Nasional

Bikin Bangga! Inovasi Karya Anak Bangsa Pertama di Dunia Atasi Bahaya Tersembunyi di Mobil Listrik

Oleh : Rikard Djegadut - Selasa, 26/11/2024 09:53 WIB


Chief Executive Officer PT Famindo Alfa Spektrum Teknologi atau PT FAST, Willy Hadiwidjaja (kanan) dan Sekretaris Jenderal Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) Tenggono Chuandra Phoa (kiri) saat diskusi bertajuk “Revolutionizing EV Safety in Indonesia: Breaking Solutions with Innovation” pada Senin (25/11/24).

Jakarta, INDONEWS.ID - Industri kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) tengah digandrungi di dalam negeri maupun di kancah global dalam rentang waktu satu dekade terakhir.

Lantas, jumlah pengguna EV, ataupun manufaktur EV beserta industri pendukungnya pun mulai menjamur di Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari potensi pasar Indonesia yang sangat menjanjikan dengan total populasi Indonesia yang menempati posisi keempat terbesar di dunia

Chief Executive Officer PT Famindo Alfa Spektrum Teknologi atau PT FAST, Willy Hadiwidjaja menyampaikan menjamurnya kendaraan listrik di jalanan di Indonesia merupakan bagian dari revolusi industri yang mengarah kepada elektrifikasi. Harapannya adalah Indonesia bisa mencapai net zero emission pada tahun 2060. Bahkan Presiden Prabowo optimis bahwa target itu dimajukan menjadi 2050.

"Tentunya itu bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Ditambah lagi dengan berbagai tantangan yang harus kita hadapi ketika berbicara tentang revolusi industri yang mana pasti akan dibarengi dengan potensi risiko yang wajib kita waspadai," ungkap Willy dalam sambutannya dalam diskusi bertajuk “Revolutionizing EV Safety in Indonesia: Breaking Solutions with Innovation” pada Senin (25/11/24).

Willy menuturkan, risiko krusial yang hingga hari ini dihadapi setiap industri EV di seluruh dunia hampir sama yaitu banyaknya tragedi kebakaran ekstrim yang terjadi di berbagai tempat. Hal ini, lanjutnya, disebabkan oleh thermal-weight dari baterai lithium yang memiliki karakter berbeda dari api biasa dan sangat mustahil untuk dipadamkan dengan APAR konvensional.

"Contohnya, kasus kebakaran yang terjadi pada sebuah mobil Mercedes-Benz di Korea Selatan belum lama ini yang menghanguskan satu area parkir basement yang menyebabkan kerusakan parah hingga 142 unit, kita tidak ingin ini terjadi di Indonesia,” ungkapnya.

Temuan Anak Bangsa

Namun beruntungnya, Willy mengatakan, Indonesia telah berhasil memformulasikan sebuah produk yang disebut lithium fire killer. Ini adalah alat pemadam kebakaran ringan (APAR) khusus untuk EV atau kendaraan listrik maupun baterai lithium murni temuan anak bangsa pertama di dunia.

“Founder kami bernama Randall Hartolaksono. Dia menempuh pendidikan di UK dan sekitar 1962 diajak ke Tanah Air oleh Pak Fanny Habibie kemudian diperkenalkan ke Presiden Soeharto. Atas dorongan Pak Harto, Randall mendirikan perusahaan pabrik kimia pemadam api pada 1994 bernama PT Hartindo Chemicatama Industri. Hingga hari ini, kami bisa memastikan bahwa kami adalah satu-satunya manufaktur di Asia Tenggara yang memproduksi kimianya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Willy menegaskan, PT Hartindo sejak awal berdirinya tidak pernah sekalipun memasarkan produknya secara ritel. Sebab klien dari awalnya adalah pemerintahan dari instansi BUMN hingga militer dan untuk penemuan APAR, khusus baterai lithium fire killer sudah sejak 2013.

Namun, Randall adalah ilmuwan yang sangat-sangat perfeksionis, tidak mau meluncurkan produk sebelum dinyatakan lulus uji di lembaga-lembaga pengujian kelas dunia. Bahkan produk ini mendapat predikat sebagai media pemadam kebakaran terbaik untuk baterai lithium dari Kementerian Perhubungan Amerika.

Tidak puas sampai di situ, Randall, imbuh Willy, juga memastikan bahwa produk temuannya tidak hanya hebat membunuh api lithium, namun ternyata beracun dan membahayakan manusia dan lingkungan. Sehingga dia memformulasikan dengan hati-hati untuk mendapatkan sertifikasi dari UL Green Guard, yang artinya sudah lulus sebagai green product.

“Saya mengharapkan dukungan dari seluruh stakeholder terkait untuk terus menyuarakan dan mendorong agar karakter budaya bangsa kita untuk tidak lagi merendahkan hasil karya anak bangsa, namun justru bangga akan produk dalam negeri tercinta kita bersama,” pungkas Willy.

Hyrbid Beda dengan Baterai

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) Tenggono Chuandra Phoa mengatakan pihaknya di Periklindo fokus terkait baterai EV. Pihaknya terus memperjuangkan dan mempromosikan baterai EV menuju Jakarta yang clean dan minim polusi.

"Belakangan ini, maaf beberapa hari ini, ada isu bahwa hybrid itu sama dengan baterai. Kalau saya mengatakan tidak. Baterai EV tidak pakai mesin sama sekali, tidak ada. Tidak ada lagi mengeluarkan asap, mengeluarkan apa itu karbon. Dunia sudah bicara di zero carbon. Jadi Indonesia harus menuju ke sana untuk memelihara lingkungan lebih bersih. Jakarta ini memang sudah sangat-sangat kotor," tukasnya.

Di tempat yang sama, Technical Director PT FAST Franky Affandy memberikan pemaparan. Menurutnya salah satu faktor Indonesia sudah mengarah ke EV adalah karena Indonesia memang kaya akan nikel sebagai salah satu bahan baku yang dipakai paling banyak dalam baterai EV.

"Nah, karena Indonesia punya visi Indonesia emas, ditambah juga dengan Inpres Nomor 7 Tahun 2022 yang diterbitkan oleh Presiden Jokowi waktu itu, dimana mobil dinas akan mengarah pada EV semua. Di sini tujuannya agar Indonesia menjadi bersih. Kita tahu Jakarta ini polusi sangat luar biasa. Nah, dengan gebrakan seperti ini kita ke depannya dan anak cucu kita bisa menghirup udara yang lebih baik,” ungkapnya.

Produk PT FAST

Saat ini, lanjutnya, PT FAST memilih berkonsentrasi pada produk fire safety namun tidak hanya mengembangkan APAR tapi juga mengembangkan ke produk-produk yang lainnya dan berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan lainnya untuk memastikan safety di EV.

"Nah, sebagai anak bangsa kita ditantang apa yang bisa membuat EV itu lebih safety? Di sini kami punya 3 core values yaitu supaya tidak terjadi api, harus ada Predictive, Preventive dan Protective atau 3P. Kita bekerja terus dan kita menemukan 3 produk. Ada BALLISTIC untuk Predictive, G-TECH untuk Preventive dan Power Tech Shield untuk Protective,” tutupnya.

Diinformasikan, APAR fenomenal ini diciptakan menggunakan material food grade, sehingga dapat dengan mudah lulus pengujian aquatic test. Maka dari itu, APAR LFK sangat aman bila terkena kulit, mata atau bahkan jika tertelan oleh manusia. LFK juga memiliki nilai TKDN (Total Komponen Dalam Negeri) yang tergolong tinggi yaitu di 49,41%.

Saat ini, PT Famindo Alfa Spektrum Teknologi (PT. FAST) adalah perusahaan yang ditunjuk secara resmi oleh PT Hartindo Chemicatama Industri untuk melakukan pemasaran dan penjualan secara tunggal ke seluruh wilayah Indonesia. PT. FAST mengusung 3 konsep utama dalam menjalankan fokus bisnis pada fire safety solutions yaitu 3P: Predictive, Preventive & Protective.

Predictive artinya mampu memprediksi anomali-anomali yang terjadi pada baterai EV. BMS pada EV secara umum tidak memiliki kemampuan untuk membaca anomali dan memberikan peringatan dini sebelum baterai terbakar.

Menghadapi tantangan ini, mitra strategis dari PT. FAST yaitu PT. NKRI (Nusantara Karya Reksa Internasional) berhasil menciptakan modul dengan fitur AI & IoT yang mampu membaca anomali dan merangkum data parameter pada baterai. Selanjutnya modul tersebut akan memberikan peringatan dini apabila terdeteksi anomali yang berbeda dari kebiasaan / karakter baterai tersebut. Produk inovatif yang juga penemuan anak bangsa ini diberi nama BALLISTIC (Battery Life Alert Diagnostic).

Preventive artinya mampu menjadi solusi awal ketika baterai menyala api / terbakar, menghindari resiko yang lebih besar setelahnya. Untuk itu PT. FAST hadir menyediakan POWER TECH SHIELD, yaitu selimut anti api khusus dengan military spec yang memiliki kemampuan menahan api hingga 1.600°C.

Selain itu, PT. FAST terus berinovasi hingga akhirnya berhasil menemukan sebuah teknologi baru dengan konsep APAR pasif yang mampu memadamkan api secara mandiri tanpa harus ada operator untuk menembakkan APAR manual pada umumnya. Produk ini berupa cairan kental menyerupai gel yang penggunaannya cukup diletakkan dalam kompartemen baterai.

Apabila baterai terjadi penyalaan api dan suhu melonjak sampai melampaui 120°C, maka lapisan kemasan gel akan pecah dan gel tersebut akan membanjiri baterai. Dengan demikian maka api dapat padam secara mandiri tanpa perlu adanya intervensi manual dari manusia. Produk ini dinamakan G-TECH.

Protective artinya menjadi solusi terakhir ketika api dari baterai sudah menyala dan ada manusia di sekitar lokasi kejadian untuk bisa menembakkan APAR khusus untuk baterai Lithium. APAR Lithium Fire Killer bisa menjadi solusi paling efektif untuk memadamkan baterai Lithium dengan cepat tanpa ada resiko penyalaan ulang / reignition.

Sebagai pelengkap Protective, inovasi kami lakukan bekerjasama dengan Pindad Engineering Indonesia untuk membuat produk dengan merek USS (Undercarriage Suppression System). USS adalah perangkat pemadam api portabel yang dirancang khusus untuk mengatasi kebakaran pada mobil listrik, di mana posisi baterai biasanya berada di bagian bawah atau kolong kendaraan.

Dengan dilengkapi nozzle bertekanan tinggi, USS mampu menjangkau titik api yang sulit dijangkau oleh alat pemadam api ringan (APAR) berbentuk tabung konvensional. Dengan penempatannya di kolong kendaraan, USS tidak hanya efektif menjangkau baterai, tetapi juga memberikan pendinginan suhu yang lebih efisien untuk menjaga struktur bangunan di sekitar area kebakaran, sehingga meminimalkan risiko kerusakan yang lebih luas.*

Artikel Lainnya