Oleh: Jacobus K Mayong Padang*)
Sleman, INDONEWS.ID - Kereta Fajar Utama jurusan Solo Balapan pagi-pagi sudah beranjak meninggalkan Stasiun Jatinegara. Terlepas dari masih banyak kekurangan seperti kursi bagi penumpang yang masih sangat kurang di stasiun-stasiun, belum semua stasiun memiliki lift atau eskalator, tetapi Kereta Api adalah model layanan publik yang mengalami perkembangan yang luar biasa. Jonan Ignatius sukses mengubah perusahaan Kereta Api dari rugi menjadi untung, karyawan mendapat gaji yang memadai dan penumpang mengalami perbaikan pelayanan.
Fajar Utama segera melaju dan hanya dalam waktu singkat sudah melintas Karawang, daerah yang sejak lama dikenal sebagai salah satu lumbung beras. Menatap persawahan yang begitu luas itulah saya teringat pernyataan pemerintah bahwa sekarang kita sudah mengalami swasembada. Luar biasa barulah di tangan Amran Sulaeman di bawah pimpinan Prabowo bisa swasembada. Info yang luar biasa, menggembirakan karena negeri agraris ini selama puluhan tahun terus mengimpor berbagai produk pertanian termasuk beras.
Bahkan info terakhir Indonesia mulai bangkit, berubah dari pengimpor beras menjadi pengekspor. Karena kata Amran, sekarang kita mengekspor 1.000 ton beras ke Malaysia. Mulai menjadi pengekspor, sebuah predikat yang amat membanggakan.
Jadi Model
Jonan mengubah pengelolaan kereta api, Amran Suleman membehahi pertanian semoga menjadi model bagi instansi-instansi lain sehingga Indonesia bisa naik kelas.
Kesejahteraan Petani
Menatap area persawahan di kiri kanan Fajar Utama, terngiang info tentang swasembada. Pikiran saya tersentak menyaksikan beberapa rumah-rumah tua yang berjejer di ujung persawahan terapit pepohonan jati. Lalu teringat Mas Dipu yang sering berkelana di Karawang. Karena itulah saya bertanya tentang hal yang sangat penting; kesejahteraan petani.
Kesejahteraan petani mengganggu pikiran saya karena teringat nasib sebuah film dokumenter tentang kehidupan petani di Sleman. Film tersebut diproduksi seorang sutradara film dokumenter yang namanya saya lupa. Kesimpulan menonton film tersebut cukup dua kata saja: sungguh menyedihkan. Karenanya tidak heran Pdt Lumentut, saat itu Ketua Sinode GKST (Gereja Kristen Sulawesi Tengah) salah satu yang ikut menonton tidak bisa menahan air matanya.
Sayangnya film itu dilarang beredar. Faktornya, karena Presiden Soeharto setahun sebelumnya baru kembali dari Roma menerima penghargaan dari FAO. Penghargaan untuk sebuah predikat yang membanggakan dan tersohor ke seluruh penjuru dunia, Indonesia berhasil menjadi negara swasembada pangan.
Di Roma pejabat FAO menyambut Presiden Soeharto dengan gembira. Tetapi kehidupan petani di Sleman tidak beranjak dari kemiskinan. Suatu saat anaknya meminta uang Rp 50. Permintaan itu ia sampaikan kepada ibunya yang lagi merebus singkong untuk makan malam. Sang ibu menjawab: "belum ada uang nak. Sabar". Permintaan yang tidak terpenuhi itulah yang membuat Pdt Lumentut menangis.
Melintas di Karawang, teringat statement pemerintah kita berhasil swasembada, saya teringat film dari Sleman itu. Maka saya bertanya pada Mas Dipu. Karena saya khawatir di balik predikat swasembada, kehidupan petani tidak mengalami perbaikan.
Indonesia Menggugat
Kegelisahan saya menggumpal karena selama beberapa hari terakhir saya membaca ulang untuk kesekian kalinya buku INDONESIA MENGGUGAT. Itu tentang pembelaan Bung Karno dkk, di pengadilan Bandung. Intinya Bung Karno menggugat pemerintah kolonial yang menindas mengakibatkan Marhaen hidup menderita dalam kemiskinan.
Gelisah saya kian menggumpal juga karena beberapa hari ke depan adalah hari Bung Karno menemui Mang Aen. Tepatnya 1 Oktober 1923 di Cigereleng Bandung Selatan.
Tidak banyak yang tahu dan paham bahwa Hari Marhaen itu sesungguhnya amat bersejarah dan penting buat bangsa Indonesia. Sebab hari itu saat berdialog dengan Mang Aen petani miskin, Bung Karno jadi emosional. Tidak tahan menyaksikan kehidupan Mang Aen, Bung Karno memutuskan Indonesia harus merdeka. Merdeka agar bisa menolong Mang Aen agar bisa menikmati hidup yang lebih baik.
Itu 103 tahun silam.
Tapi bung Cheto mengagetkan sekaligus menyedihkan saya dengan menginfokan peristiwa di Desa Karangroke Kec. Banjaran Bandung Barat awal September. Seorang ibu mengakhiri hidupnya bersama dua anaknya. Sementara beberapa hari lalu di Sragen seorang petani membunuh tetangganya karena berebut aliran air ke sawah. Itu semua tak lain karena kemiskinan. Kemiskinan yang digugat Bung Karno di depan pengadilan kolonial.
Perluhkah kita menggugat pemerintah sekarang karena sebagian besar RAKYAT Indonesia masih tetap miskin. ?
Konsisten sangat mahal,
Pragmatisme selalu temukan alasan
Kereta Fajar Utama, Satutujuhsembilanduanolduaenam.
*) Drs. Jacobus Kamarlo Mayong Padang (yang akrab disapa Bung Kobu) adalah seorang politisi senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan mantan anggota DPR RI periode 1999–2005 yang berasal dari Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Tokoh reformasi asal Sulawesi Selatan ini dikenal luas sebagai figur Marhaenis sejati yang memegang teguh kesederhanaan dan prinsip hidup yang idealis dalam dunia politik.