Jalur Gaza, INDONEWS.ID- Pemimpin Hamas Yahya Sinwar dinyatakan tewas salam operasi gabungan militer Israel dan dinas rahasia Shin Bet.
Praktis, dengan tewasnya pucuk pimpinan, organisasi militan ini mengalami kekosongan pimpinan. Namun, mati satu timbul seribu. Sederetan nama beken muncul bakal menggantikan Sinwar.
Sinwar petinggi Hamas kedua yang tewas dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, usai ditunjuk menggantikan Ismail Haniyeh yang tewas terbunuh di Iran.
Haniyeh juga dibunuh dalam operasi yang diduga didalangi agen intelijen Israel, Mossad.
Meski dua pucuk pimpinan dibunuh dalam waktu tiga bulan, organisasi yang berpusat di Palestina ini seperti tidak kekuatan pemimpin.
Deretan nama hebat, para calon pemimpin Hamas yang baru seperti tidak kenal rasa takut.
Nama-nama yang muncul setelah kematian Sinwar antara lain Mohammed Sinwar, Khalil Al Hayya, Khaled Mashal, Muhammad Ismail Darwish dan Mousa Abu Marzouk .
Khaled Mashal merupakan calon kuat nomor satu dalam bursa pemimpin baru Hamas.
Sosok senior dalam kelompok pernah diburu agen Mossad, namun dia selamat dari upaya pembunuhan itu.
Pria kelahiran Silwad, Tepi Barat ini pernah menjadi kepala biro politik Hamas periode 1996-2017.
Demi keselamatan, Mashal selalu berpindah dari satu negara ke negara lainnya di Timur Tengah.
Mashal pernah tinggal di Kuwait, lalu pindah ke Yordania pada 1990.
Di Yordania, Mashal dipercaya menjadi kepala cabang Hamas, namun akhirnya ia dipenjara dan dideportasi dari Yordania pada 1999.
Mashal kemudian pindah Doha, Qatar, lalu pindah lagi ke Damaskus, Suriah. Di ana ia ditunjuk menjadi kepala biro politik Hamas.
Sosok lain adalah Mohammed Sinwar, saudara kandung Yahya Sinwar.
Posisi Mohammed Sinwar di Hamas juga cukup mentereng, yakni sebagai pemimpin sayap militer kelompok yang berbasis di Palestina.
Disebutkan bahwa Mohammed Sinwar banyak terlibat dalam operasi-operasi militer Hamas.
Hal itu membuatnya dipenjara oleh Israel pada 1990-an sampai akhirnya berhasil melarikan diri pada tahun 2000.
Sementara Khalil Al Hayya adalah pejabat senior politbiro Hamas yang saat ini masih berada di ‘pengasingan’, di Qatar.
Disebutkan bahwa kedudukan Khalil di Hamas sangat penting. Bahkan, Khalil dianggap sebagai salah satu dari sedikit orang yang menurut Sinwar dapat diandalkan.
Lalu, ada Mousa Abu Marzouk, salah satu anggota pendiri Hamas. Dia juga tercatat sebagai ketua pertama biro politik Hamas, tepatnya dari tahun 1992 hingga 1996.
Kendati sudah ujur usianya, keberadaan Mousa masih dianggap berpengaruh dalam kelompok.
Sedangkan Ismail Darwish atau Abu Omar Hassan ini memang tidak setenar nama lain di atas.
Namun, jangan dipandang remeh. Ia disebutkan menjadi Ketua Dewan Syura Hamas sejak Oktober 2023.
Entah siapa nanti yang akan menggantikan Yahya Sinwar, tunggu saja. Bisa jadi, militer Israel juga akan tetap memburu siapa saja yang akan menjadi pemimpin Hamas.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sudah menegaskan bahwa kematian Sinwar bukan akhir dari perjuangan, tapi awal baru dari perjuangan.
Pernyataan Netanyahu bisa benar, sebab pejabat Hamas juga menegaskan bahwa Hamas tidak akan musnah karena Sinwar tewas.