Bisnis

Rizal Ramli: Membandingkan Utang RI dengan AS dan Jepang Itu Super Ngawur

Oleh : very - Senin, 26/09/2022 14:50 WIB

Ekonom Senior Rizal Ramli melalui akun Twitter pribadinya, @RamliRizal di Jakarta, Senin (26/9). (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID - Ekonom senior Rizal Ramli mengatakan bahwa dirinya merasa heran jika pemerintah membandingkan utang negara ini dengan utang sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang.

Pemerintah misalnya mengatakan bahwa utang negara Indonesia terbilang masih aman jika dibandingkan dengan utang sejumlah negara maju.

“Saya merasa heran jika ada yang membandingkan utang Indonesia dengan Amerika Serikat hingga Jepang yang seolah-olah utang Indonesia masih terbilang  aman,” ujar mantan Menko Perekonomian di era Presiden Gus Dur itu melalui akun Twitter pribadinya, @RamliRizal di Jakarta, Senin (26/9).

Mantan Menko Kemaritiman itu mengatakan bahwa membandingkan utang RI dengan utang sejumlah negara maju tersebut adalah tindakan super ngawur.

“Itu perbandingan super ngawur. Karena AS bisa nyetak dollar beberapa aja karena dia super power. Begitu hegemoni super power-nya sudah engga ada ya kolaps. Jepang beda karena sebagian besar utangnya adalah utang dalam negeri. Aset dia menghasilkan devisa banyak sekali, kalau kita (Indonesia) negatif,” ujar Rizal Ramli.

Bang RR – sapaan Rizal Ramli – mengatakan bahwa indikator kemampuan membayar utang itu adalah ‘Debt Service Ratio’, ratio cicilan terhadap expor. “Debt Service Ratio Indonesia adalah 32 %, jauh diatas batas aman 20%. Srilangka 39% kena krisis ekonomi,” ujarnya.

“Kemampuan membayar utang itu bukan ratio utang terhadap GDP, Indonesia 42%, tetap tax ratio Indonesia hanya 10,5%. Standard OECD utang oleh 60% GDP asal tax ratio 36-%,” tambahnya.

Seperti dikutip dari Liputan6.com, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan atau Menko Luhut mengklaim posisi utang pemerintah masih relatif aman hingga memasuki akhir Semester I-2022. Mengutip dokumen APBN Kita, utang pemerintah disebutkan mencapai Rp 7.123,62 triliun di akhir Juni 2022.

Menko Luhut menerangkan, posisi utang pemerintah tersebut masih berkisar 41 persen dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

"Tingkat utang pemerintah Indonesia jauh lebih aman dibandingkan negara-negara di dunia. Betul Rp7000  triliun, tapi kita bandingkan itu hanya 41  persen dari PDB," ujar Menko Luhut dalam acara silahturahmi nasional Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (Ppad) di Sentul, Bogor, Jawa Barat, di tulis Sabtu (6/8/2022).

Luhut menambahkan, utang pemerintah tersebut juga bukan merupakan  uang hilang. Mengingat, dana utang digunakan untuk membiayai pembangunan sejumlah proyek strategis.

"Angka (utang) itu jumlahnya dibayar oleh proyek-proyek yang bagus, bukan uang yang hilang, semua di bayar pembangunan," ujarnya.

Luhut melanjutkan, saat ini,  porsi kepemilikan asing terhadap Surat Berharga Negara (SBN) juga terus mengalami penyusutan. Yakni, dari 41,3 persen menjadi 16,1 persen.

"Sehingga ketika ada masalah ekonomi dunia, kita bisa memelihara rupiah berkisar  Rp 14.000 sekian terhadap dolar AS," ujarnya. ***

Artikel Terkait