Nasional

Munas XVII ISKA Luncurkan Buku "Teologi Publik dan Dialog Aksi"

Oleh : Rikard Djegadut - Sabtu, 12/09/2026 20:07 WIB


Munas XVII ISKA Luncurkan Buku "Teologi Publik dan Dialog Aksi"

Jakarta, INDONEWS.ID – Buku ini tidak direncanakan sejak awal. Ia lahir dari tumpukan pengalaman, catatan lapangan, percakapan yang melampaui agenda resmi, serta malam-malam panjang untuk merumuskan respons atas peristiwa yang bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia memahaminya.

Begitulah Pastor Moderator Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (PP ISKA) Periode 2022–2026, Dr. Antonius Widyarsono, SJ, menggambarkan asal-usul buku Teologi Publik dan Dialog Aksi: Sarjana Katolik di Ruang Publik Indonesia.

Buku tersebut dipersembahkan oleh Presidium Dialog Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAAK) PP ISKA Periode 2022–2026 dalam rangkaian Musyawarah Nasional XVII ISKA di Balikpapan, 11–13 September 2026.

Karya setebal 346 halaman ini ditulis oleh M.M. Restu Hapsari dan Yogen Sogen, yang diterbitkan oleh Tulisan Bermakna di Jakarta pada September 2026.

Buku ini merangkum proses, pengalaman, refleksi, dan program yang dijalankan Presidium Dialog HAAK PP ISKA selama satu periode kepengurusan. Struktur pembahasannya mengikuti metode klasik dalam tradisi Aksi Katolik, See-Judge-Act, yakni melihat realitas secara jujur, menilainya dengan kerangka iman dan akal budi, kemudian bertindak dengan integritas.

Pada bagian pertama, buku ini membangun fondasi teologis dengan menelusuri perkembangan tradisi Ajaran Sosial Gereja, mulai dari ensiklik Rerum Novarum hingga Magnifica Humanitas. Bagian kedua menyajikan analisis kebijakan berbasis data dari berbagai lembaga kredibel, termasuk persoalan kebebasan beragama dan berkeyakinan serta ketimpangan struktural. Sementara bagian ketiga merumuskan peta jalan strategis yang konkret dan terukur bagi kepengurusan berikutnya.

Restu Hapsari dan Yogen Sogen menempatkan buku ini sebagai ikhtiar untuk mempertemukan refleksi intelektual dengan pengalaman konkret di lapangan.

“Kami menulis ini bukan dari kursi pengamat. Setiap bab berangkat dari kasus yang kami suarakan, dari orang-orang yang namanya tidak muncul di berita. Teologi publik menjadi kosong kalau tidak bisa menjawab pertanyaan paling sederhana, yakni apa yang berubah bagi mereka?” ujar Restu.

Berbagai rekam jejak yang didokumentasikan dalam buku tersebut mencakup penyikapan terhadap persoalan kebebasan beragama dan berkeyakinan di sejumlah daerah, antara lain Lampung, Cimacan, Cidahu, dan Taraju. Selain itu, buku ini juga merekam inisiasi Pendidikan Kader Kebangsaan, perumusan Deklarasi Lintas Iman, serta berbagai kerja sama dengan organisasi cendekiawan keagamaan dan kelompok masyarakat sipil lainnya.

Menurut Pastor Widyarsono, para penulis buku ini tidak memilih jalan mudah. Mereka tidak berhenti pada retorika keagamaan yang menghibur, tetapi berusaha masuk ke dalam realitas yang sering kali pahit dan tidak nyaman.

Realitas tersebut tercermin dalam angka-angka pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan, data kemiskinan struktural, laporan intimidasi terhadap pengkritik kebijakan, hingga dokumentasi mengenai penyempitan ruang sipil.

Meski lahir dari tradisi Katolik, buku ini tidak dimaksudkan untuk berbicara hanya kepada kalangan Katolik.

Pastor Widyarsono menyebut buku tersebut sebagai sebuah tangan yang diacungkan untuk berjabat dengan sarjana dan cendekiawan lintas iman. Dialog itu diarahkan kepada berbagai kelompok dan organisasi, seperti ISNU, PIKI, ICHI, KCBI, komunitas Penghayat Kepercayaan, serta berbagai tradisi keagamaan lainnya.

Alasannya sederhana. Kebebasan beragama, keadilan ekonomi, integritas demokrasi, dan martabat manusia merupakan persoalan bersama yang tidak mengenal batas denominasi maupun tradisi keagamaan.

Karena itu, buku Teologi Publik dan Dialog Aksi tidak hanya berbicara tentang apa yang telah dilakukan. Buku ini juga berusaha menawarkan arah mengenai apa yang perlu dilanjutkan.

Kepada jajaran pengurus ISKA Periode 2026–2030, terdapat pesan agar buku ini tidak berhenti sebagai dokumen arsip. Buku tersebut diharapkan menjadi peta percakapan, bahan refleksi, sekaligus pijakan bagi kerja-kerja organisasi pada periode berikutnya.

Ketua Presidium PP ISKA, Dr. Luky A. Yusgiantoro, dalam kata sambutannya menilai karya tersebut melampaui bentuk laporan pertanggungjawaban organisasi.

Buku ini, menurutnya, merupakan pemetaan gagasan sekaligus kompas tindakan bagi keberlanjutan perutusan ISKA di tengah perubahan sosial, politik, ekonomi, dan teknologi yang terus bergerak.

Peluncuran Teologi Publik dan Dialog Aksi: Sarjana Katolik di Ruang Publik Indonesia dalam Munas XVII ISKA di Balikpapan pun menjadi penanda bahwa kerja organisasi tidak hanya meninggalkan jejak kegiatan, tetapi juga berusaha meninggalkan warisan pemikiran.

Warisan itu berangkat dari satu keyakinan: iman tidak cukup berhenti di ruang privat, dan intelektualitas tidak boleh kehilangan keberpihakannya kepada manusia.

Bagi Presidium Dialog HAAK PP ISKA Periode 2022–2026, teologi publik menemukan maknanya ketika ia berani memasuki pergumulan nyata masyarakat. Ketika refleksi bertemu dengan kenyataan. Ketika dialog melahirkan tindakan.

Dan ketika sarjana tidak hanya berbicara tentang Indonesia, tetapi ikut mengambil bagian dalam pergumulan untuk memperbaikinya.


Data Buku

Judul: Teologi Publik dan Dialog Aksi: Sarjana Katolik di Ruang Publik Indonesia

Penulis: M.M. Restu Hapsari dan Yogen Sogen

Penyusun: Presidium Dialog HAAK PP ISKA Periode 2022–2026

Kata Sambutan: Dr. Luky A. Yusgiantoro dan Dr. Antonius Widyarsono, SJ

Penerbit: Tulisan Bermakna

Kota dan Tahun Terbit: Jakarta, September 2026

Tebal: 346 halaman

Artikel Lainnya