Jakarta, INDONEWS.ID -Hingga kini, Israel belum melakukan serangan balasan pasca dibombardir ratusan rudal oleh Iran berapa pekan lalu.
Israel tampaknya masih merahasiakan kapan dan apa saja yang menjadi target jika dilakukan penyerangan terhadap musuhnya itu.
Sikap negara yang dipimpin Benjamin Netanyahu itu membuat sejumlah pengamat militer dan sejumlah negara berspekulasi terkait kemungkinan aksi balas dendam tersebut.
Pun sahabat terdekatnya, Amerika Serikat (AS) hanya bisa memprediksi kapan pasukan udara Israel melakukan serangan.
Menurut seorang pejabat AS yang tidak mau disebut identitasnya, Israel kemungkinan akan melakukan serangan balasan terhadap Iran sebelum pemilihan presiden AS pada 5 November.
Kepada CNN sumber itu mengatakan bahwa rencana serangan balasan terhadap Iran telah menjadi subjek perdebatan internal yang intens dan waktunya tidak terkait langsung dengan pemilihan presiden.
"Meskipun ada perdebatan internal di Israel mengenai waktu penyerangan, beberapa sumber mencatat bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyadari bahwa serangan balik terhadap Iran dapat berdampak signifikan pada pemilihan presiden AS," kata sumber anonim itu dikutip NN, Kamis (17/10).
Hal tersebut, jelas sumber anonim itu, mempersulit upaya diplomatik antara Israel dan AS selama beberapa bulan terakhir.
Sementara itu, para pejabat pemerintahan Presiden Joe Biden masih bungkam mengenai waktu dan target serangan Israel.
Diketahui, Iran meluncurkan serangan ratusan misil pada 1 Oktober, sebagai balasan atas tindakan Israel yang membunuh pemimpin Hamas di Teheran pada akhir Juli dan sejumlah pimpinan dan anggota Hizbullah serta militer Iran di Beirut pada akhir September.
Menurut laporan CNN, pekan lalu, Netanyahu telah meyakinkan Biden bahwa Israel tidak akan menargetkan fasilitas nuklir serta minyak Iran saat melakukan serangan balasan.
Sebelumnya, Biden meminta Israel tidak menyerang fasilitas tersebut. Apa yang disampaikan Netanyahu itu melegakan Gedung Putih.
Sebagaimana diketahui, perseteruan antara Israel dan Iran semakin memburuk setelah Israel melakukan serangan di Jalur Gaza.
Konflik di Gaza telah menewaskan lebih dari 42.000 orang, sebagian besar korban adalah wanita dan anak-anak.
Konflik berdarah terjadi menyusul serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan hampir 1.200 orang.
Konflik tersebut kemudian menyebar ke Lebanon akibat faksi Hizbullah yanh ikut menyerang Israel.
Militer Israel lalu melancarkan serangan mematikan di seluruh negara itu, hingga menewaskan lebih dari 1.500 orang dan melukai lebih dari 4.500 orang sejak 23 September.