Jakarta, INDONEWS.ID - Cinta negara bagian dari iman. Resolusi jihad pun diteriakan hadratussyeikh Hasyim Asy`ari tgl 22 Oktober 1945.
Ketika Republik Indonesia yang masih bayi terancam oleh kembalinya sekutu. Umat Islam dalam jangkauan radius 94 kilometer kena fardhu ain (wajib pribadi) jihad membela tanah air.
Di luar radius 94 km, kena fardhu kifayah (boleh diwakilkan sebagian warganya). Serentak warga NU di Surabaya dan sekitarnya turun bersama sama.
25 Oktober 1945 ribuan santri sudah mulai syahid. Puncaknya tgl 10 November 1945 yang menewaskan Jendral Malaby sebagai komandan sekutu.
Nah tanggal resolusi jihad tgl 22 Oktober itulah yang dipilih pemerintah untuk di jadikan hari santri Nasional yang awal mulanya sangat ditentang politisi PKS Fahri Hamzah.
Ketika Presiden Jokowi menerapkannya tahun 2015, karena jejak sejarah sudah sangat lama terpinggirkan.
Pesantren memang dikenal dunia sebagai salah satu model pendidikan berbasis nilai paling masif di dunia. Dari 32.000 pesantren, 26.000 merupakan pesantren dalam jaringan NU.
Hari ini dan kedepan pesantren menghadapi tantangan besar perubahan zaman, yang membawa kebutuhan yang berbeda. Yang dahulu cuma bergumul dengan ilmu ilmu agama, hari ini mereka dituntut juga kecerdasan nya memperoleh ilmu ilmu umum.
Ilmu kesejahteraan, kesehatan, pengelolaan lingkungan dan lain lain menjadi penting untuk dikembangkan.
Setiap zaman membawa tantangannya membawa jihadnya, dahulu menjaga kemerdekaan. Hari ini para santri diminta berjihad membawa dan menjaga wajah Islam ramah buat negara tercinta, bukan Islam pemarah dan egois. Selamat hari santri! Selamat menikmati santapan kenduri.*(Zaenal).