Opini

MBG: ANTARA INVESTASI SDM, EKONOMI RAKYAT, DAN UJIAN TATA KELOLA NEGARA

Oleh : luska - Selasa, 19/05/2026 23:10 WIB


Oleh: Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol ‘86

PENDAHULUAN:
MBG BUKAN SEKADAR PROGRAM MAKAN GRATIS

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hari ini menjadi salah satu program nasional terbesar di Indonesia.

Sebagian masyarakat melihat MBG sebagai langkah besar negara untuk memperbaiki kualitas gizi anak dan menyiapkan generasi masa depan.

Sebagian lain mempertanyakan: anggaran,
pengawasan, kualitas pelaksanaan, hingga potensi permainan proyek di lapangan.

Perdebatan itu wajar.

Karena MBG bukan program kecil. Ia menyentuh: anak sekolah, ibu hamil, rantai pangan, petani, UMKM, logistik, hingga anggaran negara dalam skala sangat besar.

Karena itu MBG tidak boleh dibaca hanya sebagai:
“program bagi makanan.”

Tetapi harus dibaca sebagai: program strategis yang menyentuh fondasi SDM dan ekonomi nasional.

KONSEP HULU:
MENGAPA MBG DILAHIRKAN?

Secara konsep dasar, MBG lahir dari pemikiran bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia tidak dapat dipisahkan dari masalah:

gizi, stunting, ketimpangan pangan, dan kualitas kesehatan anak.

Negara-negara besar juga melakukan hal serupa.

Program makan sekolah telah lama dipakai di berbagai negara sebagai:
instrumen kesehatan, pendidikan, dan stabilitas sosial.

Di Brazil, program makan sekolah terhubung dengan petani lokal.

Di India, program makan sekolah menjadi bagian penting pengurangan kemiskinan dan gizi buruk.

World Food Programme (WFP) bahkan menempatkan school feeding programme sebagai bagian penting pembangunan SDM dunia.

Artinya:
secara konsep dasar, MBG bukan sesuatu yang aneh.

Ia memiliki dasar logika sosial dan ekonomi yang kuat.

TUJUAN BESAR MBG:
BUKAN HANYA GIZI, TETAPI EKONOMI BERANTAI

Di balik MBG sebenarnya terdapat efek ekonomi berantai yang besar.

Karena ketika jutaan porsi makanan diproduksi setiap hari, maka yang bergerak bukan hanya dapur.

Tetapi juga: petani, peternak, nelayan, transportasi,
UMKM, pengolahan pangan, hingga tenaga kerja lokal.

Artinya:
MBG berpotensi menjadi penggerak ekonomi rakyat dari bawah.

Hal ini juga mulai dihubungkan pemerintah dengan:
koperasi desa, UMKM, dan distribusi pangan lokal.

Karena itu banyak pihak melihat MBG bukan hanya program sosial, tetapi juga: instrumen penguatan ekonomi domestik.

Namun di sinilah tantangan besar mulai muncul.

Karena semakin besar program, semakin besar pula risiko tata kelolanya.

PERMASALAHAN LAPANGAN:
UJIAN BESAR PROGRAM MBG

Di lapangan mulai muncul berbagai persoalan.

Mulai dari: keterlambatan dapur layanan, standar kebersihan, kualitas bahan makanan, distribusi,
pengawasan, hingga kasus keracunan makanan di beberapa tempat.

Sebagian masalah mungkin bersifat teknis dan wajar dalam tahap awal program besar.

Tetapi sebagian lain menunjukkan bahwa MBG bukan sekadar urusan memasak.

Ia adalah ujian kapasitas sistem negara.

Karena program sebesar ini membutuhkan: rantai pasok yang stabil, pengawasan ketat, SDM yang terlatih, audit berkala, dan standar keamanan pangan yang disiplin.

Jika salah satu mata rantai lemah, maka dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat.

PRESIDEN PRABOWO:
“MBG BANYAK MASALAH, KITA HARUS TERTIBKAN”

Menariknya, Presiden Prabowo Subianto sendiri secara terbuka mengakui bahwa pelaksanaan MBG masih menghadapi banyak persoalan.

Saat peresmian Kopdes Merah Putih di Nganjuk pada 16 Mei 2026, Presiden menyatakan:

“MBG banyak masalah, kita harus tertibkan.”

Beliau juga menyinggung persoalan integritas sebagian pelaksana yang dinilai lemah ketika berhadapan dengan uang dan kewenangan.

Pernyataan ini penting.

Karena menunjukkan bahwa pemerintah sendiri memahami: program sebesar MBG tidak mungkin berjalan baik hanya dengan niat besar dan anggaran besar.

Ia membutuhkan: integritas, pengawasan, dan disiplin tata kelola yang kuat.

Semakin besar sebuah program nasional,
semakin besar pula kebutuhan terhadap integritas, transparansi, dan disiplin tata kelola.

Namun pada saat yang sama, Presiden juga menegaskan bahwa MBG tetap penting bagi rakyat kecil.

Menurut beliau, banyak masyarakat meminta agar program ini tidak dihentikan karena membantu kebutuhan pangan keluarga.

Di sinilah terlihat bahwa MBG hari ini berada di persimpangan besar:

di satu sisi sangat dibutuhkan masyarakat,
tetapi di sisi lain menghadapi tantangan tata kelola yang serius.

RISIKO YANG JARANG DIBICARAKAN:
TATA KELOLA DAN KONSENTRASI KEKUATAN EKONOMI

Dalam program berskala sangat besar seperti MBG,
potensi konsentrasi vendor, dominasi kelompok tertentu dalam pengadaan, konflik kepentingan,
dan ketimpangan akses pelaksana lapangan,
merupakan risiko tata kelola yang harus diawasi secara serius.

Karena itu transparansi pengadaan, audit independen, pemerataan kesempatan, dan pengawasan publik, menjadi sangat penting.

Tujuannya agar program tetap berfokus pada:
gizi rakyat, penguatan ekonomi lokal, dan pembangunan SDM.

Bukan sekadar menjadi:
perputaran proyek atau konsentrasi keuntungan pada kelompok tertentu.

Karena dalam banyak negara, program sosial berskala besar sering menghadapi persoalan yang sama: vendor besar mendominasi,
pelaku kecil tersingkir, kualitas turun demi efisiensi,
dan orientasi pelayanan berubah menjadi orientasi anggaran.

Indonesia harus belajar dari pengalaman tersebut.

PRO DAN KONTRA:
KEDUANYA MEMILIKI DASAR

Kelompok yang mendukung MBG melihat program ini sebagai:

investasi SDM jangka panjang, penguatan gizi nasional, pengurangan stunting, serta penggerak ekonomi rakyat.

Namun kelompok yang kritis juga memiliki alasan yang perlu didengar.

Mereka mempertanyakan: kesiapan pelaksanaan,
pengawasan, efektivitas anggaran, potensi pemborosan, hingga kualitas distribusi lapangan.

Sebagian bahkan meminta evaluasi total,
bahkan penghentian sementara program.

Dalam negara demokrasi, kritik seperti itu tidak boleh dianggap musuh.

Karena program besar justru membutuhkan:
pengawasan publik, koreksi, dan evaluasi terus-menerus.

PEMBANDING NEGARA LAIN:
PROGRAM MAKAN SEKOLAH TIDAK SELALU MUDAH

Pengalaman dunia menunjukkan:
program makan sekolah memang dapat berhasil,
tetapi juga sangat mudah bermasalah jika tata kelolanya lemah.

India misalnya, menghadapi persoalan kualitas makanan ketika inflasi pangan naik.

Beberapa negara Amerika Latin menghadapi masalah vendor dan distribusi.

Sedangkan negara yang relatif berhasil biasanya memiliki: pengawasan kuat, keterlibatan petani lokal, standar gizi yang jelas, audit rutin, dan transparansi pengadaan.

Artinya:
kunci keberhasilan bukan hanya anggaran besar.

Tetapi:
kekuatan sistem pengawasan dan tata kelola.


MBG DAN MASA DEPAN INDONESIA

Pada akhirnya, MBG adalah pertaruhan besar Indonesia terhadap masa depan SDM nasional.

Jika berhasil, program ini dapat membantu: perbaikan gizi, penguatan ekonomi lokal, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan kualitas generasi masa depan.

Tetapi jika tata kelolanya lemah, program sebesar ini juga dapat memunculkan: pemborosan, ketimpangan, masalah kualitas, hingga hilangnya kepercayaan publik.

Karena itu MBG tidak boleh dibaca secara emosional.

Tidak cukup hanya dipuji.

Tetapi juga tidak cukup hanya dicaci.

Program sebesar ini harus terus:
dievaluasi,
diperbaiki,
dan diawasi secara terbuka.

KESIMPULAN:
PROGRAM BESAR HARUS DIJAGA AGAR TIDAK KEHILANGAN TUJUAN

MBG bukan sekadar soal makanan.

Ia menyentuh: gizi, ekonomi rakyat, ketahanan pangan, hingga masa depan kualitas manusia Indonesia.

Karena itu keberhasilan MBG bukan hanya ditentukan oleh:
berapa banyak makanan dibagikan.

Tetapi oleh:
apakah program ini benar-benar memperkuat rakyat,
atau justru melemah karena tata kelola yang buruk.

Di sinilah negara diuji.

Karena program besar yang baik bukan program yang bebas kritik.

Tetapi program yang mampu terus diperbaiki demi mencapai tujuan utamanya:
membangun generasi Indonesia yang lebih sehat, kuat, dan berkualitas.

Jakarta, 19 Mei 2026

Penulis:
Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol

Artikel Lainnya