Internasional

Erdogan Tinggalkan Tempat Duduk, Tidak Setuju terhadap Pidato Presiden Prabowo?

Oleh : very - Minggu, 22/12/2024 19:21 WIB


Potongan gambar memperlihatkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan keluar ruangan saat Presiden RI, Prabowo Subianto menyampaikan pidato di sesi khusus KTT D8 Mesir pada Kamis, 22 Desember 2024/Net

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Sejumlah media di Indonesia memberitakan aksi Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan yang tertangkap kamera meninggalkan tempat duduknya (walk out) ketika Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan pidato.

Ketika itu, Presiden Prabowo berpidato pada sesi khusus KTT Developing Eight (D8) Mesir.

Dalam visualisasi yang beredar, Presiden Erdogan berdiri dan berjalan di belakang Presiden Prabowo saat menyampaikan pidato.

Mengomentari hal tersebut, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana mengatakan bahwa kebenaran terkait hal ini perlu diverifikasi kepada Sekretaris Kabinet atau Wakil Menlu yang turut hadir mendampingi Presiden Prabowo.

“Bisa jadi Presiden Erdogan berdiri dan melewati belakang Presiden saat menyampaikan pidato karena ada hal urgen yang harus dibicarakan dengan staf beliau, yang tidak berani langsung menemui Erdogan di tempat Erdogan duduk,” ujar Rektor Universitas Jenderal A. Yani itu melalui pernyataan pers di Jakarta, Minggu (22/12).

Hal ini sangat mungkin terjadi karena saat Erdogan berdiri, Presiden Prabowo saat itu baru memulai pidatonya. Sehingga belum ada substansi yang disampaikan oleh Presiden.

Selanjutnya yang tertangkap kamera hanya Presiden Erdogan yang berdiri dan berjalan, namun tidak dengan anggota KTT D-8 lainnya yang menghadiri rapat.

Secara substansi pun apa yang disampaikan oleh Presiden Prabowo bukan suatu hal yang bersifat fundamental, yang menunjukkan pertentangan antar kelompok negara Islam.

Pasca kejatuhan Presiden Bashar al-Assad memang ada dua negara berpenduduk Islam yang saling memiliki pandangan yang berbeda, yaitu antara Turki dan kebanyakan negara-negara Arab di satu sisi, dan Iran di sisi lain.

“Pidato Presiden sama sekali tidak menyentuh keberpihakan Indonesia atas dua pandangan yang berbeda ini. Justru Presiden meminta agar negara-negara Islam untuk bersatu demi kepentingan rakyat dan kemanusiaan,” pungkasnya. *

 

Artikel Lainnya