Jakarta, INDONEWS.ID - Mencoba sesuatu lain dari yang lain itu sah, sah saja namun bila hal itu membuat kita gamang lebih baik ikut arus saja. Film Malam 3 Yassinan drama keluarga yang dibumbui horor, filosofi yang sudah ratusan tahun diterapkan pemilik pabrik gula harus dipertanyakan kala cucunya mengalami cobaan.
Film produksi Helroad Films dan Alkimia menggelar pemutaran perdana di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta. Hadir sutradara, Yanie Sukarya, produser dan pemain antara lain, Wulan Guritno, Amanda Gratiana Soekasah, Janna Soekasah Joesoef, Shaloom Razade, Piet Pagau, Farhan Rasyid, Hamish Daud, dan Baim Wong.
Film ini merupakan film pertama sutradara Yanie Sukarya, ia mencoba mengingatkan penonton 'seramnya' hubungan sedarah dan aborsi. Yanie coba bermain-main dengan misteri dalam keluarga Hendra Djoyodiredjo (Piet Pagau) yang taat memegang filosofi keluarga, demi nama baik.
Meski bergenre horor Malam 3 Yassinan lebih banyak mengeksplor drama keluarga, horornya mungkin hanya 20 persen. Scene horornya mirip-mirip film luar, seperti The Ring dimana hantunya keluar dari monitor TV, di film garapan Yanie keluar dari cermin lemari lalu memburu tokoh di film tersebut.
Film diawali acara keluarga Hendra Djoyodiredjo pemilik pabrik gula, satu per satu kegiatan anggota keluarga direkam oleh cucu tertua Djoyodiredjo, Sena (Farhan Rasyid) lalu diakhiri foto bersama sekeluarga.
Beberapa hari setelah acara itu, Samira (Shaloom Razade) dihampiri Sara (Shaloom Razade) kakaknya, kaget karena meski bersaudara mereka tak tinggal satu rumah. Sara tinggal di rumah opa Djoyodiredjo sementara Samira di tempat lain yang jaraknya lumayan jauh dari kediaman opanya.
Saat Samira memeluk Sara di luar kamar, telepon berdering Samira segera menerima panggilan telepon dan mendapat kabar Sara telah tiada. Samira bingung bercampur takut, karena ia baru saja memeluk Sara yang dikabari meninggal, begitu ia menoleh ke luar kamar Sara sudah tak ada.
Secepatnya Samira pergi ke rumah opanya dan ternyata kabar yang ia terima tentang kematian Sara benar. Malamnya keluarga Djoyodiredjo menggelar tahlilan (Yassinan), ditengah warga membaca Yasin terjadi keanehan, Lily (Janna Soekasah) isteri pamannya Baskara (Hamish Daud) seorang polisi berpangkat AKBP, kerasukan.
Warga pun berhamburan meninggalkan rumah keluarga Djoyodiredjo, Samira yang belum rela melepas kepergian Sara mencoba cari tahu penyebab kematian Sara yang diinformasikan tewas karena jatuh saat memeriksa mesin di pabrik milik opanya. Kecurigaan Samira itu datang karena sering munculnya hantu Sara, hal itu sinyal bagi Samira bahwa Sara ingin meminta bantuan dirinya.
Di malam tahlil kedua, giliran Samira yang kerasukan, saat seluruh keluarga dan 4 warga yassinan Samira mendengar alunan biola, Sara semasa hidup merupakan pemain biola handal. Samira mengikuti sumber suara itu dan ternyata dari gudang penyimpanan barang tak terpakai. Samira melihat biola milik Sara, ia ambil. Tahlil berhenti karena terdengar teriakan Samira, satu per satu anggota keluarga pergi ke gudang. Samira yang kerasukan menyerang Layla (Wulan Guritno) ibu tirinya, ayahnya punya 2 isteri, Layla dan Lana (Amanda Gratiana) ibunya.
Di malam ketiga tahlilan Samira tahu apa yang terjadi dengan kematian Sara, ia sengaja dilepas oleh opanya saat jatuh dari lantai 3 ruang mesin di pabrik gula. Sena yang masih memegang tangan Sara pegangannya terus melemah dan lepas, tewaslah Sara jatuh dari lantai 3.
Di malam itu pula, arwah penasaran Sara tahu jawaban kenapa opanya melepas pegangan, karena Hendra Djoyodiredjo lebih memilih nama baiknya daripada menyelamatkan cucunya yang dianggap telah mencemarkan filosofi keterunan yang sudah dipegang ratusan tahun. Lebih baik menjunjung nama baik daripada menyimpan aib.
Film ini terjebak alur konflik keluarga Djoyodiredjo, kemunculan hantu Sara terasa dipaksakan, padahal ia bisa kapanpun dimunculkan tapi kenapa harus saat tahlilan. Meski demikian sebagai film debutan Yanie, ia mampu membangun alur dari awal hingga akhir. Sayangnya di awal film mata penonton dibuat ngantuk, tapi bagaimanapun film ini baik untuk ditonton apalagi buat kita yang memegang tradisi leluhur.