Nasional

Women`s World Banking Jalin Kerja Sama Strategis dengan KP2MI Kembangkan Kajian Pemanfaatan dan Dampak Remitansi terhadap Kesejahteraan Pekerja Migran Indonesia

Oleh : luska - Kamis, 17/09/2026 18:32 WIB


Women`s World Banking Jalin Kerja Sama Strategis dengan KP2MI Kembangkan Kajian Pemanfaatan dan Dampak Remitansi terhadap Kesejahteraan Pekerja Migran Indonesia

Jakarta, INDONEWS.ID – Di balik aliran dana dari luar negeri (remitansi) dari Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang berdasarkan data Bank Indonesia mencapai USD17,2 miliar atau sekitar Rp288,1 triliun pada tahun 2025, masih terdapat tantangan untuk memastikan uang yang dikirim pulang dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih berkelanjutan bagi pekerja migran dan keluarganya. Berdasarkan data Bank Indonesia, remitansi tersebut terus meningkat, tetapi pemanfaatannya masih banyak terserap untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sementara pemanfaatan remitansi untuk kegiatan produktif masih relatif terbatas. 


Berdasarkan data Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), dari layanan penempatan yang diberikan kepada 296.948 calon PMI pada tahun 2025, sekitar 63,13% merupakan perempuan. Bagi mereka, manfaat remitansi tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak uang yang dapat dikirimkan kepada keluarga, tetapi juga bagaimana dana tersebut dikelola, siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan, dan sejauh mana penghasilan dari bekerja di luar negeri dapat memperkuat ketahanan ekonomi mereka dan keluarganya dalam jangka panjang. Besarnya proporsi PMI perempuan menunjukkan pentingnya perspektif gender dalam memahami dampak remitansi di Indonesia. 


Hingga saat ini belum ada kerangka pengukuran yang komprehensif untuk mengukur dampak remitansi terhadap kesejahteraan PMI maupun pembangunan ekonomi daerah. Menjawab tantangan tersebut, Women’s World Banking bekerja sama dengan KP2MI melalui Direktorat Jenderal Pemberdayaan dalam menyusun “Kajian Dampak Remitansi serta mengembangkan Indonesia Remittance Development Index (IRDI)” yang ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama pada Kamis (17/9) di Jakarta. 


“Kita tidak ingin remitansi hanya dipandang sebagai aliran dana yang dikirim oleh pekerja migran, tetapi juga sebagai modal yang harus mampu menciptakan nilai tambah, memperkuat kemandirian ekonomi keluarga PMI, dan memberi kontribusi untuk pembangunan di desa dan daerah asalnya. Kami berharap data yang dihasilkan melalui kerja sama penyusunan kajian ini nantinya dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan yang lebih baik, karena data tersebut akan memberikan arah sekaligus menunjukkan sejauh mana program benar-benar memberikan dampak menyeluruh,” ujar Dr. Muh. Fachri, S.STP., M.Si., Direktur Jenderal Pemberdayaan, KP2MI.   


Diskusi ini menggali sejumlah pertanyaan mendasar, yakni manfaat remitansi yang paling relevan untuk diukur, data yang tersedia untuk mengukurnya, indikator yang dapat menangkap perubahan dalam kehidupan PMI dan keluarganya, serta bagaimana hasil kajian dapat digunakan untuk memperkuat kebijakan dan program terhadap PMI. Masukan dari berbagai pemangku kepentingan juga akan menjadi dasar awal dalam menentukan bagaimana IRDI dapat dikembangkan sebagai instrumen untuk melihat sinyal dan pola terkait kontribusi remitansi terhadap kesejahteraan rumah tangga PMI dan pembangunan ekonomi daerah. 


“Ketika perempuan merupakan mayoritas Pekerja Migran Indonesia, pendekatan yang sensitif gender menjadi penting untuk memahami dampak remitansi secara utuh. Bukan hanya berapa banyak pendapatan yang dikirim dari luar negeri atau untuk apa digunakan, tetapi yang lebih fundamental adalah, apakah perempuan memiliki suara dan kendali dalam menentukan pemanfaatannya? Perspektif ini penting untuk memastikan remitansi tidak hanya mendukung ekonomi keluarga, tetapi juga memperkuat ketahanan dan peluang ekonomi perempuan,” ujar Regional Director Southeast Asia, Women’s World Banking, Angelique Timmer. 


Nantinya, kajian ini akan melihat lebih luas dari sekadar nilai remitansi yang dikirim. Selain pemenuhan kebutuhan sehari-hari, remitansi berpotensi untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, membantu pembangunan aset, mendukung pendidikan dan kesehatan, serta membuka peluang untuk kegiatan ekonomi produktif. Kajian akan melihat pengalaman perempuan dan laki-laki dalam mengakses, mengelola, dan mengambil keputusan terkait remitansi agar manfaat yang dihasilkan dapat dipahami secara lebih utuh. 


Melalui kajian dampak remitansi dan pengembangan IRDI ini, Women’s World Banking dan KP2MI ingin membangun pemahaman yang lebih kuat mengenai perjalanan remitansi setelah diterima keluarga di Indonesia, pola pemanfaatannya, dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pemanfaatan tersebut. Temuan dari kajian ini diharapkan dapat mendukung pengembangan kebijakan dan program yang semakin sesuai dengan kebutuhan PMI, khususnya perempuan, serta memperkuat ketahanan ekonomi keluarga PMI dan masyarakat di daerah asal. 


*** 


Tentang Women’s World Banking


Selama lebih dari 45 tahun, Women’s World Banking telah bekerja untuk membentuk ulang sistem keuangan agar menjamin keamanan dan kemakmuran bagi perempuan serta pertumbuhan ekonomi inklusif untuk semua. Organisasi nirlaba global ini bermitra dengan penyedia layanan keuangan, regulator, dan pembuat kebijakan di lebih dari 30 negara untuk merancang produk inklusif, melakukan riset berbasis bukti, serta mendorong perubahan sistemik yang memungkinkan perempuan dan keluarganya membangun keamanan finansial dan ketahanan ekonomi.

Artikel Lainnya