https://vinosdeabona.com/slot-gacor/ https://www.tpcd.org.tr/slot-deposit-pulsa/ https://healthcare.skho.moph.go.th/labor-care/uploads/slot-deposit-pulsa/ https://seoscaning.com/slot-deposit-dana/ http://www.info-secur.ru/old/slot-deposit-pulsa-tanpa-potongan/ http://academia.uniminuto.edu/becassp/notas/jasabola/

Nasional

Luhut Soal Capres Non-Jawa, Rizal Ramli: Itu Karena Sistem Pilpres Tidak Kompetitif dan Oligopolitik

Oleh : very - Kamis, 22/09/2022 18:42 WIB

Ekonom Senior, Dr. Rizal Ramli. (Foto: Ist)

JAKARTA, INDONEWS.ID - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Jenderal TNI (Purn.) Luhut Binsar Pandjaitan berbicara tentang tokoh luar Jawa yang mencalonkan diri sebagai calon presiden. Menurut Luhut, seseorang yang berasal dari suku di luar Pulau Jawa harus tahu diri karena tidak mungkin terpilih saat ini.

"Apa harus jadi presiden aja kau bisa mengabdi? Harus tahu diri juga lah, kalau kau bukan orang Jawa," ujar Luhut saat berbincang dengan pengamat politik Rocky Gerung, seperti dikutip dari akun Youtube RGTV Channel, Rabu (21/9).

"Ini bicara antropologi. Kalau Anda bukan orang Jawa dan pemilihan langsung hari ini - saya enggak tahu 25 tahun lagi - udah lupain deh. Enggak usah kita memaksakan diri kita, sakit hati," ujarnya, seperti dikutip dari CNNIndonesia.

Menanggapi pertanyaan Luhut tersebut, tokoh nasional yang juga ekonom senior Dr. Rizal Ramli mengatakan bahwa pernyataan tersebut ngasal.

“Pernyataan LBP ngasal. Orang luar Jawa susah jadi Presiden karena sistem pemilihan Presiden Indonesia tidak kompetitif, oligapolistik yang sengaja direkayasa untuk menguntungkan boneka oligarki. Kalau sistemnya kompetitif tidak ada lagi pembelahan Jawa vs Non-Jawa,” ujar mantan Menko Perekonomian ini dalam akun Instagramnya, dipantau di Jakarta, Kamis (22/9).

Mantan Menko Kemaritiman itu mengatakan bahwa pada masa pergerakan kemerdekaan, hal seperti ini tidak pernah terjadi. Jika hal itu terjadi maka sulit dibayangkan para tokoh bangsa bersatu seperti dalam Sumpah Pemuda 1928.

“Pada masa pergerakan kemerdekaan pertentangan seperti ini tidak pernah terjadi. Sulit dibayangkan peristiwa seperti Sumpah Pemuda 1928 dapat berlangsung apabila para tokoh saat itu membatasi diri dengan dikotomi Jawa-non Jawa,” ujarnya.

Mantan Kepala Bulog ini mengatakan, Presiden RI ketiga, Prof BJ Habibie, non Jawa namun bisa berperilaku sangat demokratis, dan menjadi problem solver.

“Prof BJ Habibie, Presiden RI ke-3 non-Jawa unggul, orang Pare-Pare, demokratis, problem-solver, berfikir dan bekerja cepat dan nyaman di lingkungan internasional !! Tidak feodal, tidak mencla-mencle, bukan boneka oligarki !,” kata Bang RR – sapaan Rizal Ramli.

Membandingkan dengan Presiden Joko Widodo yang berasal dari suku Jawa, kata Rizal Ramli, malah mengorbankan rakyatnya sendiri dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

“Hari ini @jokowi sibuk prioritaskan proyek abal2 ‘IKN’ seolah-olah tidak sadar Indonesia sedang krisis bayar utang (cicilan pokok 400T, bunga 405T. 1/3 APBN) sehingga rakyat dikorbankan dgn kenaikan harga BBM, pajak, listrik. Situ jangan egois dong, sono belajar dari Presiden Habibie,” pungkasnya.

Dalam dialog tersebut, Rocky Gerung kemudian mengamini pernyataan Luhut dengan mengatakan bahwa itulah fakta antropologi yang ada di Indonesia. Rocky juga menilai keadaan tersebut menjadi salah satu aspek yang membatalkan ambisi orang luar Jawa menjadi presiden.

Luhut menimpali dengan mengatakan dirinya termasuk orang yang nyaris tak mungkin jadi Presiden karena keadaan tersebut. Menko Marves itu pun hanya dapat menerima situasi sehingga memilih menjauh dari keriuhan bursa calon presiden.

"Antropologi kita basisnya adalah ethnicity, dan faktualitas itu yang kadangkala membatalkan ambisi orang menjadi presiden," kata Rocky Gerung.

"Ya termasuk saya. Saya double minoritas. Sudah Batak, Kristen lagi. Jadi saya bilang sudah cukup itu, kita harus tahu," timpal Luhut. ***

Loading...

Artikel Terkait