Jakarta, INDONEWS.ID - Menyenangkan buah hati tidak harus memberikan gadget atau boneka Berbie tapi cukup dengan mengajarkan bermain catur dan memfasilitasinya adalah bentuk kasih sayang sesungguhnya. Puluhan pasangan muda berkerumun di luar arena pertandingan catur, di pusat perbelanjaan di kawasan Cipinang, Jakarta Timur, mereka mendukung buah hatinya perlomba di turnamen catur cepat non master.
Pagi itu, ramai di media massa tentang covid-19, virus penebar kematian bagi orang yang terpapar, dan virus ini mudah menyebar. Semua warga panik mengetahui kabar tak sedap itu, bagaimana cara agar tak terpapar virus mematikan. Cerita itu dialami seluruh masyarakat sekitar 4 tahun lalu, begitu juga Maria dan Caterina, ibu dari dua anak yang ikut lomba catur cepat.
Kala pandemi covid menerpa, Caterina (bukan nama sebenarnya) bingung terutama melihat puteranya, Stevi yang tak lagi bisa bersosialisasi dengan temanya baik di sekolah maupun di lingkungan rumah. Keseharian aktivitas Stevie hanya di depan monitor komputer, baik menerima pelajaran atau mengisi waktu luang.
Saat mengisi waktu luang, Stevi tanpa serius memainkan 'mouse' komputer, bahkan sering mengernyitkan dahinya. Caterina pun melihat apa yang sedang Stevi mainkan, ternyata puteranya sedang asyik bermain catur.
Ketika itu Stevi berusia 9 tahun, namun kegemarannya memainkan bidak catur terus ia lakukan, lalu Caterina meminta sang suami yang juga 'berkantor' di rumah akibat pandemi, mengajarkan cara menjalankan bidak-bidak catur yang satu sama lain berbeda langkahnya.
Mengetahui buah hatinya senang bermain catur, Caterina dan suami sepakat memanggil instruktur catur guna mengajarkan Stevi memainkan bidak caturnya agar lebih mahir. Ilmu dasar bermain catur sudah Stevi kuasai, ia semakin bergairah mencari lawan tanding, karena masih harus beraktivitas di rumah, Stevi hanya bisa bertanding melawan komputer.
Lalu instruktur catur mengajak Stevi bertanding di luar rumah, kejuaraan pertama kali yang diikuti adalah kompetisi antar pemain pemula yang diadakan KONI DKI, di pertandingan itulah jiwa Stevi terguncang, ia banyak menderita kekalahan di pertandingan itu padahal jika bermain dengan komputer Stevi lebih sering mengalahkan lawan di komputer.
Semenjak itu, Stevi murung, bahkan meninggalkan papan caturnya yang sering ia gunakan untuk berlatih. Ibu mana yang tak sedih melihat anaknya patah semangat, Caterina pun merasakan kegalauan Stevi yang gagal mengungguli lawan-lawanya di kompetisi itu, ia pun terus memberi semangat agar Stevi kembali berlatih catur.
Enam bulan berlalu, akhirnya Stevi kembali bermain catur. Diawali dengan bertanding melawan komputer dan terus menerus, itu membuat semangat Stevi kembali bangkit, dan ini membuat Caterina 'happy' mengetahui puteranya kembali bergairah memainkan bidak.
Sesekali Stevi mendatangi Koni DKI bersama sang instruktur yang kembali melatih Stevi, dan sejak itu Stevi sering ikut lomba seperti yang diadakan Bassura Chess Club. Caterina bangga dengan semangat Stevi yang mau bangkit dari keterpurukan akibat kalah di pertandingan perdana Stevi sebagai pecatur belia.
Lain halnya dengan Maria, ibu dari Christ peserta di lomba catur cepat tersebut, sebagai seorang ibu dirinya tak menyangka anak senang bermain catur. Serupa dengan Stevi awalnya Christ juga mengenal catur dari dunia maya.
Karena Maria tak paham catur, ia meminta suaminya mengajarkan langkah dasar bidak-bidak catur. Lalu Maria mendaftarkan Christ berlatih secara online tapi sekitar 8 bulan Christ berlatih, perkembangan berjalan lambat, akhirnya Maria memutuskan menghentikan latihan secara online.
Meski berhenti berlatih namun Christ masih terus bermain catur, Maria pun tak tega melihat Christ begitu senang bermain catur. Akhirnya Maria mengajaknya ke KONI DKI untuk mengenal lebih dalam permainan catur.
Saat mengenal catur Christ baru berusia 8 tahun namun sudah mengenal Grandmaster dunia, yang suka ia tonton pertandingannya di kanal youtube. Itulah awal munculnya hobi bermain catur Christ, yang kini masih menerima bimbingan dari master-master di KONI DKI. Meski belum memperoleh kesempatan rangking 1 di setiap lomba yang diikuti tapi Christ tak patah semangat, dia terus berlatih dan berkompetisi dimanapun ada even yang menggelar kompetisi.
Maria dan Caterina adalah gambaran umum orangtua yang menemani putera-puterinya bertanding di lomba catur. Mereka sayang anak tapi bukan memanjakan dengan hal-hal yang kurang berfaedah. Kasih sayang pada anak harus, berilah generasi penerus bangsa hal yang positif seperti bermain catur yang mendidik kita berpikir ke depan dan mencari jalan menuju kemenangan.