Bisnis

Rizal Ramli: Ahok Tak Punya Pengalaman Good Governance di BUMN

Oleh : very - Rabu, 26/08/2020 17:43 WIB

Ekonom Senior Rizal Ramli. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID – Komisaris Utama PT Pertamina, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjadi sasaran tembak beberapa hari terakhir. Pasalnya, Pertamina diberitakan mengalami kerugian sebesar Rp11 triliun rupiah. Lantas kedudukan Ahok di Pertamina pun dipertanyakan orang.

Ekonom senior Dr Rizal Ramli misalnya mengatakan bahwa dirinya sudah pernah mewanti-wanti jika Ahok tidak memiliki pengalaman di bidang korporasi. “Udah pernah dinasehati Pak @RamliRizal kalau Ahok itu tdk cocok duduk di BUMN krn memang tidak  punya kemampuan/pengalaman korporasi + banyak kasus hukum. Ahok sesumbar, ternyata Pertamina  RUGI 11Trilliun ” ujar Rizal Ramli melalui Twitternya, @RamliRizal di Jakarta.

Padahal, kata Rizal Ramli, harga BBM domestik tidak turun-turun, walaupun harga minyak mentah sudah turun >50%. “Kembali terbukti apa yang disampaikan oleh bang @RamliRizal terkait Ahok,” ujarnya.

Pertamina pun didepak dari 500 Fortune Global. Seperti diketahui hanya ada 4 BUMN yang masuk rangking terbaik dunia versi FORBES yaitu Bank BRI, Mandiri, Telkom Indonesia, dan BNI.

Dalam wawancara dengan sebuah stasiun TV swasta, mantan Menko Perekonomian tersebut mengatakan, sebetulnya dari awal dirinya tidak setuju dengan penunjukkan Ahok sebagai Komisaris Utama Pertamina. Ada beberapa penyebabnya.

Pertama, karena Ahok itu mempunyai beberapa kasus keuangan. Misalnya, kasus Rumah Sakit Sumber Waras, pembelian bus dari Tiongkok, dan kasus kepemilikan tanah.

“Kasus itu menunjukkan bahwa Ahok tidak mempunyai good governance,” ujar mantan Menko Kemaritiman itu.

Kedua, kita hampir terpecah karena kasus Ahok dengan sesama anak bangsa dalam kasus 212 yang berjilid-jilid. “Kok Pak Jokowi mau pilih lagi Ahok,” ujar Rizal Ramli.

Ketiga, Ahok tidak punya pengalaman good governance yang bagus. Saya kira banyak sekali anak muda tionghoa yang memiliki pengalaman bagus dan layak diangkat. Bukan malah mengangkat Ahok yang hanya memancing keributan.

Pada saat Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta, kata Rizal Ramli, dia mengumpulkan dana non budgeter yang sebenarnya sudah dilarang oleh undang-undang. Dana non budgeter itu sudah pernah dilakukan pada era Presiden Soeharto tapi akhirnya undang-undangnya sudah dicabut. “Ini pada masa Ahok dihidupkan lagi. Jadi, Jokowi hanya mau menimbulkan masalah saja dengan mengangkat Ahok,” ujar Rizal Ramli.

Sebetulnya kalau mau, Ahok cukup saja menjadi Presiden Komisaris Agung Podomoro. Atau paling banter mengirim Ahok menjadi Duta Besar. “Karena jujur saja, saya kenal baik Ahok, dia tidak punya kemampuan untuk memimpin sebuah perusahaan sekelas Pertamina,” ujarnya.

Rizal Ramli mengatakan, dirinya mengenal beberapa orang Tionghoa yang berhasil dipromosikan. Misalnya Ignatius Jonan. Sebelumnya Jonan bekerja di City Bank akhirnya ditarik  menjadi Dirut Bahana dan akhirnya terus menanjak naik. Juga Thomas Lembong. Rizal Ramli yang memperkenalkan Thomas Lembong kepada Jokowi.

Dia mengatatakan, track record Ahok itu payah. Ketika menjadi Bupati di Belitung Timur, dia ingin menjadi gubernur dari calon independen. Dia kemudian meminta bantuan istri Ahok untuk kampanye dari gereja ke gereja.

“Jadi, nothing personal antara saya dan Ahok. Semuanya karena profesional saja,” ujar Rizal Ramli.

Rizal Ramli mengatakan, Ahok itu hanya melakukan shock therapy. Seharusnya shock therapy itu diikuti dengan pembenahan sistem.

Dikatakannya, biasanya sebuah pemerintahan itu mengalami hooney moon dulu selama beberapa bulan. “Ini pemerintahan Presiden Jokowi langsung dihantam oleh berbagai isu, seperti isu radikal. Seharusnya mari kita fokus saja pada masalah ekonomi bangsa ini,” ujarnya.

Tahun depan, Rizal mengingatkan, mungkin ekonomi kita tumbuh hanya 4 persen. Padahal kalau ekonomi kita naik dari 5 persen ke 6 persen maka itu sangat bagus karena bisa mengempesin bisul-bisul yang muncul saat sekararang ini, misalnya ada banyak perusahaan yang gagal bayar.

“Jadi mari kita fokus dengan masalah yang kita hadapi saat ini, jangan malah menciptakan masalah-masalah baru yang sebetulnya tidak perlu,” pungkasnya. (Very)

Loading...

Artikel Terkait