Nasional

Welt Win Austria Koleksi Ratusan Batik Indonesia

Oleh : luska - Sabtu, 28/09/2024 11:11 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - 366 helai Batik  Indonesia menjadi salah satu koleksi museum Antropologi terbesar di Austria Weltmuseum di kota Wina .Museum yang didirikan tahun 1876 ini terletak di istana Hofburg dan menyimpan lebih dari 400 ribu obyek etnografi dan arkeologi dari Asia, Afrika,Oceania dan Amerika.

UNESCO sebagai organisasi internasional yang bernaung dibawah PBB, telah menetapkan batik
sebagai warisan kemanusiaan budaya lisan dan Nonbendawi pada atahun 2009.Pemerintah menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional.
Hal ini membuktikan bahwa batik merupakan warisan budaya yang harus kita jaga.

Himpunan wastraprema dalam rangkaian memperingati Hari Batik Nasional 2 Oktober mendatang  mengadakan  bincang bincang  wastra ,khususnya  Batik yang menjadi koleksi di Weltmuseum Wien dengan nara sumber DR.Jonathan Fine dan Yani Saptodewo  serta perjalanan Batik Nitik dengan nara sumber  Neneng Iskandar Ketua Umum Himpunan Wastraprema berlangsung di Museum Tekstil Jakarta yang dihadiri Duta Besar Austria untuk Indonesia DR. Thomas loidl   Sabtu (28/9/2024)

Duta Besar Austria untuk Indonesia DR Thomas Loidl menyambut baik upaya DR Jonathan Fine
dari museum Weltmuseum Wina yang dalam rangkaian kunjungannya ke Indonesia berkesempatan bincang bincang tentang koleksi batik Indonesia yang menjadi koleksi museum di Austria, dan disimpan di museum Wina. Menurut DR Thomas Loidl masyarakat Austria akan mengenal batik sebagai warisan leluhur bangsa Indonesia yang tentunya mempunyai nilai seni sangat tinggi.

Pada kesempatan itu ,DR Jonathan Fine menjelaskan bahwa Weltmuseum di Wina saat ini memiliki  sekitar 366 lebih koleksi batik yang disimpan di museum tersebut, dari berbagai daerah di Indonesia baik berupa sarung maupun kain Panjang.diantaranya dari Cirebon, Jawa Tengah,Yogyakarta   dan Solo . Batik ini diperoleh melalui ekspedisi ke Jawa, Pemberian dari Sri Sultan Hamengkubuwono dan berbagai hadiah yang diberikan kepada museum ini. menurut DR Jonathan yang tertua koleksi batiknya tahun 1838 . Dr Jonathan Fine merasa kagum  dan sangat menghargai proses pembuatan Batik yang penuh dengan makna philosophi .Karena itulah sudah sepatutnya Museum Wina mengoleksi nya ,sehingga dunia akan melihat karya yang indah.

DR.Jonathan Fine juga berharap agar berbagai kerjasama dengan Himpunan Wastraprema  dapat lebih ditingkatkan lagi. Tidak hanya dalam koleksi Batik namun berbagai wastra yang ada di Indonesia.

Ketua Umum Himpunan Wastraprema Neneng Iskandar mengatakan banyaknya benda bersejarah diantaranya batik yang berada di museum luar negri menjadi kebanggaaan tersendiri.Karena masyarakat dunia bisa mengenal  Indonesia dari koleksi koleksi Indonesia yang di pamerkan di museum tersebut.Dikemukakan Ketua Umum HWP Neneng Iskandar batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi komunitas Internasional.Karena itu sejalan dengan visi dan misi dari Wastraprema untuk terus melestarikan wastra Indonesia termasuk batik.

Pada kesempatan itu, Ketua Umum Himpunan Wastraprema Neneng Iskandar membahas mengenai Batik Nitik yang merupakan batik khas Yogyakarta, dan merupakan salah satu yang tertua di lingkungan Keraton serta berkembang luas di masyarakat Yogyakarta.

Batik Nitik dicirikan dengan motif nitik.Batik Nitik adalah batik dengan motif yang tersusun dari ribuan titik persegi yang membentuk ruang sudut dan geometris.Menurut Ketua Umum HWP Neneng Iskandar keistimewaan batik Nitik salah satunya terletak pada sejarahnya.
Berdasarkan pertalian sejarah motif nitik dibuat dari hasil adaptasi anyaman kain tenun Patola dari India atau dikenal dengan kain Cinde yang akhir tahun 1700an penjualnya menurun. Padahal kain ini sempat menjadi primadona kain di Nusantara.Masyarakat pun lebih memilih Batik Nitik dibanding kain Patola yang harganya sangat mahal.

Batik Nitik berasal dari kata “titik”, walaupun termotivasi dari kain Patola, motif titik pada kain batik ini memiliki makna mendalam yaitu menyiratkan hubungan manusia dengan Tuhannya.

Pada kesempatan itu  Ketua Umum HWP Neneng Iskandar menyerahkan kenang kenangan berupa tanda mata kepada Duta Besar Austria untuk Indonesia DR.Thomas Loidl dan  Nara sumber  DR Jonathan Fine dari Weltmuseum Wina. 
Acara bincang bincang ini juga diwarnai persembahan  tarian dari Sanggar Sekar Tanjung Dance Company dengan menghadirkan tarian Jawa yang dibawakan Rury Avianti dan Cornelia Winka Raningtyas 
 

                               

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sekilas mengenai Himpunan Wastraprema (HWP)


Himpunan Wastraprema (HWP) merupakan suatu wadah yang beranggotakan para pencinta kain adati tradisi Indonesia yang didirikan dan dilegalisasi tanggal 28 Januari 1976.
Salah satu pendirinya adalah Ir.Safioen yang ketika itu menjabat sebagai Dirjen Tekstil Departemen Perindustrian yang didukung penuh Ali Sadikin Gubernur DKI Jakarta waktu itu.

Gubernur Ali Sadikin menyediakan tempat sebuah museum, yang dikenal dengan Museum Tekstil yang diresmikan bersamaan dengan berdirinya Wastraprema pada tanggal 28 Juni 1976.

Koleksi pertama Museum Tekstil berupa 500 helai lembar kain yang  merupakan hibah dari beberapa gubernur pemerintah daerah dan anggota Himpunan Wastraprema.
Misi Himpunan Wastraprema mengangkat citra,pemahaman dan apresiasi terhadap seni budaya kain tradisional Indonesia agar semakin dikenal, diminati, dihayati dan dilestarikan untuk diwariskan ke generasi penerus.
Nama Wastraprema diambil dari Bahasa Sansekerta, Wastra berarti kain dan prema artinya cinta,

Pameran merupakan salah satu sarana untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai wastra nusantara, disamping ceramah, diskusi dan pertemuan periodik.

Ketua Umum Himpunan Wastraprema Periode 2023-2027 Sri Sintasari Iskandar atau Neneng Iskandar

 

Artikel Lainnya