Jakarta, INDONEWS.ID - Banyak cara memutar ingatan tentang suatu yang sudah berlalu, perayaan sederhana berdirinya suratkabar kampus Salemba memutar ulang ingatan Menkokumham Imipas dan pengusaha sukses. Bagi keduanya suratkbar Salemba bukan sekedar bacaan tapi juga menginsprasi Yusril Ihza Mahendra dan Chairul Tanjung menjadi tokoh terkemuka.
Tanggal 14 Januari merupakan awal terbitnya koran Salemba, hal itupun diperingati sejumlah alumni Universitas Indonesia di Fakultas Kedokteran UI, Salemba Raya, Jakarta.
Koran Salemba didirikan tahun 1976, meski diasuh mahasiswa UI namun suratkabar ini dibaca oleh masyarakat luas. Namun keberadaan koran Salemba sempat memiliki oplah 30 ribu eksemplar tapi hanya bertahan 4 tahun, koran ini ditutup (breidel) oleh pemerintah saat itu.
Meski hanya beredar 4 tahun namun banyak pesohor merasa terbantu dengan pemberitaan koran tersebut. Seperti Menkumham Imipas Yusril Ihza Mahendra kala memutar ulang ingatannya dengan koran Salemba. Tahun berdirinya koran Salemba sama dengan tahun dirinya masuk kampus UI.
Koran itu jadi bacaannya, baik di kampus maupun saat di kost. Yusril Remaja adalah mahasiswa perantau yang tinggal di rumah kost tak jauh dari kampus Salemba.
Ia teringat saat masih dipimpin penguasa militer, dimana-mana ada tentara bahkan tank pun masuk kampus untuk meredam demo mahasiswa. Dirinya tahu kabar siapa yang ada di tank tersebut dari koran Salemba, seorang Jendral berpangkat Bintang Satu.
lalu ingatannya lompat kala sudah masuk dunia kerja, saat itu ia pergi ke China dan menuju hotelnya menumpang taksi. Dalam perjalanan ia berbicara dengan supir taksi, menanyakan pendapatnya tentang Mao Zedong, si supir menjawab menghormati dia karena Mao pimpinan di zamannya.
menurutnya, kita harus menghormati siapapun pemimpin kita, karena para pemimpin itu mereka adalah pimpinan di zamannya.
Sementara, pemilik Trans Corp Chairul Tanjung beda lagi memorinya dengan koran Salemba, bukan dengan informasinya tapi dengan para jurnalisnya. Ia masuk UI karena terinspirasi dari pledoi yang dibukukan 2 pembuatnya. 2 penulis itu adalah jurnalis koran Salemba yang menjadi tahanan politik, usai membaca Chairul remaja bertekad masuk UI.
Lalu ia membicarakan soal media yang terus mengalami perkembangannya, dahulu cetak merajai lalu diganti televisi kemudian ke online, dan saat ini media sosial jadi pilihan masyarakat.
Lalu ia mengingatkan semua pihak terutama mereka yang ingin 'menghidupkan' lagi media cetak. Bahwa era telah berubah, kini semua 'tersihir' media sosial seperti IG, Tiktok atau Youtube, jika tak tertelan zaman sebaiknya mengikuti perubahan itu, menoleh ke Tiktok, IG maupun Youtube.
"Coba perhatikan mulai dari anak-anak, gen Z, orang seperti kita maupun kakek-kakek, mau tidur atau bangun tidur scrol-scrol dulu, lihat Tiktok. Sekarang tuh kalau ancam anak sperti era kita tapi cukup ambil HP-nya", ujar boss Trans Crop.
Di perayaan 26 tahun koran Salemba, ia terkenang dengan lokasi acara yaitu di auditorium Fakultas Kedokteran, dimana 26 tahun yang lalu ia juga berdiri di panggungnya bukan sebagai pembicara tapi wisudawan yang berhak menyandang gelar dokter gigi.
"Saya ini dokter gigi yang gak pernah praktek sama sekali malah ngurusin ekonomi", kilahnya mengakhiri perkataannya sebagai pembicara kunci.