Bisnis

Ini Analisis Rizal Ramli Terkait Rusaknya Sistem Pertanian yang Sebelumnya Pernah Bagus

Oleh : very - Rabu, 04/08/2021 11:58 WIB

Ekonom Senior Rizal Ramli bersama para petani saat panen raya. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID -- Ekonom senior Rizal Ramli mengatakan sebenarnya meningkatnya minat kaum muda menjadi petani saat ini merupakan angin surga bagi pertanian di dalam negeri. Namun memang, ada banyak alasan mereka beralih ke sektor pertanian tersebut.

Misalnya, pandemi Covid-19 ini mengakibatkan banyaknya sektor industri lain tutup dan hanya sektor pertanian, juga perkebunan, yang masih dapat berkibar.

“Bisnis juga payah, perhotelan juga payah. Para profesional ini akhirnya tidak punya pilihan, akhirnya pulang kampung dan mencoba jadi petani,” kata ekonom senior Dr. Rizal Ramli dalam acara webinar yang digelar Selasa beberapa waktu lalu.

Mantan Kepala Bulog ini mengatakan, kebanyakan petani Indonesia tidak memiliki tanah. Karena itu petani kita hanya seorang buruh tani. Mereka tidak punya kartu kepemilikan tanah.

“Padahal kalau mau dapat beli pupuk, harus pakai kartu pupuk, mesti menunjukkan bukti kepemilikan,” ujarnya.

Mantan Menko Ekuin ini melanjutkan, petani kita rata-rata sudah di umur 50 tahun. Jadi untuk mengurus akses ke perbankan untuk permodalan mereka merasa minder.

“Belum lagi di tanya-tanya segala macam hal,” ujar Rizal Ramli.

Karena itu, dirinya merasa heran padahal Indonesia pernah memiliki sistem yang bagus. Namun kemudian dirusak. Analisanya, rusaknya sistem itu karena anak-anak muda di sekitar Presiden Jokowi sibuk “main kartu”, termasuk kartu pertanian.

“Dulu kan sudah ada sistem KUD yang pupuk dijual di situ, bibit di jual di situ, bahkan kredit bisa dapat di situ. Kok sistem yang bagus ini, yang sudah jalan ini, mau diobrak-abrik karena hanya sejumlah milenial ingin mencari untung dari permainan kartu,” ujar mantan Menko Kemaritiman itu.

“Akibatnya, selain subsidi pupuk dikurangi oleh pemerintah, akibatnya kebanyakan petani itu malas membeli pupuk yang disubsidi, karena dia harus punya kartu. Dia harus ke kota bukan beli di KUD. Itulah yang menjelaskan mengapa petani kita makin miskin,” ujar Bang RR – sapaanya.

Jadi, karena mereka harus membeli pupuk yang tidak disubsidi, maka rasio harga gabah dan pupuk yang disubsidi itu kurang dari satu. “Tidak aneh nilai tukar petani dibawah angka satu. Artinya petani bukan makin kaya tapi dia makin miskin,” ujarnya.

Sebelumnya, Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan bahwa ada 3 juta petani baru yang ikut terdampak pandemi Covid-19.

Namun, begawan ekonomi itu mengatakan, hal tersebut merupakan angka yang besar. Namun dirinya percaya bahwa hal tersebut terjadi kerena industri rontok saat ini. (*)

 

Loading...

Artikel Terkait