Nasional

Mendorong Collaborative Governance Cetak Patriot Bangsa

Oleh : Tirto.p - Jum'at, 02/08/2019 16:16 WIB


Dari kiri ke kanan: Tirto (Chief Editor indonews.id), Ketua KONI Marciano Norman, Tigor (CBO indonews.id)

Jakarta, indonews.id – Olahraga merupakan kegiatan yang tidak hanya menyenangkan, namun juga penting dan dibutuhkan bagi kesehatan manusia. Suatu kalimat latin yang kerap kita dengarkan menjelaskan bahwa ada kaitan antara kesehatan dan kejiwaan atau karakter manusia yaitu “Mens sana in corpore sano (dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat)”.

Dengan kata lain, jalan untuk memiliki jiwa yang kuat yakni perlu memiliki kesehatan yang baik. Salah satu jalan dalam mewujudkan manusia sehat adalah dengan olahraga. Pada sudut pandang yang lebih luas yakni bangsa, olahraga berkaitan erat dengan pembangunan karakter kebangsaan.

Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) 2019-2023 terpilih, Marciano Norman sadar akan pentingnya olahraga dalam membangun sebuah karakter bangsa. “Olahraga melatih mental kompetitif, pantang menyerah, tidak cepat berpuas diri”, tegasnya. Dalam olahraga yang umumnya bersifat kompetisi, tentu pegiatnya dituntut untuk saling bersaing mencapai hasil terbaik untuk mendapatkan kemenangan.

Dengan demikian, pegiat olahraga perlu memiliki jiwa yang tidak mudah puas akan hasil terutama jika mengalami kekalahan sehingga terus kembali berusaha untuk mendapat hasil lebih baik.

Tidak hanya itu, karena dalam olahraga juga tidak mengenal permusuhan, maka seusai kompetisi berakhir setiap lawan akan berubah menjadi kawan kembali. Dapat dibayangkan jika sebuah bangsa besar seperti Indonesia memiliki jiwa yang saling berkompetisi dalam produktivitas disertai sportivitas, tentu Indonesia Unggul bukan hanya menjadi impian.

Di luar isu karakter bangsa, beberapa ajang kompetisi olahraga juga menjadi wadah menaikkan derajat dan gengsi bangsa. Dalam upaya mengharumkan nama bangsa maka upaya tersebut merupakan kepentingan bangsa. Suatu bangsa akan bersatu padu mengesampingkan kepentingan kelompoknya untuk kepentingan bangsa. Dalam konteks Indonesia, Ketua KONI terpilih berpesan, “Jangan lupa bicara olahraga kita bicara merah putih, di olahraga kita tidak terkotak-kotak, bicara merah putih, bicara harkat dan martabat bangsa sehingga harus mendapat dukungan seluruh masyarakat Indonesia karena olahraga salah satu pemersatu bangsa”.

KONI periode 2019 – 2023 akan bekerja keras dalam menggapai prestasi. Oleh karenanya, atlet dan tata kelola cabang olahraga menjadi salah satu pekerjaan rumah periode saat ini. Atlet yang menjadi ujung tombak dalam mengharumkan nama bangsa mendapatkan perhatian khusus mengingat perjuangannya.

Adapun atlet yang berjuang demi bangsa dapat dianggap sebagai patriot. “Atlet-atlet olahraga adalah patriot bangsa karena mereka selalu berjuang melalui bidangnya untuk kehormatan Indonesia.”, ujar mantan Kepala BIN periode 2011 – 2015 tersebut.

Salah satu langkah yang akan ditempuh KONI dalam mendorong atlet adalah membenahi pembinaan olahraga yang baik. Pembinaan dilakukan mulai dari pelatihan hingga urusan nutrisi atlet. Dengan demikian dapat dipastikan pendanaan untuk pembinaan tidak sedikit. Memahami kondisi tersebut, Ketua KONI berharap dapat menjembatani antara sektor swasta dengan cabang olahraga. “Sebagai induk organisasi olahraga kita juga harus memikirkan olahraga ke depannya menjadi industri sehingga kita mampu membangun kepercayaan kepada badan usaha (sponsor: BUMN, BUMD, swasta maupun donatur)”, tambahnya.

Visi Marciano Norman dalam menghadirkan olahraga sebagai industri yang bekerja sama dengan swasta dapat dilakukan. Dalam dunia akademik, konsep Collaborative Governance menjadi relevan. Pasalnya, konsep tersebut dapat digunakan sektor publik (pemerintahan) sebagai salah satu solusi untuk mendapatkan bantuan berbagai pihak termasuk pendanaan swasta.

Dalam tulisan berjudul “Collaborative Governance in Theory and Practice”, Ansel dan Gash secara sederhana menjelaskan Collaborative Governance sebagai tata kelola yang melibatkan pelaku dari pemerintah dan non-pemerintah dalam membangun kebijakan kolektif yang mengedepankan mufakat.

Keterlibatan swasta sangat diharapkan guna mengembangkan para atlet yang merupakan patriot bangsa. Dengan demikian, swasta perlu terlibat lebih dalam pada kebijakan tertentu guna menguntungkan pihak swasta. Ketika swasta mendulang keuntungan dalam kolaborasinya dengan cabang olahraga tertentu, maka pendanaan terhadap program-program pembinaan dapat berjalan baik.

Artikel Lainnya