikuti kecepatan perkembangan fenomena global ini.

Peningkatan penggunaan “bandwidth” merupakan “core” globalisasi dan ekonomi digital dalam menghubungkan seluruh moda dunia, tumbuh 45 kali lebih besar sejak tahun 2005. Fenomena ini diperkirakan akan meningkat sembilan kali dalam lima tahun ke depan seiring dengan meningkatnya jumlah pengguna arus informasi, penelusuran (searching), komunikasi, video, transaksi, dan lalu lintas intracompany.  Hal itu mengakibatkan proses mentransmisikan arus informasi dan data tidak lagi “memungkinkan” tetapi telah menggerakkan perdagangan barang, jasa, keuangan, dan manusia, dan  nyatanya setiap jenis transaksi lintas batas ini telah memiliki komponen digital yang ditransmisikan dalam setiap menit, tumbuh secara eksponensial ke dalam berbagai volume dan variasi sehingga berbagai gagasan dan inovasi dapat terwujud.

Ekonomi digital merubah ekonomi global, memungkinkan industri kecil menjadi industri multinasional mikro dengan elastisitas dan dinamika yang mereka miliki. Hal ini memberi kesempatan yang lebih tinggi bagi para pemula untuk terlahir secara global, digitalisasi mendorong persaingan karena memungkinkan model bisnis yang inovatif dan memungkinkan perusahaan untuk meningkat dengan cepat. Puluhan juta perusahaan kecil dan menengah di seluruh dunia telah berubah menjadi eksportir dan bergabung dengan pasar e-commerce, dan bisa bersaing dengan perusahaan multinasional terbesar.

 

Hallo Indonesia

Bahwa ketika informasi menjadi salah satu unsur “konstitutif” dalam masyarakat, itu terjadi karena manusia merupakan pengguna akhir dari sebuah produk, maka secepat apapun perputaran produksi, dan distribusi informasi yang mampu merubah sebuah peradaban, selalu saja didukung oleh kekuatan dan ekspansi ekonomi, jaringan sistem informasi global serta terakhir bagaimana teknologi menciptakan hal tersebut. Sekalipun mungkin saat ini kita berada dalam bayang-bayang Industri Generasi IV, tetap saja “teknologi” memegang peranan yang sangat penting  dalam perkembangan arus produksi, dan distribusi informasi tersebut, dapat dikatakan proses “massifikasi” informasi hanya pasti terjadi ketika hasil teknologi “membantu” mengubah pola komunikasi yang dibatasi oleh ruang dan waktu menjadi pola komunikasi informasi tanpa batas.

Ekonomi digital dan persaingan global hanyalah sebuah proses “konkruensi” dari seluruh proses evolusi, robot have been taking our jobs for 50 years, so why are we worried? bukankah mekanisasi, fabrikasi produksi massal kendaraan, komputerisasi dan cyber system telah melalui warna warni kehidupan manusia?

Hanya dengan teknologi, maka berbagai persoalan networking (jaringan) mampu menciptakan “kuantum computer”, di-reverse menjadi platform digital global yang dapat kembali dipergunakan pada proses belajar-mengajar, mencari pekerjaan, tetapi lebih jauh dalam membangun koneksitas e-commerce lintas batas, sehingga menciptakan pasar tenaga kerja yang lebih global. Teknologi adalah proses-control sehingga Informasi bisa ditransmisikan di seluruh dunia dalam sekejap mata, namun bisa menjadi gangguan. Teknologi mampu menggabungkan, mengkonversi atau menyajikan informasi dalam berbagai bentuk, dapat dieksplorasi sekaligus dimanipulasi, dan lebih jauh dapat “disengajakan” untuk membentuk persepsi, memanipulasi pikiran, dan mengarahkan perilaku untuk mendapatkan reaksi yang diinginkan.

Menarik membaca analisa Faisal Basri berjudul Peta Perekonomian Indonesia Memasuki Era Digital, yaitu dengan mempersiapkan Top 7 Skills.

Complex Problem Solving, ketika Negara melalui pemanfaatan teknologi mampu merubah khayalan dan impian manusia menjadi sebuah inovasi dengan menghasilkan banyak ragam dan system operasi produk barang dan jasa yang kompleks, maka hal itu akan meningkatkan globalisasi dan kemajuan teknologi, berdampak pada banyaknya masalah yang akan dihadapi. Karena itu teknologi selalu merujuk pada sebuah “pertimbangan” melalui penerapan pengetahuan tentang sistem kompleks yang berkaitan dengan struktur dan system dinamik (Funke, 2001). Teknologi juga dimanfaatkan untuk membuat prediksi di lingkungan yang kompleks dengan cara melakukan penelitian dan kajian serta expert judgment dari “domain” pengetahuan tertentu,

Critical Thinking, bagaimana tingkat pendapatan global dapat berdampak nyata bagi kualitas hidup populasi masyarakat dunia. Teknologi menghasilkan harga murah dengan keuntungan jangka panjang dalam efisiensi dan produktivitas. Dengan teknologi, biaya transportasi dan komunikasi akan menurun, logistik dan rantai pasokan global lebih efektif, dan biaya perdagangan akan berkurang, yang itu semua akan membuka pasar baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut merupakan pencerminan pemikiran kritis dari sebuah proses intelektualitas aktif dan terampil dalam mengkonseptualisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis, yang dihasilkan secara cepat menggunakan pengamatan, pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi, sebagai panduan untuk keyakinan dalam tindakan. Secara umum, ini didasarkan pada nilai intelektual universal yang melampaui pembagian materi pelajaran: kejelasan, akurasi, presisi, konsistensi, relevansi, bukti yang baik, alasan bagus, kedalaman, keluasan, dan keadilan.

Creativity, yaitu meningkatnya capaian ketika pelaku kebijakan berhasil mengurangi ketegangan sosial. Dalam hal itu, teknologi merupakan salah satu alasan utama mengapa pendapatan mengalami stagnasi, atau bahkan menurun bagi sebagian besar penduduk di negara-negara berpenghasilan tinggi. Teknologi mengakibatkan permintaan akan pekerja terampil meningkat sementara permintaan pekerja dengan pendidikan rendah menurun.

People Management, ini menegaskan pada konteks seseorang yang mampu mengarahkan pada hasil kuat dan berkelanjutan dengan cara meningkatkan keterlibatan sumber daya manusia yang bekerja untuk mereka. Sehingga berdampak langsung pada bottom-line.

Coordinating with Other, teknologi di-era globalisasi begitu krusial, sehingga membutuhkan “perpanjangan tangan” yang efektif untuk meningkatkan skala keuntungan ekonomi. Karena itu dibutuhkan keterampilan berkoordinasi yang mencakup kapasitas untuk mengatur, dan menghubungkannya dengan keseluruhan alur kerja mencakup penanganan krisis, rintangan atau interupsi yang tak terduga.

Emotional Intelelligence, digitalisasi memiliki kemampuan untuk memacu setiap informasi yang diterima oleh masyarakat, sehingga setiap orang bisa mendapatkan “banjir informasi”, baik yang bersifat lokal-regional dan internasional, di satu sisi bisa membuat manusia mendapatkan informasi yang diperlukan, tapi di lain pihak menjadi beban berlebih atas seluruh proses informasi yang diterima oleh setiap manusia atau masyarakat, sehingga dibutuhkan kecerdasan emosional yang mengidentifikasi dan mengelola tingkat emosional orang lain.

Judgement and Decission Making, keputusan yang baik membutuhkan tujuan yang jelas, spesifik, terukur, disepakati, realistis dan memiliki ketergantungan waktu.

 

Implikasi bagi Negara?

Berbagai perusahaan menganggap persaingan di era global dan ekonomi digital ini merupakan tantangan yang harus diraih dan dijadikan sebuah peluang untuk mendukung pertumbuhan Indonesia. Tidak banyak perusahaan siap menghadapi kondisi ini, hanya perusahaan yang didukung dengan infrastruktur yang memadai, system yang efisien dan efektif dan pengendalian manajemen yang baik memungkinkan untuk bersaing dan memenangkan persaingan ini., karena itu perusahaan harus melakukan evaluasi desain dan merencanakan ulang system yang selama ini telah berjalan untuk dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan ekonomi global dan persaingan digital saat ini.

Indonesia memiliki potensi tinggi bersaing di era ini terutama dalam jumlah penduduk yang besar dengan sejumlah skill yang dimiliki, jumlah pengguna internet yang terus meningkat, termasuk sumber daya yang melimpah, sangat berpotensi untuk merebut persaingan di era globalisasi dan ekonomi digital. Namun demikian masih terdapat beberapa potensi yang dapat menjadi penghambat untuk mengalahkan persaingan ini, antara lain belum tersedia infrastruktur digital yang memadai, adanya gap pemanfaatan dan penguasaan teknologi di berbagai daerah termasuk kota dan desa serta peraturan yang khusus mengatur ekonomi digital.

Potensi penerimaan pajak yang dihasilkan dari perdagangan digital berpotensi menjadi penerimaan negara yang signifikan, namun sampai saat ini belum ada aturan khusus, sehingga dapat mengurangi penerimaan untuk negara. Karena itu perkembangan ekonomi digital yang sangat pesat ini perlu mendapat perhatian dari pengambil kebijakan untuk segera mempercepat infrastruktur yang diperlukan agar perkembangan ini bisa mengkontribusi pertumbuhan ekonomi Indonesia kedepan.

Penulis adalah Staf Ahli Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, bidang Relevansi dan Produktivitas, Dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta.

 

 

Artikel Terkait