Bogor, INDONEWS.ID --- Guru Besar IPB University Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Prof Daniel Murdiyarso, mengomentari terkait Konferensi para pihak ke-26 dalam Conference of Parties (COP26) untuk Konvensi Perubahan Iklim di Glasgow pada Oktober hingga November 2021 mendatang.
Konferensi tersebut sangat penting sebagai wujud dan komitmen para pihak dalam menurunkan gas emisi menurut Nationally Determined Contributions (NDC). NDC akan dibandingkan dengan Laporan Panel Perubahan Oklim (Inter-Governmental Panel on Climate Change, IPCC) yang ke-6.
Prof Daniel yang pernah menjadi penulis utama dalam kajian IPCC tersebut mengatakan ada tiga kelompok kerja dalam IPCC working group. Yakni terkait dengan sains, adaptasi dan dampak perubahan iklim, dan mitigasi dan pembangunan ramah lingkungan dan rendah karbon.
“Hanya working group pertama yang baru memberikan laporan AR6 (Assesment Report) setiap lima tahun,” ujarnya. AR6 ini, lanjutnya, dinilai menarik untuk dikaji dalam Konferensi Glasgow karena berbeda dengan AR5.
“Lima tahun lalu, kenaikan suhu bumi diharapkan hanya naik 0,5 derajat. Kini menurut IPCC, kenaikannya hampir 1,1 derajat,” sebutnya dalam talkshow interaktif “Menuju Glasgow tanpa Galau” yang diselenggarakan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), CIFOR, dan IPB University, (07/10).
Sosok yang pernah menjabat sebagai Deputi Menteri Lingkungan Hidup sekaligus menjadi National Vocal Point untuk Konvensi Perubahan Iklim selama dua tahun ini menyebutkan penurunan emisi ke depan akan semakin berat. Menurut Climate Action Tracker, dibutuhkan penurunan emisi sekitar 5,5 M ton per tahun untuk mencapai 1,5 derajat pada tahun 2030.
Ditambah lagi, katanya, dengan biaya penurunan emisi yang terbilang mahal. IPCC report tersebut dapat dikatakan sebagai wake up call karena upaya penurunan emisi belum sampai target manapun. Menurutnya, terdapat hal yang menarik dan relevan yakni terjadinya global cooling yang disebabkan oleh polusi aerosol. Menurutnya, peristiwa tersebut bukanlah kompensasi sesungguhnya IPCC menekankan bahwa dampak polusi jauh lebih buruk walau suhu turun ketimbang tidak ada polusi.
Di dalam IPCC report juga terdapat beberapa skenario (SRS) yang dideskripsikan dan dapat dipilih oleh negara. SRS menunjukkan seberapa serius upaya negara dalam menurunkan emisi dan seberapa besar ongkosnya. “Mengingat biaya penurunan emisi karbon yang mahal, sekitar 100 hingga 150 dollar, maka penurunan emisi karbon tidak cukup hanya 5 dollar, sesuai pada harga pasaran karbon dunia. Dengan menaikan harga karbon dari land sector mungkin kita bisa membantu sektor energi,” tambahnya.
Ia turut bergembira bahwa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mampu merengkuh banyak sektor, tidak hanya kehutanan. Sektor kehutanan yang sudah memimpin di Indonesia dan bahkan dunia harus lebih memiliki kebanggaan dan kepercayaan diri untuk menarik sektor lain. ***