Nasional

LANDEP: Menziarahi Sebilah Keris dalam Seutas Kehidupan Saya oleh Yoese Mariam dan Yoppy Pieter

Oleh : Rikard Djegadut - Jum'at, 09/08/2024 14:26 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Bagi Yoese Mariam, karyanya yang berjudul “Landep” merupakan penutup bagi memori-memori lama yang getir mengenai perbedaan pandangan kedua orangtuanya terhadap obyek keris, yang pada akhirnya menyebabkan perpisahan mereka.

Namun, di saat yang sama, proyek “Landep” juga menandai babak baru dalam hidup Yoese. "Ternyata, ‘Landep’ membawa saya bernostalgia dengan memori-memori baik dari masa lalu, dan dari sinilah saya melanjutkan hidup," ujar Yoese.

Untuk itu, Yoese menuangkan karyanya yang telah digarap selama dua tahun tersebut ke dalam pameran tunggal bertajuk “Landep: Menziarahi Sebilah Keris dalam Seutas Kehidupan Saya.” Pameran ini berlangsung dari tanggal 10 hingga 18 Agustus 2024 di Cemara 6 Galeri-Toeti Heraty Museum.

 

Pameran ini dikuratori oleh Yoppy Pieter dan menampilkan 33 foto kombinasi foto hitam-putih serta print alternatif Cyanotype. Pendekatan visual ini digunakan Yoese sebagai representasi perasaan kehilangan dan ketakutan. Namun, dia juga memaknainya sebagai bahasa yang paling tepat untuk menorehkan puisi tentang dirinya dan hubungan kedua orang tuanya.

Tak berhenti di situ, “Landep” juga diabadikan dalam sebuah photobook yang diterbitkan secara mandiri sebanyak 290 salinan. Sebelumnya, pada bulan Juni 2024, dummy buku “Landep” terpilih sebagai salah satu dari sepuluh besar finalis dalam ajang The APhF (Athens Photo Festival) Dummy Award feat Witty Books.

Proses penciptaan “Landep” bermula ketika Yoese mengenang sebuah kamar tidur terlarang yang tidak boleh dimasuki sembarang orang, termasuk dirinya sendiri. Kamar misterius ini adalah tempat almarhum ayahnya menyimpan sebilah keris tua. "Awalnya, kamar tersebut berfungsi sebagai kamar tidur biasa. Namun, setelah ayah mulai menyimpan keris di sana, ibu tampak enggan setiap kali memasuki kamar untuk membawa sesajen. Sejak saat itu, kamar tersebut menjadi simbol ketegangan dalam keluarga kami," kenang Yoese.

 

Dengan menelusuri ingatan masa lalu, Yoese teringat bahwa keris milik ayahnya ternyata merupakan keris perempuan—sebuah fakta yang diketahuinya setelah melakukan perjalanan ke Jawa untuk memulai proyek “Landep.” Ketertarikan ayahnya terhadap keris bukan hanya sekadar hobi; ia mengaitkannya dengan keyakinan dan mitos, yang memperdalam perbedaan pandang antara kedua orangtuanya.

Ibunda Yoese memandang keris sebagai sesuatu yang dekat dengan musyrik, yang bertentangan dengan prinsip hidupnya. Seiring berjalannya waktu, perseteruan antara ayah dan ibunya semakin melebar, dan akhirnya berujung pada perceraian mereka.

Selama perjalanan Yoese ke daerah seperti Surakarta, Madura, Bali, dan Yogyakarta, serta mengunjungi Pantai Parangkusumo—yang memiliki hubungan langsung dengan ayahnya—dia mulai memahami lebih dalam tentang keris. Dari napak tilas tersebut, Yoese memberi nama “Landep” pada karyanya, yang berarti “tajam” dalam bahasa Jawa.

Judul ini mencerminkan perjalanan hidupnya dan bagaimana kejujurannya, laksana tajamnya keris, dapat menyentuh perasaan orang lain tanpa harus menyentuhnya secara langsung. Sebilah keris ternyata telah mempengaruhi perjalanan keluarga kami dan membantunya berdamai dengan masa lalu.

BIOGRAFI:

Fotografer: Yoese Mariam

Seorang ahli geologi yang menggeluti fotografi dan memiliki passion dalam visual storytelling. Minatnya terhadap fotografi dimulai seiring perjalanan karirnya, dan kemudian ia mengabdikan dirinya untuk merekam subjek-subjek terkait budaya dan dokumenter. Ia telah mengikuti beberapa workshop fotografi dan terpilih sebagai salah satu peserta dalam program mentorship fotografi Panna Future Talents 2022, yang diselenggarakan oleh PannaFoto Institute dalam mengembangkan proyek visual storytelling.

Karyanya telah menerima penghargaan Honourable Mention dalam kategori ‘Cultural’ pada International Photography Awards 2023 dan masuk dalam shortlist kategori Professional Documentary Projects di Sony World Photography Awards 2023. Karya fotografinya telah dipamerkan di berbagai tempat, seperti: Pameran Grup Leica di Jakarta (2019), Pameran Grup `Jati Diri Ragam Warna Identitas` di IFI Jakarta (Mei 2023), dan Pameran Tunggal ‘Three Photos Left’ di Leica Jakarta (Juni-Juli 2023). Pada Juli 2023, ia menerbitkan buku foto pertamanya yang berjudul ‘Three Photos Left’, dan setahun kemudian, buku foto keduanya yang berjudul Landep terpilih sebagai salah satu dari sepuluh finalis dalam APhF (Athens Photo Festival) Dummy Award, kerja sama antara Witty Books & APhF 2024.

Kurator: Yoppy Pieter

Yoppy Pieter adalah seorang fotografer, educator, dan kurator independen berbasis di Jakarta. Dalam praktik fotografinya, dia sering mengeksplorasi isu-isu terkait gender, identitas, serta perubahan iklim yang berdampak pada kehidupan saat ini. Pada tahun 2023, dia terpilih oleh National Geographic Society untuk menghasilkan karya jurnalistik tentang upaya perempuan- perempuan di kaki Gunung Burni Telong, Aceh Tengah, yang memimpin konservasi hutan lindung di tengah tantangan patriarki dan hukum syariah.

Artikel Lainnya