Jakarta, INDONEWS.ID - Perhimpunan Wastraprema Kembali menggelar bincang bincang membahas symbol dan budaya Cina pada wastra Indonesia dengan menghadirkan nara sumber Prof Dr AM Hermina Sutami M.Hum dosen Program Studi Cina Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dengan moderator pemerhati wastra Nurdiyansyah Dalidjo bertempat di Museum Tekstil Jakarta 21/6/2025.
Indonesia telah menjadi jalur pertemuan berbagai budaya sejak berabad yang lalu, karena letaknya di persimpangan jalur perdagangan strategis dunia.Mulai dari pedagang Arab,India,Belanda hingga Tionghoa .Menurut Prof Dr.AM Hermina Sutami ,kebudayaan mereka berinteraksi dengan budaya lokal dikenal dengan akulturasi budaya.Beragam hasil akulturasi budaya ini, salah satunya tercermin dari wastra yang mempunyai motif/ragam hias dan berbagai symbol filosofis kain tradisional dari berbagai daerah yang memiliki pengaruh budaya tersebut.
Menurut Prof. Dr. AM Hermina disamping itu budaya atau akulturasi ini juga berpengaruh terhadap kaum peranakan yang sudah hidup ratusan tahun di Indonesia menunjukan budaya yang unik, yang juga menunjukan adanya akulturasi budaya antar warisan leluhur dari Tiongkok dengan tradisi budaya daerah yang ditinggali. Sehingga ditemui ada Cina peranakan Jawa,peranakan Sunda, peranakan Manado peranakan Palembang dan lainnya .Dalam kehidupan sehari harinya masih tampak warisan budaya leluhurnya termasuk aspek wastra.
Salah satu yang paling menarik dalam budaya Tionghoa lekat sekali dengan simbol simbol.Setiap simbol punya filosofinya.Simbol dan budaya Tionghoa memiliki pengaruh yang signifikan pada wastra Indonesia.Salah satu symbol yang cukup penting diantaranya naga. Di negara Barat naga justru dianggap hewan mitos yang jahat.Berbeda dengan budaya Tiongkok naga adalah symbol kekuatan ,Kesehatan dan keberuntungan.Naga juga salah satu symbol yang paling dihormati dan dipercaya dapat mengendalikan air,hujan dan mempunyai pengaruh besar terhadap alam.
Lebih lanjut , dijelaskan pula selain simbol gambar , warna juga merupakan symbol keberuntungan, Warna merah juga merupakan warna dominan. Didalam budaya Tionghoa merah dianggap sebagai warna keberuntungan,kekuatan dan perlindungan. Warna ini dipercaya dapat mengusir roh jahat dan membuat energi positif.Selain itu warna merah juga sering dikombinasikan dengan warna emas yang melambangkan kekayaan dan kemakmuran.
Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Wastraprema Neneng Iskandar dalam sambutannya mengatakan unsur unsur kebudayaan Cina banyak diadaptasi sebagai motif pada wastra Indonesia, diantaranya motif naga, burung hong,kiliin bunga teratai, bunga peony serta berbagai symbol yang dianggap membawa keberuntungan. Motif motif tersebut terutama berasal dari gambar keramik Cina yang ditemukan di Indonesia.Melalui akulturasi budaya tersebut diolah dan diadaptasi secara kreatif oleh mayarakat lokal dalam bentuk motif,tehnik dan symbol . Dijelaskan Neneng Iskandar akulturasi budaya tersebut tidak menghapus identitas budaya Indonesia, tetapi justru memperkaya khazanah budaya melalui ragam motif, warna, tehnik dan nilai filosofinya.
Motif motif seperti naga,burung hong, bunga Teratai dan peony serta symbol symbol keberuntungan , banyak ditemukan pada kain batik dan tenun Indonesia.
Neneng Iskandar,menjelaskan melalui pameran catur kultur pada wastra Indonesia yang sedang berlangsung saat ini memperlihatkan pengaruh kebudayaan Cina, India,Islam dan Eropa . keempat budaya ini diolah dan diadaptasi secara kreatif oleh masyarakat lokal baik melalui motif, teknik dan symbol tegas Neneng Iskandar.
Sementara itu, Kepala Unit Pengelola Museum Seni Sri Kusumawati dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan bincang bincang mengatakan Museum Tekstil sebagai salah satu wadah pelestarian Budaya Wastra Indonesia akan terus hadir memberikan pengetahuan dan wawasan baik sejarah maupun perkembangan kain tradisi kepada masyarakat luas.Lebih lanjut dikemukakan Sri Kusumawati hadirnya pameran serta acara bincang bincang ini diharapkan mampu memberikan informasi bagi masyarakat serta dapat menginspirasi generasi muda untuk turut serta dalam pelestarian wastra Indonesia.Kepala Unit Pengelola Museum Sri Kusumawati
mengatakan,acara bincang bincang dan pameran ini tidak hanya menampilkan ragam akulturasi budaya namun didalamnya terkandung makna, philosopsis yang sangat dalam sebagai identitas masing masing propinsi dan wilayah di Indonesia . Dikemukakan, pameran ini bukan hanya sebagai ajang apresiasi seni tetapi juga memperlihatkan kayanya identitas budaya yang tercermin dari helai kain yang ditampilkan.
Kegiatan ini diselenggarakan Himpunan Wastraprema dan Museum Tekstil Jakarta dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke 49 serta ulang tahun kota Jakarta ke 498.
Bincang bincang ini juga dihadiri para siswa Sekolah Mode Lasalle,IKJ, Siswa FIB UI, BINUS, sekolah mide ESMOD.
Diharapkan melalui pameran dan sejumlah kegiatan lainnya yang diselenggarakan terbuka bagi masyarakat dapat memberikan pengetahuan yang luas kepada generasi muda.