Nasional

Rembug Duta Baca, Budaya Literasi Adalah Keharusan, Bukan Pilihan

Oleh : Marsi Edon - Kamis, 09/12/2021 21:44 WIB

Webinar Rembug Duta Baca se-Indonesia.(Foto:Perpustakaan Nasional)

Jakarta, INDONEWS.ID - Duta Baca merupakan role model dan katalisator kampanye budaya baca. Inovasi program dan kreatifitasnya dalam upaya meningkatkan budaya baca selalu dinantikan.

Namun saat melaksanakan tugas tentu tidak selalu berjalan mulus. Acapkali perbedaan budaya menjadi hambatan. Maka, penting untuk menyamakan persepsi dan bersinergi diantara sesama pegiat literasi.

"Literasi sudah mengalami perkembangan pesat. Masyarakat dan negara akan survive ketika mempunyai budaya literasi yang kuat, mampu berkompetisi, meningkatkan ekonomi dan menjadi produktif sehingga kesejahteraan terus meningkat,” imbuh Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpustakaan Nasional Adin Bondar pada Webinar Rembug Duta Baca se-Indonesia, pada Kamis, (9/12/2021).

Literasi merupakan bagian terpenting untuk terus digerakkan. Oleh karena itu, gerakan membaca dan literasi harus diikrarkan sebagai gerakan sosial (social movement) yang tidak dibatasi. Budaya literasi adalah budaya kolektif yang telah menjadi kebutuhan di tengah masyarakat.

"Kegemaran baca dan budaya literasi adalah keharusan, bukan pilihan,” tambah Adin.

Laju perkembangan Iptek ditengah ekonomi modern telah membuka mata bahwa pengetahuan adalah kunci penggerak utama ekonomi. Sumber daya pengetahuan tidak akan habis, beda dengan kekayaan alam.
Dampak literasi secara makro bukan hanya sebatas pada pertumbuhan ekonomi melainkan juga soal kepekaan dan tanggung jawab sosial.

Saking pentingnya pertumbuhan literasi, Perpusnas mengangkat topi terhadap peran aktif para pegiat literasi, bunda literasi, dan duta baca.

Tidak ada alasan bagi Perpusnas untuk tidak memperkuat peran dan posisi mereka. Data Perpusnas mencatat tidak kurang 16.331 pegiat literasi tersebar se-antero negeri dan ini adalah potensi luar biasa.

"Aktifitas mereka tidak bisa parsial, dan peran Duta Baca Indonesia disini adalah memformulasikan agar tercipta ruang berbagi pengalaman, sharing knowledge agar setiap program kegiatan memiliki makna dan derap langkah yang sama,” jelas Adin.

Ketua Paguyuban Duta Baca Provinsi Jawa Barat Imam Muhamad Agung Fauzy menambahkan, setiap aktivitas literasi memerlukan banyak pelibatan. Maka itu, sinergi mutlak diperlukan. Iaberalasan ikhtiar ini dilakukan agar perkembangan dan pertumbuhan literasi merata.

"Kampanye literasi tidak lagi bermain pada forum-forum diskusi, melainkan aksi nyata, seperti yang saat ini dirintis bersama dinas perpustakaan daerah, yakni masuk ke ranah pendidikan, melakukan safari literasi di hari tertentu serta mengangkat duta baca dari berbagai jenjang pendidikan dasar hingga menengah atas,” beber Imam.

Sementara itu, Duta Baca Provinsi JawaTimur Heraldha Savira, sependapat bahwa para pelajar harus direkrut untuk bersinergi dengan masyarakat. Faktanya, sejumlah ide-ide maupun program literasi mereka yang sangat relate dengan kebutuhan masyarakat.

"Apalagi di tengah kondisi pandemi, banyak komunitas atau wilayah yang bisa mereka jamah melalui sejumlah platform media sosial. Dan ini sangat membantu perkembangan literasi,” ucap Sasa, sapaan akrab Heraldha Savira.

Sasa mencontohkan salah satunya dongeng online yang rutin diselenggarakan setiap minggu secara live melalui Instagram. Tidak hanya itu, Sasa yang juga seorang pengajar musik juga membantu mengenalkan lagu-lagu anak daerah dan nasional yang saat ini mulai jarang didengar generasi anak.

Namun, untuk program di 2022, Sasa yang juga berprofesi sebagai News Anchor mengaku akan memfokuskan pada upaya menangkal informasi yang mengandung hoaks.

Di zaman digital, informasi amat pesat beredar tetapi belum tentu memiliki kualitas kebenaran yang kuat. Ini lah tantangan ketika bermain di dunia digital.

Mengomentari program dari tiap duta baca daerah dan pegiat literasi, Duta Baca Ind0nesia Gol A Gong mengaku akan melakukan beberapa evaluasi agar nanti di tahun berikutnya tercipta kesamaan persepsi dan derap langkah yang seragam.

Gol A Gong secara tersirat akan memprogramkan pelatihan-pelatihan menulis, aktif menggunakan berbagai platform media, melibatkan perpustakaan sebagai ruang inklusi sosial, dan mendorong dana masyrakat (CSR) untuk memperkuat literasi.*

Loading...

Artikel Terkait