Nasional

Menapak Jejak Songket Minangkabau di Canduang dan Muarolabuah

Oleh : Rikard Djegadut - Sabtu, 29/06/2024 12:13 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Songket Minangkabau merupakan salah satu asset kerajinan tradisi yang pernah berjaya di masa lalu.Selain dikenal karena keindahan dan kekayaan  ragam hiasnya ,songket Minangkabau  menyimpan nilai nilai kearifan dalam setiap motifnya.

Dua sentra tenun Songket yang dulu berjaya dan besar pengaruhnya terhadap songket Minangkabau adalah Muarolabuah dan Canduang, ternyata sudah punah.

Himpunan Wastraprema sebagai perkumpulan pencinta kain Adati serta pelestari kain tradisi,membahas kepunahan dan upaya revitalisasi kain songket ini dalam bincang bincang bertema Menapak Jejak Songket Minangkabau di Canduang dan Muarolabuah dengan Direktur Studio Wastra Pinankabu Nanda Wirawan dengan moderator Nurdiyansah Dalidjo selaku Pemerhati Wastra di Museum Tekstil Jakarta Sabtu (29/6/24)

Bincang bincang yang mendapat banyak  perhatian  dari pencinta wastra ini juga bisa diikuti secara offline dan oline. Menurut peneliti wastra songket Wanda  Wirawan aktivitas menenun masa lalu berkembang pada hampir seluruh wilayah Miangkabau.Muaralabuah merupakan salah satu sentra.

Tenun yang cukup berperan dimasa lalu.keunikan ragam hias dengan tehnik menenun yang tinggi menyiratkan adanya pegaruh berbagai kebudayaan diantaranya Proto Melayu,deutro Melayu hingga kebudayaan Dongson

.Namun sayangnya  songket songket terbaik asal Muaralabuah tidak lagi ditemukan di daerah ini, baik karena perang  ataupun tersebar di berbagai  museum dan kolektor asing, demikian juga Canduang pun merupakan salah satu sentra tenun yang paling aktif dimasa lalu yang luput dari berbagai kajian tentang songket Minangkabau.Keahlian menenun songket  di daerah ini dahulunya merupakan symbol dari status sosial tertinggi bagi para perempuan Canduang.

Perguruan tenun pun tersebar pada beberapa dususn di nagari Canduang masa lalu.Motif motif yang dihasilkan dari daerah ini menyiratkan  adanya keterkaitan sejarah antara Canduang dengan Laos dan Thailand di masa lalu yang menarik untuk dikaji lebih lanjut.

Nanda Wirawan adalah salah seorang pengamat songket yang berusaha untuk merivitalisasi songket Minangkabau yang punah ratusan tahun lalu dan tidak pernah di produksi Kembali.

Namun akibat covid produksi Nanda terhenti dan Nanda Kembali sebagai petani. Akibat sulitnya bahan baku benang dan langkanya pengrajin.

Pada kesempatan itu Kepala Unit Pengelola Museum Seni Sri Kusumastuti, memberikan apresiasi yang tinggi atas gagasan  Wastraprema untuk mengundang salah aeorang pembicara yang khusus di datangkan dari Sumatra Barat dan menjelaskan lebih dalam mengenai songket Muarolabuah yang sudah punah dan bagaimana upaya merevitalisasi 

Sementara itu , Ketua Umum Himpunan Wastraprema Neneng Iskandar menyatakan sangat prihatin dengan kondisi punahnya koleksi wastra songket Minangkabau yang merupakan asset kerajinan tradisi yang pernah berjaya. Neneng Iskandar juga menyesalkan ada beberapa koleksi wastra songket yang justru dimiliki museum di Jepang dan Amerika Serikat, sedangkan kita sendiri tidak memiliknya.Karena Itu Neneng Iskandar yang juga pengamat wastra mengharapkan agar kita lebih berhati hati dan mencintai Wastra kita .Lebih lanjut Ketua Umum Wastra Prema menjelaskan  bahwa songket sebagai salah satu warisan budaya perlu dilestarikan dan diperkenalkan kepada generasi muda   yang merupakan  kekayaan budaya Miangkabau.

Kegiatan Bincang bincang ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan memperingati Ulang tahun Museum Tekstil Jakarta dan Himpunan Wastraprema ke 48 , sekaligus memperingati HUT DKI Jakarta ke 479.Saat ini di Museum Tekstil Jakarta juga sedang berlangsung Pameran Songket bertema Beragam Tradisi dan Pesona yang menggelar 80 songket  selama satu bulan dari tanggal 26 Juni  hingga 26 juli 2024.

Songket yang   dipamerkan ini  adalah   milik museum Tekstil Jakarta dan  para  kolektor, diantaranya Rumah Wastra Jo Seda, Koleksi Sri Sintasari (Neneng) Iskandar  serta Aswin Wirjadi.

 Sementara itu, tanggal 13 Juli 2024 akan dilakukan bincang bincang  Wastra Bercerita dibalik sehelai Wastar Songket dari kolektornya  dengan nara sumber Rumah Wastra Jo Seda, Neneng Iskandar, Aswin Wirjadi serta Kepala Unit Pengelola Museum Seni Sri Kusumastuti akan dilakukan live streaming zoom dan melalui youtube Wastrapema.

Selain itu juga diadakan workshop tangga 23 Juli dan 24 Juli.

Sekilas mengenai Himpunan Wastraprema (HWP)

Himpunan Wastraprema (HWP) merupakan suatu wadah  yang beranggotakan para pencinta kain adati tradisi Indonesia yang didirikan dan dilegalisasi tanggal 28 Januari 1976.

Salah satu pendirinya adalah Ir.Safioen yang ketika itu menjabat sebagai Dirjen Tekstil Departemen Perindustrian yang didukung penuh Ali Sadikin Gubernur DKI Jakarta waktu itu.

Gubernur Ali Sadikin menyediakan tempat sebuah museum, yang dikenal dengan Museum Tekstil yang diresmikan bersamaan dengan berdirinya Wastaprema  pada tanggal 28 Juni 1976 .

Koleksi pertama Museum Tekstil berupa 500 helai lembar kain yang  merupakan hibah dari beberapa  gubernur pemerintah daerah dan anggota Himpunan Wastraprema.

Misi Himpunan  Wastraprema mengangkat citra,pemahaman dan apresiasi terhadap seni budaya kain tradisional Indonesia agar semakin dikenal, diminati, dihayati dan dilestarikan untuk diwariskan ke generasi penerus.

Nama Wastraprema diambil dari Bahasa Sansekerta, Wastra berarti kain dan prema artinya cinta,

Pameran merupakan salah satu sarana untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai wastra nusantara, disamping ceramah, diskusi dan pertemuan periodik.

Ketua Umum Himpunan Wastraprema Periode 2023-2027 Sri Sintasari Iskandar atau Neneng Iskandar

 

Website Himpuna Wastraprema : www.himpunan wastraprema.com

IG Himpunan Wastraprema

Alamat : Museum Tekstil Jakarta, Jalan KS Tubun no 4 Jakarta 11420

Phone/Fax : (62-21) 5606613

Artikel Lainnya