Jakarta, INDONEWS.ID - Aumni SMA dan Perguruan Tinggi se-Jakarta berkumpul di Balai Sarwono, Jakarta, kehadiran mereka disana ternyata ada kegalauan kelas menengah di Jakarta. Mereka mencari jawaban dengan menggelar bincang-bincang Jakarta Menyala, bersama Pramono Anung dan Rano Karno.
Alumni 7 sekolah yang tergabung dalam TopGun, punya kegelisahan terkait Jakarta, mereka kadang galau melihat ketidakdisplinan pengendara motor di jalan, atau masih banyak sampah berserakan di lingkungan mereka. Hal itu mereka adukan ke pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Daerah Khusus Jakarta. Hadir dalam acara tersebut anggota Wantimpres Sidarto Danusubtoto, Pemred indonews.id, Asri Hadi.
Keluhan mereka pun dijawab cagub Pramono, yang mengatakan, sebagai calon pemimpin daerah, dirinya akan menampung apa yang menjadi keluhan warga. Persoalan Jakarta bukan ditingkat elit tapi ada di masyarakat.
Menurutnya, memperbaiki Jakarta tak hanya masalah banjir, kemacetan, atau pembuangan sampah tapi adalah masalah sosial di lingkungan warga. Banyak warga Jakarta mengeluh sulit mendapat tempat bila ingin menggelar hajatan. Maka dirinya bersama bang Doel punya program membangun balai rakyat di seluruh wilayah Jakarta, yang bisa dimanfaatkan warga untuk menggelar kegiatan.
"Memperbaiki Jakarta menjadi lebih baik, memang harus orang Jakarta, dan permasalah di Jakarta tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengaji sampai sore", kilahnya.
Sementara Rano Karno mengatakan, bila di daerah hanya ada dua tugas yang harus dikerjakan pemimpinnya, tugas wajib dan pilihan. Masalah pendidikan, kesehatan, infrastruktur itu wajib, permasalah sosial itu pilihan, kemacetan, sampah, dan lainnya.
"Kami dari satu rumah, sudah pasti sejalan. Dan kami tidak ada pembagian tugas, mana tugas Gubernur mana tugas Wakil. Karena satu rumah kami punya satu tujuan, merubah Jakarta yang lebih Baik", ujar bang Doel.
Baik Pramono maupun Rano Karno menceritakan pengalaman saat ditunjuk partainya menjadi Cagub dan Cawagub. Sampai mendekati jadwal pendaftaraan calon Gubernur, Pramono menyatakan tidak karena ia ingin mengurusi cucunya bila usai tugas sebagai Sektetaris Kabinet. Sebagai orang yang sudah 10 tahun paham 'dapur' pemerintah, akhirnya iya bersedia.
"Berapa kali Ketua Umum meminta saya maju pilgub Jakarta, saya bilang, tidak, tidak, tidak. Sarah dan Zenab kecewa karena Pram lah yang bersama bang Doel, sekarang saya maju menjadi Cagub Jakarta, saya bilang fight, fight, fight", ujarnya.
Sementara bang Doel, pernah menjadi pejabat daerah, dirinya bersikeras di Komisi X DPR, tapi partainya menunjuk Rano sebagai orang Jakarta yang harus memimpin Jakarta. "Mas Pram tahu Jakarta, Jakarta tahu Doel", ujarnya menutup bincang-bincang bersama alumni sekolah dan perguruan tingga se-Jakarta.