Nasional

Mengkhawatirkan, Ketika Tampilan Fisik Jadi Ukuran Keindonesiaan Seseorang

Oleh : Rikard Djegadut - Sabtu, 31/08/2019 09:25 WIB


Milenial Blogger Margareta Astaman, Editor Buku Benny Sabdo, Kapuspen Kemendagri Dr. Bahtiar (Foto: Rikard Djegadut/Indonews.id, Jum`at 30/8/19)

Jakarta, INDONEWS.ID - Pancasila sebagai dasar negara Indonesia akhir-akhir ini tengah menghadapi ancaman dari berbagai penjuru dengan masuknya paham-paham radikalisme melalui gerakan-gerakan yang masif dari sejumlah ormas. 

Hal ini berbuntut pada muncul dan berkembangnya stigma masing-masing individu untuk mempertanyakan keindonesiaan orang lain lebih berdasarkan pada tampilan fisiknya dari pada melihat bagaimana seseorang menghayati dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dalam kehidupan sehari-harinya.

Demikian dikatakan Milenial Blogger, Margareta Astaman ketika menjadi pembicara dalam acara bedah buku bertajuk ` Ancaman Radikalisme Dalam Negara Pancasila` di Gedung Megawati Institute pada Jum`at,(30/8/19).

"Ini mengkhwatirkan sekali menempelkan sebuah ciri-ciri fisik menjadi sebuah ciri-ciri dentitas bangsa, sangat berbahaya sekali khususnya buat negara yang begitu beragam seperti negara Indonesia" tandas Margaret.

Menurutnya, sudah lama kita punya dasar negera yakni Pancasila dan juga Undang-Undang Dasar 1945 yang mengatur dan mengukur perilaku kita sebagai warga bangsa Indonesia yang beragam suku, ras, agama dan budaya serta bahasa. Itu seharusnya menjadi ciri khas bangsa kita.

Sehingga jika ada seseorang yang sifat dan perilakunya mempraktekan ketuhanan, bersikap adil, manusiawi dan mengutamakan musyawarah mufakat serta mengutamakan persatuan Indonesia, keindonesiaanya seharusnya tidak perlu dipertanyakan lagi.

"Kalau ada seseorang yang sifatnya itu mempraktekan Ketuhanan, kemudian bersikap adil, bersikap manusiawi,juga selalu mengutamakan musyawarah mufakat, mengutamakan persatuan Indonesia itu harus langsung kelihatan bagaimanapun juga sebagai orang Indonesia" jelasnya.

Namun, lanjut Margaret, di tengah masifnya gerakan-gerakan penyebaran paham-paham radikalisme yang berupaya merontokan dasar negara kita, dia meyakini, nilai-nilai Pancasila masih sangat relevan di kehidupan sehari-hari anak-anak milenials.

Sila-sila yang ada seperti persatuan Indonesia, jelasnya, masih sangat kental ditunjukan oleh anak-anak milenials dalam keseharian.

"Anak-anak milenial itu punya sifat optimis dan sifat positif. Masih ada kesempatan untuk Pancasila menduduki tempat yang seharusnya di negara ini. Seperti sila persatuan Indonesia"

Kedepannya, ia berharap, kita sama-sama, bahu-membahu memikirkan cara dan strategi ala anak milenials untuk bertempur di tempat yang sama melawan paham-paham radikalisme ini.

"Saya pikir dari buku ini, kita diajak untuk semakin melihat lagi gimana sih caranya supaya kita bertempur di tempat yang sama dimana paham-paham ini kemudian masuk." tutupnya.

Sebagai informasi, acara bedah buku ini juga dihadiri oleh beberapa narasumber Kapuspen Kemendagri Dr. Bahtia, Pengajar FISIP UI Dr. Ade Armando; Direktur Eksekutif PARA Syndicate Ari Nurcahyo; Milenial Blogger Margareta Astaman, dan Moderator Benny Sabdo. hadir pula menjadi penanggap di antaranya Pengajara HTN UIN Syarif Hidayatullah, Fathudin Kalimas, SH, MH; Lapepsdam PBNU, Sa`aduddin Sabilurrasad; Direktur Eksekutif Indopolling Network, Wempy Hadir.*(Rikardo) 

Artikel Lainnya