Jakarta, INDONEWS.ID - Di tengah suasana duka dan kepanikan warga yang belum sepenuhnya pulih setelah gempa dahsyat mengguncang Flores, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi datang langsung ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia tak hanya membawa bantuan miliaran rupiah, tetapi juga turun ke tengah warga untuk memastikan bantuan diterima masyarakat terdampak.
Dedi mengunjungi sejumlah wilayah terdampak gempa di NTT sejak Jumat (21/8/2026). Kunjungannya itu didokumentasikan melalui akun media sosial Instagram dan YouTube miliknya.
Dedi datang bersama Wali Kota Depok Supian Suri. Keduanya terlihat berangkat dari bandara dan duduk berdampingan dalam penerbangan menuju NTT. Dalam kunjungan tersebut, Dedi membawa bantuan senilai Rp4,5 miliar untuk masyarakat terdampak gempa. Bantuan itu berasal dari dua sumber.
Sebanyak Rp4 miliar dihimpun Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama sejumlah pihak lintas sektor. Sementara Rp500 juta lainnya dikumpulkan Pemerintah Kota Depok melalui aparatur sipil negara (ASN), masyarakat, serta Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Depok.
"Jadi kita hari ini membawa titipan dana sebesar Rp4,5 miliar. Rp4 miliar dari provinsi, Rp500 juta dari Depok," ujar Dedi dalam video yang diunggah melalui akun Instagram @dedimulyadi71, Jumat.
Bagikan Uang Langsung kepada Warga
Dalam video lainnya, Dedi terlihat berada di tengah kerumunan warga korban gempa. Ia memberikan bantuan uang tunai secara langsung kepada masyarakat. Salah satu bantuan yang dibagikan mencapai Rp18 juta untuk 60 kepala keluarga. Dedi meminta dana tersebut dibagikan kepada setiap keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Saya titip uang Rp18 juta, kasih tiap rumah Rp300 ribu buat belanja ke pasar besok," tuturnya.
Langkah Dedi turun langsung ke lapangan dilakukan ketika kebutuhan warga terdampak masih tinggi. Ribuan warga masih berada di lokasi pengungsian setelah gempa utama mengguncang Flores pada pekan sebelumnya.
Gempa M7,7 Guncang Flores
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Pulau Flores pada Sabtu (15/8/2026). Gempa terjadi pada kedalaman sekitar 15 kilometer, dengan pusat gempa berada sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.
Guncangan tersebut kemudian diikuti ribuan gempa susulan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga Jumat (21/8) pukul 05.00 WIB terdapat 4.258 aktivitas gempa susulan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 118 gempa dirasakan masyarakat. Sebanyak 31 gempa susulan tercatat memiliki magnitudo di atas 5,0.
Aktivitas gempa susulan tersebut membuat masyarakat di sejumlah wilayah terdampak masih harus menghadapi ketidakpastian. Selain ancaman guncangan berikutnya, kebutuhan pangan, tempat tinggal, layanan kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya terus meningkat.
Korban Meninggal Capai 83 Orang
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat dampak gempa hingga Jumat (21/8) pukul 16.00 WIB terus bertambah. Sebanyak 83 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut. Sementara korban luka-luka mencapai 986 orang.
Jumlah warga yang mengungsi juga meningkat tajam. BNPB mencatat sebanyak 110.785 orang kini berada di pengungsian. Angka tersebut bertambah 18.050 orang dibandingkan laporan sebelumnya yang mencatat 92.735 pengungsi.
Kerusakan infrastruktur, terutama rumah warga, juga cukup besar. BNPB mencatat 44.946 unit rumah mengalami kerusakan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 17.176 rumah masuk kategori rusak berat, 9.758 rusak sedang, dan 18.013 rusak ringan.
Kabupaten Manggarai Timur menjadi wilayah dengan jumlah rumah rusak terbanyak, yakni 5.962 unit. Berikutnya Kabupaten Manggarai dengan 3.146 unit dan Manggarai Barat sebanyak 3.050 unit.
Di tengah besarnya dampak bencana tersebut, bantuan dari berbagai daerah terus berdatangan ke Flores. Kunjungan Dedi Mulyadi dan bantuan Rp4,5 miliar dari Jawa Barat serta Depok menjadi salah satu bentuk dukungan antardaerah bagi masyarakat NTT yang masih berjuang bangkit setelah gempa besar.