Nasional

Tak Kompeten Bicara Ekonomi Makro, Rizal Ramli Block Twitter Juru Bela Menkeu

Oleh : very - Sabtu, 21/11/2020 13:01 WIB

Ekonom Senior Rizal Ramli. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID – Ekonom Senior Dr. Rizal Ramli sengaja mem-block akun media sosial milik Staf Khusus Menteri Keuangan, Yustinus Prastowo. Tindakan tersebut, menurut mantan Menko Perekonomian itu, karena “juru bela” Menteri Keuangan “Terbalik” itu dinilai memiliki argumen-argumen yang tidak berbobot dan terkesan tidak mengerti makro ekonomi.

“RR sengaja blocked `Juru Bela` MenKeu Terbalik karena argumen2nya tidak berbobot, wong konsultan pajak yg ndak ngerti Makro. Padahal banyak DR2 pintar di Depkeu, mungkin ndak mau jadi penjilat,” ujar mantan Menko Kemaritiman itu melalui akun Twitternya, @RamliRizal, di Jakarta, Jumat (20/11).

Menurut Rizal Ramli yang lebih suka dipanggil tokoh pergerakan itu, padahal dirinya sedang mengertik pemerintahan Jokowi dalam menyiasati pembayaran utang luar negeri. Indonesia, katanya, menerbitkan surat utang hanya untuk membayar bunga dari utang negara.

"Terbitkan surat utang (bonds), bunganya makin mahal. Untuk bayar bunga utang saja harus mengutang lagi. Makin parah," ujar Rizal Ramli.

Menurutnya, sang juru bela Menteri Keuangan tersebut tidak berkompeten membicarakan ekonomi.

“Yg dibahas RR itu relative bonds yields, krn yilds negatif di US, Jepang, Gerrmqn dll. Kok China bisa terbitkan zero yield, Thai 3,5%, kok RI 6,5%. Juru bela pas2an gitu aja ribet 😄😄,” ujarnya.

“Juru bicara Kemenkeu tidak kompeten bicara ekonomi. Cuma bisa bicara perhitungan pajak. Yustinus (Yustinus Prastowo, red.), alumni teology & kursus pajak,” ujarnya Bang RR, sapaan Rizal Ramli.

Seperti diberitakan sebelumnya, ekonom senior itu mengkritik pemerintahan Jokowi dalam menyiasati pembayaran utang luar negeri. Indonesia menerbitkan surat utang hanya untuk membayar bunga dari utang negara.

"Terbitkan surat utang (bonds), bunganya makin mahal. Untuk bayar bunga utang saja harus mengutang lagi. Makin parah," kata Rizal dalam keterangan resminya kepada pers Jumat (20/11).

Pemerintah meminjam uang ke pihak asing yang nilainya tidak besar hanya untuk membayar utang. "Makanya mulai ganti stratetegi. Jadi pengemis utang bilateral dari satu negara ke negara lain, itu pun dapatnya recehan, itu yang bikin shock," ujarnya.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia mendapatkan tambahan utang baru dari Pemerintah Republik Federal Jerman sebesar 550 juta euro atau sekitar Rp 9,1 triliun. Pemerintah mendapatkan pinjaman ini setelah Indonesia juga mendapatkan pinjaman utang dari Pemerintah Australia seniai 1,5 miliar dolar Australia atau sekitar Rp 15,4 triliun. (Very)


Loading...

Artikel Terkait