Jakarta, INDONEWS.ID - Indonesia menjadi negara pertama di luar Australia yang secara resmi menghadirkan DrRest®, kasur yang dikembangkan oleh empat dokter spesialis Australia dengan latar belakang keahlian di bidang bedah tulang belakang, pernapasan dan tidur, osteopati, serta urologi.
Merek asal Australia tersebut resmi diperkenalkan di Indonesia oleh Massindo Group melalui pembukaan showroom pertamanya di Indonesia Design District (IDD), PIK 2, Jakarta. Peluncuran ini sekaligus menandai ekspansi internasional perdana DrRest® di luar Australia.
Presiden Direktur Massindo Group Jeffri Massie serta empat dokter yang berada di balik pengembangan produk tersebut, yakni Dr. Gerald Quan, ahli bedah ortopedi tulang belakang; Dr. Nick Antoniades, spesialis pernapasan dan tidur; Dr. George Michael, osteopath; serta Dr. Peter Liodakis, urolog.
"Kami hadir di Jakarta Utara sangat mudah dijangkau oleh penduduk Jabodetabek yang tinggal di daerah Utara, daerah Tengah, daerah bahkan paling dekat dengan Soekarno-Hatta sehingga dari luar kota pun mendarat ke Jakarta hanya 15-20 menit bisa sampai ke toko Dr. Rest. Tapi kami ingin juga menolong dan menjangkau masyarakat yang misalnya tinggal di daerah Jabodetabek lebih ke arah Selatan. Jadi nanti akan dibuka juga di BSD di kawasan yang seperti ini, menjadi toko Dr. Rest juga. Lalu kemudian kita berharap bisa hadir juga di Jakarta Pusat. Yang sehingga menjadi mudah dijangkau dari berbagai penjuru, dan di masa depan bilamana di Jakarta sudah tercover, kami berharap kami juga bisa hadir di kota-kota besar lain di Indonesia. Karena yang membutuhkan tidur sehat dengan benar tanpa sakit ada di mana-mana.," ujar Jeffri Massie, Presiden Direktur Massindo Group saat sesi grand opening ceremony DrRest®, Kamis (24/9/2026).
Dikembangkan dari Pengalaman dalam Tangani Pasien, Bukan Pabrik
DrRest® dikembangkan dari pengalaman keempat dokter tersebut dalam menangani pasien dengan berbagai kondisi yang berkaitan dengan kualitas tidur. Dalam praktiknya, mereka menemukan bahwa permukaan tidur dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kenyamanan dan kondisi pasien, termasuk pada mereka yang mengalami nyeri punggung, gangguan pernapasan saat tidur, maupun sering terbangun pada malam hari.
Proses pengembangan DrRest® kemudian dilakukan dengan melibatkan observasi dan pengujian terhadap lebih dari 550 pasien secara kumulatif. Pengujian tersebut mencakup sejumlah parameter, antara lain keselarasan tulang belakang, distribusi tekanan pada tubuh, kualitas tidur berdasarkan siklus tidur, serta frekuensi terbangun pada malam hari.
Pengujian juga mencakup berbagai posisi tidur, termasuk posisi menyamping yang dapat memberikan tekanan lebih besar pada area bahu dan pinggul.
Hasil pengembangan tersebut kemudian diterapkan dalam satu konfigurasi DrRest®, tanpa pilihan tingkat kekerasan seperti soft, medium, atau firm.

Mengandalkan Technogel, Material dari Italia
Salah satu teknologi utama yang digunakan DrRest® adalah Technogel, material berbasis gel yang dikembangkan di Italia dan memiliki sejarah penggunaan dalam aplikasi medis, termasuk untuk membantu mengelola tekanan pada tubuh pasien.
Dalam desain DrRest®, Technogel digunakan untuk memberikan distribusi tekanan pada permukaan tubuh, membantu mengelola panas, serta mendukung posisi tubuh saat tidur. Technogel pun diciptakan karena material tersebut memiliki karakteristik seperti cairan yang dapat berfungsi layaknya benda padat.
"Sebagai ahli bedah yang telah bekerja selama lebih dari 20 tahun, saya terbiasa menggunakan Technogel di ruang operasi untuk menopang dan menstabilkan pasien selama prosedur bedah yang berlangsung selama beberapa jam. Saya kemudian berpikir bahwa material ini dapat digunakan pada kasur untuk membantu menjaga keselarasan dan kestabilan tubuh, sekaligus mendukung distribusi tekanan.," kata Dr. Gerald Quan, FRACS, ahli bedah ortopedi tulang belakang.
Penggunaan material tersebut menjadi bagian dari pendekatan DrRest® yang menempatkan aspek kesehatan dan fisiologi tubuh sebagai pertimbangan dalam pengembangan produk tidur.
Satu Konfigurasi untuk Berbagai Posisi Tidur
Berbeda dengan kasur konvensional yang umumnya tersedia dalam beberapa pilihan tingkat kekerasan, DrRest® dikembangkan dalam satu konfigurasi.
Dr. George Michael, BSc MHSc Dip Acu, osteopath sekaligus pemimpin uji riset DrRest®, mengatakan keputusan tersebut didasarkan pada karakteristik material yang dirancang untuk beradaptasi dengan tubuh. Menurut George Michael, selama ini, kasur dikategorikan sebagai empuk, sedang, atau keras karena itu merupakan cara yang umum digunakan untuk menentukan kenyamanan. Namun, tubuh seharusnya tidak terus-menerus menyesuaikan diri dengan kasur. Sebaliknya, kasur perlu menyesuaikan diri dengan tubuh.
“Kasur yang terlalu keras mungkin menjaga keselarasan tulang belakang, tetapi meningkatkan tekanan pada titik tertentu. Sementara itu, kasur yang lebih empuk dapat mengurangi tekanan, tetapi tidak selalu menjaga keselarasan tulang belakang,” jelas dia.
Dr. George Michael mengungkapkan tantangannya adalah menyeimbangkan kedua aspek tersebut. Setelah keseimbangan tercapai, permukaan kasur dapat menyesuaikan diri dengan berat, ukuran, bentuk, dan tinggi tubuh yang berbeda.
Indonesia Dipilih sebagai Pasar Internasional Pertama
Indonesia menjadi pasar pertama di luar Australia yang dipilih DrRest® untuk ekspansi internasional. Kehadiran merek ini juga dibarengi dengan perhatian terhadap isu kesehatan tidur di Indonesia.
Dalam rangkaian peluncuran, DrRest® menghadirkan Dr. Andreas Prasadja, RPSGT, praktisi kedokteran tidur di Indonesia, dalam forum Health Talk: Are You Sleeping Right?
Forum tersebut membahas keterkaitan antara kualitas tidur dengan kesehatan tulang belakang, pernapasan, serta kondisi urologis. Acara ini juga menjadi ruang untuk mempertemukan Dr. Andreas dengan empat dokter spesialis dari Australia yang mengembangkan DrRest®.
"Selama dua dekade, saya melihat pasien Indonesia datang dengan gejala yang sudah berlangsung bertahun-tahun — mendengkur keras, rasa lelah di pagi hari, sulit konsentrasi — tapi baru mau ke dokter setelah kondisinya sudah serius. Kalau sesekali mendengkur memang benar lagi capek doang, enggak apa-apa. Nah, kalau setiap tidur mendengkur, nah ini yang mesti kita waspadai enggak boleh diabaikan. Karena bisa jadi ada risiko kesehatan loh. Aga in, sejak tahun 2003 udah dinyatakan penyebab hipertensi. ," ujar Andreas Prasadja. *