Jakarta, INDONEWS.ID - Di tengah ribuan warga Flores yang masih bertahan di pengungsian setelah gempa bumi magnitudo 7,7, persoalan distribusi bantuan mulai memunculkan ketegangan di lapangan. Video seorang camat di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang terlibat adu mulut dengan anggota Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait pembagian bantuan pun viral di media sosial.
Dalam video tersebut, Camat Lamba Leda Utara, Agustinus Supratman, terlihat menyampaikan protes dengan nada tinggi. Ia mengaku berada dalam tekanan karena harus memastikan bantuan yang jumlahnya terbatas dapat menjangkau warga di 11 desa.
Agustinus menilai persoalan distribusi bantuan tidak bisa hanya diselesaikan dengan membagi bantuan secara rata tanpa mempertimbangkan jumlah penduduk dan tingkat kebutuhan masing-masing wilayah.
"Saya merasa tertekan sekali, terbebani. Saya harus membagi ke 11 desa, tapi bukan begitu caranya. Semua desa sekarang protes ke saya, semua bertanya di mana bantuannya. Sementara bantuan yang ada jumlahnya sedikit, tapi harus dibagi ke banyak orang. Bagaimana caranya?" ujar Agustinus dalam video yang beredar, Jumat (21/8/2026).
Ia menyebut wilayah yang dipimpinnya memiliki sekitar 21.171 jiwa penduduk. Karena itu, menurut dia, jumlah bantuan yang tersedia harus diperhitungkan secara cermat agar tidak menimbulkan persoalan baru di tengah masyarakat.
Agustinus juga mempersoalkan anggapan bahwa bantuan yang telah diterima dalam jumlah besar. Menurut dia, kondisi di lapangan menunjukkan persediaan tersebut belum mencukupi kebutuhan warga di seluruh desa.
"Bapak bilang bantuan banyak sekali, padahal yang ada hanya ini. Saya tidak suka ditekan untuk membagi rata ke 11 desa padahal jumlahnya sedikit. Saya stres, laporan ke kementerian dan telepon dari mana-mana terus masuk. Saya tidak tahan lagi," tegasnya.
Minta Bantuan Transparan dan Tepat Sasaran
Agustinus kemudian meminta agar penyaluran bantuan dilakukan secara transparan dan berdasarkan kebutuhan warga terdampak. Menurut dia, pembagian bantuan semestinya mempertimbangkan jumlah penduduk, tingkat kerusakan, serta kondisi warga di masing-masing desa. Ia meminta agar aparat di lapangan tidak mendapat tekanan dalam mengambil keputusan distribusi.
"Kita urus masyarakat ini bersama-sama. Jangan ada tekanan-tekanan. Saya hargai setiap bantuan yang datang, tapi harus adil dan tepat sasaran. Jangan sampai warga yang paling membutuhkan justru tidak mendapatkannya," ujarnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak BNPB mengenai perdebatan yang terekam dalam video tersebut.
Namun, persoalan distribusi bantuan memang menjadi salah satu tantangan dalam penanganan bencana di Flores. Banyaknya wilayah terdampak dan tingginya jumlah pengungsi membuat kebutuhan logistik meningkat, sementara sebagian daerah memiliki akses yang tidak mudah dijangkau.
BNPB Akui Masih Ada Kekurangan
Kepala BNPB Letjen Suharyanto sebelumnya mengakui masih terdapat sejumlah kekurangan dalam penanganan pascabencana gempa NTT.
"Kami terus bekerja keras dan cepat untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di pengungsian dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi di lapangan," kata Suharyanto dalam keterangan tertulis, Jumat.
Menurut dia, penanganan bencana masih menghadapi sejumlah tantangan yang harus diselesaikan secara terpadu. Salah satunya adalah keluhan mengenai keterbatasan air bersih dan listrik di sejumlah lokasi pengungsian.
"Kami memahami kesulitan yang dialami saudara-saudara kita di pengungsian," ujar Suharyanto.
Ia menyebut bantuan logistik Presiden telah didistribusikan ke sejumlah wilayah terdampak. Dalam periode 15-19 Agustus 2026, total bantuan yang dikirimkan mencapai 411 ton.
Pada 19 Agustus saja, distribusi bantuan melalui jalur udara mencapai 72,77 ton. Pengiriman antara lain mencakup 5.000 paket sembako ke Posko Maumere dan 2.900 paket sembako ke Posko Labuan Bajo.
Untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses melalui jalur darat, pemerintah juga mengerahkan armada laut.
KRI Bung Hatta diberangkatkan dari Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pelabuhan Reok, Kabupaten Manggarai. Kapal tersebut membawa bantuan Presiden RI, sembako, tenda keluarga, tenda pengungsi, serta donasi masyarakat untuk disalurkan ke Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.
Sementara TNI AL mengerahkan KRI dr. Soeharso untuk mendukung pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak. Bantuan yang disiapkan meliputi beras, sembako, air mineral, obat-obatan, matras, selimut, tenda, hygiene kit, bahan bakar minyak, genset, dan kebutuhan lainnya.
Sebanyak 882 unit tenda juga telah disiapkan, terdiri atas 215 tenda pengungsi berukuran 6×12 meter dan 667 tenda keluarga berukuran 4×4 meter. Selain itu, dua unit rumah sakit lapangan telah disiapkan untuk mendukung pelayanan kesehatan.
"Kami memastikan distribusi terus berjalan ke wilayah terisolasi, termasuk melalui jalur laut dan udara, agar kebutuhan dasar warga di pengungsian dan daerah terdampak terpenuhi," kata Suharyanto.
Korban Gempa Terus Bertambah
Di tengah persoalan distribusi bantuan tersebut, dampak gempa NTT juga terus berkembang. BNPB pada Jumat (21/8) pukul 16.00 WIB mencatat korban meninggal dunia mencapai 83 orang.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan angka tersebut bertambah delapan orang dibandingkan data sebelumnya yang mencapai 75 korban meninggal.
"Pada hari ini pukul 16.00 WIB, Jumat, 21 Agustus 2026, jumlah yang meninggal menjadi 83 jiwa. Yang semula, yang kemarin kami sampaikan 75 jiwa bertambah 8 jiwa dengan rincian bahwa yang meninggal adalah akibat dampak tidak langsung dari gempa," ujar Berton.
Tambahan korban meninggal tersebut berasal dari Kabupaten Manggarai sebanyak dua orang, Manggarai Timur dua orang, Nagekeo dua orang, dan Ngada satu orang.
Sementara korban luka tercatat sebanyak 986 orang. Jumlah tersebut meningkat 79 orang dari laporan sebelumnya. Jumlah warga yang mengungsi juga melonjak menjadi 110.785 orang, bertambah 18.050 orang dibandingkan data sebelumnya sebanyak 92.735 orang.
Kerusakan rumah tercatat mencapai 44.946 unit, terdiri dari 17.176 rumah rusak berat, 9.758 rusak sedang, dan 18.013 rusak ringan. Kabupaten dengan jumlah rumah rusak terbanyak yakni Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan Manggarai.
4.258 Gempa Susulan
Sementara itu, aktivitas kegempaan di Flores masih berlangsung setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 pada Sabtu (15/8/2026). BMKG hingga Jumat pukul 16.00 WIB mencatat sebanyak 4.258 gempa susulan. Gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil bermagnitudo 1,1.
Dari ribuan gempa tersebut, sebanyak 118 gempa dirasakan oleh masyarakat.
Situasi tersebut membuat kebutuhan penanganan darurat di Flores masih sangat tinggi. Di tengah terus terjadinya gempa susulan, meningkatnya jumlah pengungsi dan kerusakan rumah, distribusi bantuan yang adil, transparan, dan tepat sasaran menjadi semakin penting agar warga yang paling membutuhkan tidak terlewatkan.