Bisnis

Ini Hitung-hitungan Rizal Ramli Jika Pemerintah Mengambil Opsi Lockdown

Oleh : very - Senin, 26/07/2021 21:23 WIB

Ekonom senior Dr. Rizal Ramli. (Foto: Ist)

 

Jakarta, INDONEWS.ID – Ekonom senior Dr. Rizal Ramli membagikan rumus atau tips untuk mendapatkan simpati dari masyarakat. Tips tersebut dibagikan khususnya kepada pemerintah sehingga bisa mengendalikan rakyat dari tindakan atau hal-hal yang merugikan masyarakat lain selama masa pandemi ini.

"Rumus mendapatkan simpati masyarakat: Kalau Rakyat Perutnya Kenyang, Hatinya Tenang dan Fikirannya gembira begitupun sebaliknya, Kalau Perutnya Kosong yah fikirannya dan hatinya bisa kemana mana dan bisa berpotensi melakukan hal hal yang tidak di inginkan," ujar tokoh pergerakan itu dalam acara Himpunan Mahasiswa Islam, pada hari ini, Senin (26/7).

Seperti diketahui, saat ini ekonomi masyarakat terjepit sebagai imbas dari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) oleh pemerintah. Masyarakat di berbagai daerah sudah berteriak minta tolong agar pemerintah membuka kegiatan masyarakat. Namun, Presiden Joko Widodo kembali memberlakukan PPKM hingga 2 Agustus mendatang.

Karena itu, terkait PPKM tersebut, mantan Menko Perekonomian itu sudah jauh-jauh hari meminta agar pemerintah memberlakukan lockdown. Dengan diberlakukannya lockdown maka pemerintah berkewajiban memberi makan dan pegobatan kepada rakyatnya. Namun, alih-alih melakukan lockdown, pemerintah malah terus mengubah kebijakannya terkait pandemi.

“Solusi untuk mempercepat pemutusan mata rantai covid-19 secara efektif iyalah Lock Down ... Pun Kalau Ada Varian Baru muncul lagi Yah Lock Down lagi, Gitu Aja Kok Repot. Tapi jangan pelit sama rakyat, kasih makan yg ndak mampu !" ujar mantan Menko Kemaritiman tersebut.

Dia mengatakan, jika ditanyakan kepada rakyat, mau tidak mereka berdiam di rumah selama satu bulan saja dan diberi makan oleh pemerintah, maka pasti jawabannya mereka mau.

“Secara random tanya sama rakyat dan pedagang kecil, ‘Mau ndak diam di rumah saja sebulan, diberi makanan dan obat klo lock-down? Jawabnya,’Mau banget bang, kapan lagi kita bisa kelonan sama bini, main sama anak2!’. As simple as that - cuman ono ndak mau, pelit sama rakyat,” ujarnya.

 

Hitung-hitungan Lockdown

Jika membuat perhitungan pengeluaran pemerintah dari kebijakannya melakukan lockdown, maka, kata mantan Kepala Bulog itu, sebenarnya tidak begitu mahal. Daripada pemerintah menghabiskan 1035 triliun selama ini, lebih baik pemerintah segera melakukan lockdown.

“Nolong rakyat susah kok kerugian? Untuk lock down sebulan, kasih makan 70 juta keluarga a Rp1,5 juta cuman Rp105T. Klo lock down 3 bulan, hanya 315T + obat 100T. Total hanya 415T. Dasar pelit sama rakyat ! Klo oligarki, langsung kasih berbagai keringanan dan kemudahan. Payah !,” kata Rizal Ramli.

Mantan penasihat ekonomi Fraksi ABRI di DPR RI pada era Orde Baru itu mengatakan bahwa seluruh pemerintahan di dunia ini menggunkan strategi lockdown on-off dan vaksinasi dalam penanganan pandemi Covid-19. Karena itu, mereka lebih mudah mengendalikannya.

“Seluruh dunia pake lock-down on-off dan vaksinasi. Lebih cepat mengendalikan covid. Ekonomi bisa pulih lebih cepat ! Cara2 lain yg bertele-tele, hanya gonta-ganti istilah, hanya akan membuat biaya sosial, finansial dan ekonomis berkali2 lebih mahal ! 2020: habis 1035T, hasil nol!,” ujar  anggota tim panel penasihat ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu. (*)

Loading...

Artikel Terkait