Daerah

Cegah Komplikasi Diabetes, Poltekkes Kemenkes Bandung Berdayakan Kader Kesehatan di Ciomas Rahayu

Oleh : rio apricianditho - Jum'at, 25/09/2026 09:30 WIB


Cegah Komplikasi Diabetes, Poltekkes Kemenkes Bandung Berdayakan Kader Kesehatan di Ciomas Rahayu

Bogor, INDONEWS.ID - Upaya mencegah komplikasi Diabetes Melitus (DM) dilakukan Poltekkes Kemenkes Bandung melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) di Desa Ciomas Rahayu, Kabupaten Bogor.

Program yang berlangsung sejak April hingga September 2026 itu menyasar kader kesehatan dan pasien DM tipe II di RW 07. Salah satu fokusnya adalah memperkenalkan dan membiasakan senam kaki sebagai upaya membantu mencegah neuropati diabetik.

Kegiatan ini menjadi bagian dari pengabdian masyarakat Poltekkes Kemenkes Bandung Kampus Bogor. Tim dosen yang terlibat yakni Ida Farida, APPd., M.Kes., Camalia Suhertini Sahat, S.Kep., M.Kep.Sp.KMB., dan Siti Nurhalimah, APPd., MPH. Mereka turut didukung mahasiswa keperawatan sejak tahap persiapan hingga proses evaluasi.

Program tersebut tidak hanya memberikan edukasi kepada pasien, tetapi terlebih dahulu membekali kader kesehatan agar dapat menjadi penggerak di lingkungan masing-masing.

Pelatihan kader dilaksanakan pada 4–11 Juni 2026 dan diikuti 20 kader kesehatan. Mereka mendapatkan pemahaman mengenai diabetes, risiko komplikasi, serta praktik senam kaki yang dapat dilakukan bersama pasien DM tipe II.

Setelah pelatihan, kegiatan dilanjutkan dengan pendampingan kepada 20 pasien DM tipe II. Pendampingan senam kaki dilakukan secara bertahap mulai 16 Juli hingga 23 Agustus 2026.

Selama proses tersebut, kader berperan mendampingi pasien agar senam kaki dapat dilakukan secara rutin. Pendekatan ini diharapkan membuat edukasi kesehatan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi menjadi kebiasaan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hasil evaluasi menunjukkan adanya penurunan skor neuropati diabetik pada pasien DM tipe II setelah menerapkan senam kaki selama satu bulan.

Hasil tersebut menjadi salah satu capaian penting dari program. Sebab, kegiatan yang dilakukan bukan hanya berupa penyuluhan, tetapi juga merupakan penerapan hasil penelitian yang dibawa langsung ke masyarakat.

“Program ini merupakan implementasi hasil penelitian yang diterapkan kepada masyarakat sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” demikian disampaikan dalam pelaksanaan program tersebut.

Memasuki September 2026, monitoring dan evaluasi dilakukan secara partisipatif. Proses ini melibatkan tenaga kesehatan, aparat pemerintahan tingkat RT, RW dan Desa Ciomas Rahayu, tokoh masyarakat, kader kesehatan, mahasiswa, serta dosen.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut dinilai penting untuk memastikan program dapat terus berjalan setelah rangkaian kegiatan PKM berakhir. Terutama agar kader tetap mampu mendampingi pasien dan mendorong penerapan senam kaki secara berkelanjutan.

Diabetes Melitus dapat menimbulkan berbagai komplikasi apabila tidak dikelola dengan baik. Karena itu, edukasi dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kesehatan pasien.

Melalui program ini, Poltekkes Kemenkes Bandung berharap pasien DM tipe II di Desa Ciomas Rahayu semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan kaki dan memiliki kemampuan melakukan langkah-langkah sederhana untuk membantu mengurangi risiko neuropati diabetik.

Lebih dari sekadar kegiatan pengabdian, program tersebut menjadi contoh bagaimana perguruan tinggi dapat hadir langsung di tengah masyarakat, menghubungkan pengetahuan dan hasil penelitian dengan kebutuhan kesehatan warga.

Dengan adanya kader yang telah mendapatkan pelatihan dan pendampingan, manfaat program diharapkan dapat terus dirasakan masyarakat dan ikut mendukung peningkatan derajat kesehatan serta kualitas hidup pasien DM tipe II di Desa Ciomas Rahayu.

Artikel Lainnya