Nasional

Ini Penjelasan Lapan Soal Sebaran Titik Panas dari Tahun 2015-2019 di Indonesia

Oleh : Mancik - Jum'at, 30/08/2019 21:44 WIB


Data Lapan soal sebaran titik panas dari tahun 2015 hingga tahun 2019 di Indonesia.(Foto:IST)

Jakarta,INDONEWS.ID - Peneliti pusat pengindraan jauh(Lapan) Indah Prasasti memberikan penjelasan terkait dengan gambaran umum sebaran titik panas dari tahun 2015 hingga tahun 2019 di Indonesia. Hal ini ia sampaikan pada saat konferensi pers Tim Intelijen Bencana di ruang serbaguna Dr. Sutopo Purwo Nugroho, Graha BNPB, di Jakarta, Jumat,(30/08/2019)

Lapan sendiri melihat bahwa sebaran titik panas selama beberapa tahun terakir mengalami perubahan yang sangat dratis. Hal ini bisa dilihat dari data grafis terutama berkaitan dengan sebaran titik panas di Indonesia pada tahun 2019.

"Dari persebaran yang ada, bulan Juni dan Juli itu meningkat," kata Indah.

Data terkait dengan peningkatan sebaran titik panas juga terjadi pada bulan Agustus tahun 2019. Ada beberapa wilayah yang masuk dalam kategori tinggi diantaranya wilayah Sumatra dan Kalimantan hingga Papua.

"Untuk wilayah Sumatra, Kalimantan, NTT dan Papua, untuk wilayah Sumatra itu Riau paling tinggi, dan Sumtra Selatan serta Jambi," jelasnya.

Penyebaran titik panas atau hotspot ini tidak hanya terjadi di wilayah Indonesia bagian barat. Indonesia Timur mengalami kejadian yang sama bahkan melebihi angka seribu titik panas.

"Untuk Kalimatan, NTT dan Papua, Kalimatan Barat di bulan Agustus tinggi, selain Kalbar ada juga Kalimantan Tengah, untuk NTT cukup tinggi melebihi seribu hotspot, sementara untuk Papua masih di bawah seribu.


Titik Panas Tertinggi Ada di Tahun 2019


Lebih lanjut Indah menjelaskan, sebaran titik panas selama 4 tahun terakhir mencapai angka tertinggi di tahun 2019. Data ini sesui dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lapan sendiri.

Peningkatan sebaran titik panas ini diakibatkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah kondisi cuaca yang ekstrim yang berpotensi menghasilkan banyak titik panas atau hotspot di Indonesia.

"Apabila dibandingkan antara 2018 dan 2019, maka untuk tahun 2019 ini, kondisi hotspot bulanan itu lebih tinggi dibandingkan tahun 2018, juga lebih tinggi jumlah rata-rata tahunan dari tahun 2015 hingga tahun 2018.

Terhadap kondisi ini, kata Indah, mesti disikapi dengan baik. Masyarakat disaran untuk tidak melakukan aktivitas yang menyebabkan kebakaran di sekitar wilayah sebaran titik panas tersebut.*(Marsi)

 

 

Artikel Lainnya