Nasional

Presiden Kena Prank Seorang Buruh, Tere Liye Tulis Pesan "Nusuk"

Oleh : Rikardo - Sabtu, 23/05/2020 13:01 WIB

Foto collage: Pemenang Lelang M. Nuh, Presiden Jokowi dan Penulis Tere Liye

Jakarta, INDONEWS.ID - Pengumuman pemenang lelang kembali dilakukan pihak penyelenggara penggalangan dana, setelah sebelumnya M Nuh gagal menebus harga lelang yang ditawarnya pada acara lelang yang digelar tiga lembaga tinggi negara yakni MPR, BNPB dan BPIP pada Minggu (17/5/2020).

Dalam lelang tahap dua itu, Putra Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo, yakni Warren Tanoesoedibjo, menjadi pemenang lelang sepeda motor listrik Gesits bertanda tangan Presiden Joko Widodo dengan penawaran seharga Rp 2,55 miliar.

Penulis ternama Indonesia Tere Liye pun angkat bicara. Ia lantas menurunkan sebuah ulasan panjang lebar merespon "fenomena tak biasa" itu, dimana seorang buruh harian lepas (BHL), Muhamad Nuh berhasil mengelabui intelektualitas para elit negeri berserta tim ahlinya, termasuk BIN dengan menyebut diri sebagai pengusa. 

Gagalnya tim ahli lembaga tinggi negara seperti MPR, BNPB, BPIP bahkah BIN memverifikasi data perserta lelang merupakan sebuah pukulan berat bagi negara karena dinilai sedang mempertontonkan sebuh kebodohan yang hakiki. 

Berikut adalah sentilan Tere Liye yang pesan-pesannya menusuk ulu hati. Menariknya, dia memulai tulisannya dengan judul: "Negeri Para Pelawak". 

"Saya sedih sekali menulis catatan ini. Saya tidak terima, jika pemimpin negeri ini dicaci, dimaki, dihina oleh kalian semua. 

Apalagi saat motor kesayangannya, yang dia tanda-tangan begitu indah menawan menyejukkan hati, kemudian dilelang, saya bangga sekali, sangat bangga saat mendengar harganya, laku 2,5 milyar. Itu memang harga yg sangat pantas bagi motor milik pejabat. Sama pantasnya saat anak, menantu, keluarga pejabat mau nyalon ikut berkuasa. Berlinang air mata saya melihatnya. Sungguh mulia. 

Tapi apa yang terjadi? Ternyata yang membeli motor itu buruh lepas. Tentu jangankan mau bayar 2,5 M, buat memenuhi kebutuhan sehari2 saja harus bekerja. Aduh, saya sangat sedih. Sekaligus marah semarah-marahnya ke siapapun yang tertawa atas kasus ini. Kalian mempermalukan negeri ini. Sungguh tega kalian menyakiti hati pejabat kita yang teduh wajahnya, senantiasa lembut hatinya. 

Bagaimana mungkin lelang seserius ini, diadakan oleh BPIP,  BNPB, MPR, ternyata dijadikan ajang lelucuan saja oleh kalian. Mereka sudah verifikasi datanya loh. Sudah semua disiapkan oleh orang2 yg sangat berkompeten, sangat pandai, putra-putri terbaik yg siap mengabdikan diri untuk uang, eh, demi bangsa. Mereka tidak akan keliru.

Tapi tetap kalian tertawakan pemimpin kita. kalian kritik habis2an. Senang sekali saat ada kesalahan ini. Mencari2 titik lemah. Astagfirullah, kalian tidak tahu apa adab ke pemimpin? Mereka itu orang hebat. Coba lihat saat konser itu dilakukan, ada foto2nya di berita, ada videonya, lihat, mereka tidak pakai masker, berkerumun lebih dari 5 orang, itu bukti orang hebat. Satria piningit, titisan dari langit, karena kalau orang biasa, dia akan pakai masker di tempat publik. Patuh pada pemimpin yg selalu mengingatkan. Beda dengan orang hebat, virus coronanya yang malah maskeran.

Maka, nasi telah menjadi bubur. Saya sungguh sedih atas respon kalian semua. Malu semalu-malunya. Unfaedah saja komen2 kalian. Ingatlah, negeri ini tidak akan merdeka, jika tidak ada pemimpin sekarang. Kita semua masih dalam alam penjajahan Belanda, jika partai2 politik sekarang tidak berkuasa. Dan Pancasila, sungguh jika tidak ada BPIP yang menyelenggarakan konser ini, kita masih mengeja kata `gotong royong` dan `solidaritas`, karena merekalah kita mendapat pencerahan tentang hakikat kehidupan. Satu pidato dari mereka, bagaikan gelombang pencerahan seluruh semesta alam.

Jadi saya menyerukan, jika kalian masih punya iman di dada, berhentilah menertawakan pemimpin kita dalam kasus lelang motor listrik ini. Apalagi menyalahkan mereka, panitia, dll. Mari fokus ke pelaku yang menipu saja. Karena semua ini memang salah rakyat jelata.

Tabik.

*Tere Liye adalah penulis novel “Negeri Para Bedebah”, “Negeri Di Ujung Tanduk”, dan “Selamat Tinggal”

Sebelumnya, Seorang pria mengaku pengusaha bernama M Nuh di Jambi memenangkan lelang motor listrik yang ditandatangani Presiden Jokowi.

Motor tersebut dilelang seharga Rp 2,5 miliar dalam acara konser amal penggalangan dana secara virtual, Minggu (17/5/2020). Namun, sosok M Nuh justru menjadi tanda tanya karena seolah menghilang begitu saja.

Ditambah lagi, tak ada warga setempat yang mengenal pengusaha bernama M Nuh. Satu-persatu fakta pun terkuak. Hingga saat ini keberadaan M Nuh masih menjadi tanda tanya.

Kasus ini terungkap dan ramai dibicarakan baik di sosial media maupun di kalangan elit setelah INDONEWS.ID menurunkan berita penangkapan M. Nuh oleh aparat dari Polda Jambi.

Rupanya polisi telah bertemu M Nuh dan sempat meminta keterangannya. Kapolda Jambi Irjen Firman Santyabudi mengatakan, kendati demikian, M Nuh tidak ditahan dan diizinkan pulang.

"Jadi memang tidak ada penangkapan dan penahanan kepada yang bersangkutan," tutur Firman. *(Rikardo)

Loading...

Artikel Terkait