Profile

Kisah Alumni Boedoet Penakluk Google

Oleh : tirto prima putra - Minggu, 30/06/2019 12:02 WIB

Muhammad Haniv

Pada zaman teknologi berkembang dengan pesat seperti beberapa tahun belakangan, tentunya harus disertai kemampuan mumpuni pemerintah khususnya terkait pajak. Google menjadi perusahaan yang memegang peran penting saat ini.

Google digunakan setiap saat oleh setiap orang yang mengakses internet di dunia. Di Indonesia juga demikian, perusahaan ini meraup keuntungan setengah dari iklan internet di Indonesia dalam satu tahun. Nilai iklan internet di Indonesia pada 2016 sekitar $ 830 juta, bayangkan jika Google meraup setengahnya yakni sekitar $400 juta.

Namun demikian, Google hanya membayar 4% dari pendapatan iklan sebagai bayaran kantor perwakilan Google di Indonesia. Kala itu, Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Muhammad Haniv mengejar Google membayar lebih yakni 25% karena Google Indonesia adalah Badan Usaha Tetap.

M.Haniv memperkirakan pendapatan iklan Google Rp 5 triliun, asumsi profit Rp 1,6 triliun – Rp 1,75 triliun dan pajak perusahaan Rp 437,5 milyar. Sejak 2017, Google membayar pajak ke Indonesia. Hal ini merupakan prestasi karena tidak banyak negara yang mampu menagih pajak dari Google kecuali Inggris, India, dan Australia kala itu.

Sosok Muhammad Haniv menjadi penting dalam upaya menekan pendapatan negara dari Google. Siapakah dia?

Muhammad Haniv merupakan lulusan SMAN 1 Jakarta Budi Utomo (Boedoet) tahun 1977. Lulus dari SMA, ia melanjutkan ke STAN kemudian melanjutkan studi ekstensi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jurusan manajemen akuntansi hingga lulus pada 1987. Tidak cukup di tanah air, M.Haniv melanjutkan studi di University of Texas jurusan akuntansi pajak pada 1989. Pada tahun 2006, M.Haniv melanjutkan program doktoral di IPB jurusan bisnis manajemen dan lulus pada 2012.

Salah satu pengalaman menarik dalam karirnya ketika ditempatkan di Aceh yang mana orang-orang berpikir bahwa pajak haram. Walau demikian, mereka taat bayar zakat. M.Haniv kemudian menggandeng ulama untuk sosialisasi pajak melalui ceramah. Masyarakat dijelaskan bahwa pajak menjadi salah satu bentuk ketaatan masyarakat kepada pemimpin. Pajak merupakan kebijakan dari ulilamri atau pemimpin dalam Islam.

Manuver melibatkan ulama tersebut sebagaimana pesan yang M.Haniv sampaikan, “Jaringan adalah kunci kesuksesan di masa depan. Maka dari itu semakin baik networking kita, semakin baik kehidupan kita kelak”.

 

Loading...

Artikel Terkait