Gaya Hidup

Elevation Records Merilis Piringan Hitam Rotor Behind the 8th Ball

Oleh : luska - Minggu, 03/01/2021 19:14 WIB

Jakarta, INDONEWS.ID - Indie label Elevation Records merilis ulang debut album Rotor - Behind the 8th Ball dalam format piringan hitam. Album yang direkam pada 1992 di studio Triple M, Jakarta ini, pertama kali dirilis oleh Airo Records dalam format kaset— menjadi salah satu pionir, album thrash metal Indonesia sepanjang masa. 

Adalah Irfan Sembiring yang mendirikan Rotor pada 1991, setelah ia meninggalkan band sebelumnya, Sucker Head (diambil dari nama merk korek api batang Sakerhets-Tandsticktor), yang terbentuk sejak 1989. Pada masa awalnya, Sucker Heads dikenal dari pertunjukan underground di pub kecil bernama Pid Pub, juga pentas-pentas sekolah dan kampus di Jakarta, dengan membawakan lagu-lagu dari band thrash metal asal Jerman, Kreator, serta kemudian juga nomor-nomor dari Sepultura. Berambisi memiliki karya album dari lagu-lagu ciptaan sendiri, Irfan meninggalkan Sucker Head dan membentuk Rotor sebagai kendaraannya.  

Pada awal 1990an, thrash metal memang sudah digandrungi oleh anak-anak muda di Indonesia, tapi masih tidak cukup menggiurkan bagi industri rekaman. Hingga kemudian tersiar kabar bahwa Airo akan menjadi promotor untuk konser band thrash metal besar asal Brasil, Sepultura di Indonesia. Irfan Sembiring dipertemukan oleh Pay (saat itu gitaris Slank dan produser rekaman Andy Liany) dengan pihak Airo, mencoba peruntungan bagi Rotor untuk bisa membuka pertunjukan Sepultura di Stadion Lebak Bulus, Jakarta. Ternyata posisi band pembuka telah diisi oleh Edane, band rock bentukan Ecky Lamoh dan Eet Sjahranie. Pembicaraan justru bergulir menjadi kemungkinan bagi Rotor untuk merekam album bersama Airo Records.

Saat itu formasi Rotor adalah Irfan Sembiring (vokal, gitar), Judapran (bas), dan Bakar Bufthaim (drum). Selama sekitar sebulan mereka berlatih secara intensif, melanjutkan menulis lagu untuk persiapan merilis album. Sejalan dengan waktu, Rotor juga diperkuat oleh vokalis Jodie Gondokusumo.

Sekedar catatan latar belakang personil, pemain bas Judapran sebelumnya dikenal sebagai personil band Razzle, Bakar bersama One Feel Band (One Feel adalah nama studio latihan musik di Jakarta), sementara Jodie kemudian juga dikenal sebagai vokalis band Getah. 

Kehadiran album Rotor, “Behind the 8th Ball” semakin dikenal secara nasional berkat keterlibatan mereka menjadi band pembuka konser Metallica di Jakarta, 1993. Saat itu thrash metal di Indonesia bisa dibilang sedang berada di puncak tertingginya. Album Rotor, dengan paket thrash metal yang utuh (termasuk dengan presentasi sampul album dan foto band-nya), otomatis menjadi sesuatu yang tersendiri bagi anak muda yang menyukai musik keras yang ekstrem.

Dalam album “Behind the 8th Ball”, Irfan Sembiring banyak menulis riff gitar yang agresif, cepat, seringkali bersama hitungan ketukan ganjil, yang direspon dengan tidak kalah brutalnya oleh pemain bas Judapran, drummer Bakar, juga Jodie saat mengisi vokal. Lagu-lagu seperti “Behind the 8th Ball”, ‘Nucklear is the Solution…?”, “Hate Monger”, dan terutama “Pluitphobia” menjadi klasik hingga hari ini.  Rotor tidak hanya menarik dari segi eksplorasi musik, melainkan juga kala menulis lirik—hal-hal yang menjadi keistimewaan Rotor pada seluruh katalog rekaman mereka. 
    
Tak lama selepas debut albumnya beredar, Rotor hijrah ke Amerika Serikat, mencoba peruntungan untuk bisa merilis album di sana. Menemukan kerasnya persaingan band dan industri musik di Amerika, dengan visa yang habis masa berlakunya, para personil Rotor kembali ke Indonesia. Kemudian berturut-turut Rotor merilis album Eleven Keys (1995), New Blood (1996), dan Menang (1997), dengan Irfan masih beberapa kali mencoba memasarkannya di Amerika Serikat seusai merampungkan rekaman di Jakarta.

Pada album-album berikutnya, eksplorasi musik Rotor terus melebar dengan banyak memasukkan unsur industrial. Bukan hanya itu, pada sampul albumnya sekalipun Rotor seperti selalu mencari kemungkinan, seperti misalnya pada album New Blood yang menghadirkan foto masa kecil drummer Bakar Bufhaim di Probolinggo pada 1972. 

Satu hal yang paling “gila” adalah saat Rotor mengundang empat band sekaligus, para eksponen dari grindcore, thrash metal, hingga death metal—Tengkorak, Betrayer, Trauma, dan Coorporation of Bleeding—untuk bergantian bermain, merekam satu lagu bersama yang diberi judul “Metalik Klinik”, termuat dalam album Menang. Rekaman lagu itu dimaksudkan Irfan untuk membuka jalan terwujudnya visi merilis album kompilasi band-band ekstrem di Indonesia yang beredar nasional bersama perusahaan rekaman besar. Ternyata upaya tersebut berhasil, hingga lahirlah album kompilasi legendaris Metalik Klinik I pada 1997, di mana Irfan dengan bendera RotorCorp bertindak sebagai produsernya, menggandeng Musica Studio`s, yang kemudian menjadi serial album kompilasi yang banyak diminati anak muda. Pada sampul albumnya, kembali Irfan mencari kemungkinan, dengan menghadirkan lambang hati/love di bidang hitam untuk sebuah rekaman musik ekstrem.

Dari industri musik, Irfan Sembiring kemudian menempuh jalan dakwah, sibuk mengunjungi satu tempat ke tempat lainnya. Sementara waktu berjalan, satu hal yang tak bisa dipungkiri, Rotor yang dibentuknya pada 1991 adalah nama yang telah tertancap dalam. Sebuah album penghormatan bahkan pernah dirilis pada 2002, “A Tribute to Rotor”, yang diisi oleh sejumlah band ekstrem di Indonesia. 

Dalam wujud rekaman musik, segala langkah Irfan Sembiring yang menyentuh banyak hal bersama Rotor, berawal dari Behind the 8th Ball, salah satu album cetak biru rekaman metal di Indonesia. Kini album tersebut hadir kembali dalam wujud piringan hitam yang dicetak terbatas, hanya 313 keping, dengan kualitas suara dan kemasan yang cermat diperhatikan oleh Elevation Records.

Satu per satu penggemar Rotor mulai memutar kembali album legendaris itu. (Harlan Boer)

Loading...

Artikel Terkait