Nasional

Kisah Rizal Ramli dan Sugriwa, Anak Nelayan yang Tidak Mampu Biayai Sekolah

Oleh : very - Senin, 03/05/2021 19:48 WIB

Rizal Ramli-Mahasiswa. (Foto: Ilustrasi)

Jakarta, INDONEWS.ID -- Nama Rizal Ramli sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar telinga orang Indonesia. Dia merupakan sosok utama dari kelompok oposisi belakangan ini. Bahkan, tokoh yang lebih suka disebut sebagai tokoh pergerakan ini, menjadi sasaran empuk buzzer pemerintah, yang selama ini senang melakukan puji-puji terhadap pemerintah.

Para buzzer tersebut mengira bahwa dengan melakukan serangan terhadap Rizal Ramli, dia akan bungkam. Namun, mereka rupanya salah sangka.

Melakukan kritik sudah mendarah daging dalam diri Rizal Ramli.

Memang, hal itu bisa dipahami karena Rizal Ramli sudah terbiasa dengan kehidupan yang getir. Karena itu, dia bersaksi bahwa dirinya tidak bisa tinggal diam ketika menyaksikan berbagai kemeleratan yang terus dialami oleh sesama saudaranya, rakyat Indonesia yang hidupnya menderita.

 

Tokoh di Balik Wajib Belajar 6 Tahun

Orang selama ini lebih mengenal Rizal Ramli sebagai ekonom senior. Padahal, segala bidang kehidupan dilahapnya. Salah satunya yaitu pendidikan.

Asal tahu saja, Rizal Ramli adalah aktor di balik Wajib Belajar 6 tahun yang menjadi kebijakan Ode Baru.

Ketika masih menjadi mahasiswa, Rizal memiliki perhatian yang besar terhadap dunia pendidikan di Indonesia.

Hal itu diungkapkannya kepada redaksi Bicaralah.com, saat berbincang-bincang dengannya pada Minggu (2/5) di kediamannya di kawasan Bangka, Jakarta Selatan. Rizal Ramli bicara banyak hal, mulai dari isu politik, ekonomi, korupsi dan HAM.

Dia mengisahkan bahwa saat masih berada di bangku kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB),  Rizal Ramli pernah mendapat kesempatan berkunjung ke Jepang. Simple, dia kagum dengan kemajuan negara Sakura itu, padahal, negara itu banyak sekali wilayah yang tidak subur dan bebatuan.

Kenapa? “Bukan tanpa sebab. Aneh dong, bagaimana tidak, 2/3 tanahnya batu-batuan tapi bisa kasih makan penduduknya, saya berfikir…. kok Jepang bisa lebih maju dari kita (Indonesia),” ujarnya.

Karena itu, saat dirinya kembali ke Indonesia, mantan Menko Perekonomian itu bersama teman-teman sempat melakukan perjalanan ke beberapa wilayah miskin di Indonesia. Salah satunya pesisir pantai, dari utara Jawa hingga Lombok.

“Kenapa pesisir pantai, karena pada umumnya, daerah ini memiliki basis masyarakat kurang mampu. Namun, sampai di daerah Tegal, Jawa Tengah, saya bertemu dengan anak seorang nelayan bernama Sugriwa, kalau agak salah saat itu usianya 9 tahun. Sugriwa ini tidak sekolah karena orang tuanya tak punya uang untuk bayar biaya pendidikan. Atas dasar inilah kami merasa terpukul, agar bagaimana kita punya solusi untuk dunia pendidikan di Indonesia,” ujarnya.

Maka, tak lama setelah itu, Rizal Ramli bersama kawan-kawan membuat “Gerakan Anti Kebodohan” yang bertujuan menyindir pemerintah.

“Bayangkan… saat itu kurang lebih ada sekitar tujuh juta anak Indonesua tidak bisa sekolah,” ujarnya.

Saat itu, kata Rizal Ramli, sebagai pimpinan mahasiswa di ITB, mereka mengundang penyair WS Rendra untuk datang ke ITB. Renda waktu itu menghasilkan puisi “Sebatang Lisong”. “Kami juga undang sutradara terkenal Sjuman Jaya, dan akhirnya melahirkan film ‘Yang Muda Yang Bercinta’,” ujarnya.

Dia mengatakan, akibat mendapat tekanan keras dari para mahasiswa pemerintahan Soeharto akhirnya mengeluarkan Undang-Undang (UU) terkait wajib belajar sembilan tahun.

“Nah, akibat pressure (tekanan-red) inilah pemerintah akhirnya mewajibkan belajar sembilan tahun, sehingga anak usia sekolah bisa masuk SD. Tapi gak cukup sampai disini saja, karena kita sebetulnya butuh sekolah gratis, karena masih banyak sekali masyarakat Indonesia ini yang berada di bawah garis kemiskinan,” ujarnya.

 

Pemerintah Tak Punya Metode

Rizal Ramli mengatakan, Pemerintah saat ini sepertinya tidak punya metode, atau cara yang betul-betul bisa membuat anak-anak bisa mendapatkan hak pendidikan.

“Lihatlah saat ini sekolah online, apakah di daerah semua punya handphone, bagaimana dengan jaringan, bagaimana dengan kondisi ekonomi masyarakat, miris banget,” ujarnya.

“Saya ini, sejak kecil sudah tidak punya orang tua, tinggal sama nenek saya, di Bogor, Jawa Barat, sekolah dan kuliah, saya mencari bagaimana caranya saya bisa menempuh kuliah,” tambahnya.

Kemudian, Rizal Ramli juga pernah membuka kelas untuk ekspatriat saat dirinya masih kuliah. Hal itu, katanya, karena bahasa Inggrisnya bagus. Karena itu, dia mampu mengajarkan para ekspatriat tersebut bahasa Indonesia. Hal ini, katanya, menjadi salah satu modal dirinya menempuh kuliah.

“Sampai saat ini, saya masih merasa miris melihat anak-anak masih gak mendapatkan hak pendidikan seperti apa yang didapat oleh anak yang orang tuanya mampu,” ujarnya.

“Saya pengen kita ubah regulasi pendidikan ini, menjadi sekolah gratis. Karena itu, saya ingin kita buat Undang-Undang Wajib Belajar 12 Tahun hingga SMA. Biar generasi muda kita bisa maju, Indonesia bisa bangkit dan kita kembalikan marwah bangsa kita ini sebagai bangsa yang besar,” pungkasnya. (Very)

 

Loading...

Artikel Terkait