Nasional

Diplomasi Bakpao Jamur : Indonesia-China Masa Depan, Relasi Koeksistensial Strategis dan Saling Membutuhkan

Oleh : Rikard Djegadut - Jum'at, 12/12/2025 07:17 WIB


Oleh : PLE Priatna *)

(Direktur Eksekutif Center for Diplomacy Jakarta dan mantan Diplomat RI)

Jakarta, INDONEWS.ID - Presiden RI Prabowo Subianto dan Pesiden China, Xi Jinping diyakini bersama memainkan peran strategis, a game changer relasi kedua negara di masa depan. Harapan dan keyakinan itu tercurah dalam diskusi para profesor dan pakar dari China dan Indonesia.

Universitas tua dan beken di Ghuang Zou, Jinan University, School of International Studies, dan Center for Indonesian Studies baru saja menyelenggarakan dan mengundang pakar RI dalam Simposium bertajuk "Bilateral Academic Symposium on China-Indonesia Modernization Cooperation Historical Legacy and Future Propects" di Ghuang zou China, 4-6 Desember lalu.

Para Guru Besar dan pakar China dan Indonesia ini pun sepakat mengonfirmasi bahwa relasi kedua negara dari tinjauan historis, diplomasi bakpao jamur hingga prospek kerjasama masa depan berjalan amat penting dan relevan.

Simposium tahunan ini dibuka oleh Ye Jinbao, pejabat pemerintah daerah Guangdong yang menangani urusan kerjasama pendidikan tinggi. Kemudian hadir Zhang Xiaoxin, Wakil Rektor Universitas Jinan, Prof Dr. Ju Hailong, Dekan School for International Studies Universitas Jinan.

Inisiatif Universitas Jinan di Ghuangzou dan perhatian serius dari para akademisi China tentang hubungan strategis RI- China mendatang ini patut diacungi jempol dan mendapat apresiasi yang tinggi.

Sebuah upaya serius, reflektif sekaligus update akademis melihat relasi kedua negara  di masa lalu, masa kini dan prospek masa depan bagi hubungan kedua negara.

Prof Dr Li Wannan, Direktur Pusat Studi Indonesia menjadi tuan rumah simposium besar ini berhasil mengumpulkan hampir semua pakar dari daratan China dan mengundang mitra nya dari Indonesia, guna menjelajahi peta relasi masa depan yang lebih baik.

Di sudut lain, tak luput, saat jamuan makan siang di kantin Universitas Jinan yang sederhana,  tuan rumah menyuguhnya makanan sebuah bakpao yang disajikan unik dalam bentuk jamur merang.  Filosofi mekarnya jamur yang tampak kokoh tapi tetap menarik dan unik sebagai refleksi relasi. Diplomasi bakpao jamur berhasil mencairkan suasana menjadi lebih akrab dan guyup.

Diskusi di ruangan berlanjut terbuka,  akrab dan menarik. Dari tanah air tampak hadir Prof Dr Semiarto Aji Purwanto, Dekan FISIP UI,  Prof Dr Ali Muhammad, Universitas Muhammadiyah Jogjakarta, Dr Agus Haryanto, Univ Jenderal Soedirman dan Ketua Asosiasi Hub International Indonesesia ( AHII), Dr Siswanto Rusdi, Direktur Institute Maritim Nasional - Jakarta, Dr Veronika Sinta Saraswati, Direktur Program Kerjasama Internasional, Indonesian Center for Global Development Jakarta dan PLE Priatna, Direktur Eksekutif Center for Diplomacy- Jakarta, mantan diplomat RI dan mantan Wakil Kepala Perwakilan RI Beijing.

Prof Dr Xu Liping, pakar senior dalam kajian Indonesia menyampaikan ulasan peta fondasi relasi China- Indonesia memiliki kesamaan lesson learn dalam mengatasi  jumlah penduduk yang besar, problema kemiskinan, pendidikan dan kesehatan dalam rentang wilayah yang besar. China bisa menjadi contoh baik dalam 30 tahun mampu mengentaskan 200 juta warga dari kemiskinan akut. 

Prof Dr Sherry Kong Tao, dari Universitas Peking, dalam studi ekonominya  memetakan bangkitnya kelas menengah di China dan Indonesia. Modernisasi atau terminologi kita pembangunan ekonomi itu akan mendorong relasi hubungan yang prospektif dan semakin dekat.

Prof Bao Guangjiang, Direktur Pusat Studi Indonesia di Universitas Xiamen memaparkan bahwa kedua negara memiliki dasar dan fondasi kemajuan (modernisasi) dari belahan negara berkembang untuk disinergikan kedepannya, termasuk kerjasama bidang pendidikan, kebudayaan dan teknologi.

Bagaimana bila tafsir kemajuan ekonomi  ini bergulir ke tingkat online, jejaring internet dan media sosial? Kajian Prof Dr Semiarto Aji Purwanto ini unik mengangkat makna baru bahkan bagi masyarakat adat, suku Baduy misal ke level online bahwa makna kemajuan termasuk rasa modern seca.

Kajian Prof Dr Semiarto Aji Purwanto ini unik mengangkat makna baru bahkan bagi masyarakat adat, suku Baduy misal ke level online bahwa makna kemajuan termasuk rasa modern secara relatif telah bergeser. Baik di Indonesia maupun China diyakini bahwa fase kemajuan yang didorong teknologi internet ini dapat mengulirkan potensi kerjasama yang lebih terbuka, yang berfokus pada people to people connectivity.

‎Tak kurang menarik, Dr Veronika Saraswati mengungkap latar 75 tahun capaian relasi kedua negara, yang bermanfaat untuk mempererat hubungan people to people. Prof Dr Xue Dong, Direktur Center for China Relations, Fudan University mengonfirmasi adanya evolusi kedekatan dan kemajuan kerjasama disegala bidang.

‎Disini Prof Dr  Luo Yongkung dari Shanghai Akademi Ilmu Sosial melakukan studi secara lebih detil soal faktor yang mendorong peningkatan relasi yang bermanfaat bagi kedua negara. Aspek relasi G to G, B to B dan P to P menjadi simpul sinergi yang komplementer.

‎Empat pembicara lainnya praktis menyoroti konteks relasi RI- China terkait dengan politik luar negeri RI-China dalam relasi dengan AS, BRI, BRICS maupun konektivitas maritim.

‎Prof Dr Ali Muhamad dari UMJ menyoroti soal Jalur Sutra Belt and Road, proyek China melalui BRI ini yang membawa dampak politik maupun ekonomi. Prof Dr Ali Muhamad menyatakan bahwa proyek BRI di Indonesia dapat membawa dampak positif sekaligus potensi negatif bila tidak dikelola secara profesional, yang menyangkut antara lain potensi hutang dan ekses lainnya.

‎Siswanto Rusdi, dalam paparan New Indonesia Maritime Connectivity, secara cerdas namun santai mengungkap banyaknya aspek yang belum terjamah atau belum secara serius digarap antara lain soal kerjasama pelabuhan,  kerjasama industri perkapalan atau pun pertukaran data, data terkesan saling tabrak secara anarkis.

Sangat menyedihkan ujarnya, belum adanya investor dari China yang secara serius  menanam modal di sektor industri maritim secara masif, termasuk pelabuhan, pemutakhiran teknologi pelabuhan, industri perkapalan atau pun teknologi terkait. Saatnya kedua pihak mendorong dan merealisasi kebutuhan baru ini.

‎Dr Agus Haryanto dari Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto dan Ketua AHII ini mengulas faktor yang mendorong Indonesia bergabung dengan BRICS.

‎BRICS dalam konteks the global south ini akan menjadi jembatan atau pintu gerbang baru yang meningkatkan konektivitas relasi RI-China ke depan. BRICS memiliki sisi push dan pull factor untuk saling memperkuat kinerja kerjasama negara berkembang, the global south sebagai soft balancing hadirnya ekonomi dan militer AS secara agresif dalam peta global.

‎Sementara itu, PLE Priatna, Direktur Eksekutif Center for Diplomacy Jakarta menyampaikan ulasan mengenai peran Presiden Prabowo dan Presiden Xi Jinping sebagai pengendali game charger yang menggerakkan peta relasi Indonesia China ke depan.

Arah ekonomi politik yang digelindingkan Indonesia di tengah kedigdayaan ekonomi China ini akan memberi nuansa pengaruh dan dampak ketergantungan ekonomi RI yang relatif kepada China.

‎Mengutip studi lembaga CELIOS baru baru ini menyebutkan berdasar Indonesia China Provincial Index relasi ekonomi RI mendekati nilai 42,% yang bisa diartikan hampir mendekati angka 50% atau setengahnya tergantung kepada gerak pertumbuhan perekonomian China. Tidak hanya sebagai pasar komoditas ekspor RI, sumber bahan baku olahan dan juga termasuk investor besar bagi RI.

‎Priatna menyebutkan bahwa di tengah kemajuan yang ada,  Pemerintah China utamanya para investor dan pelaku usaha dari negara tirai bambu ini, harus berhati hati dan mampu mengelola isu  sensitif atau pun sentimen kebangsaan yang menyangkut jumlah proporsional tenaga kerja, dan level buruh yang didatangkan dari China ini, tidak berekses menutup penyerapan tenaga kerja lokal.

‎PLE Priatna mengusulkan menjelang penutupan simposium agar Universitas Jinan berkerjasama dengan pemangku kepentingan swasta dan lainnya, untuk menyelenggarakan seminar atau simposium lanjut yang mengupas aspek-aspek reputasional dalam hubungan kedua negara, termasuk mengelola bias informasi yang berkembang, yang secara perlahan bisa menimbukan misinformasi bangkitnya sentimen negatif.

‎Simposium tentang relasi RI-China di Universitas Jinan ini, terasa berhasil menyuguhkan elemen dan isu penting, reminder bersama perjalanan sejarah, lesson learn politik, ekonomi dan sosial budaya di balik semua aspek relasi yang sekarang hadir dan eksis.

‎Namun agak mengejutkan. Di tengah keberhasilan penyelenggaraan dialog pakar dalam simposium ini, amat disayangkan seolah sekali lagi seakan-akan Indonesia tidak memiliki perwakilan di Ghuang Zou, China ini.

‎Tak ada satu pun diplomat kita turut hadir dalam diskusi ini termasuk mendengar pendapat dari para stake holder dari Indonesia. Kehadiran dan sumbangsih pemikiran para Guru Besar, ahli dan pakar dari tanah air dalam simposium ini, tentu relevan dan penting.

‎Nothing personal. Sangat kontras dengan sambutan hangat dan akrab dari pihak tuan rumah, Universitas Jinan yang begitu antusias menyambut kehadiran tamu dari Jakarta.

‎Dr Li Wannan dan tim Pusat Studi Indonesia Universitas Jinan Ghuangzou, kami ucapkan terimakasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya atas inisiatif, sukses perhelatan dan undangan simposium.







Artikel Lainnya