Opini

DEKOLONISASI PEMIKIRAN, KETIKA NUSANTARA KEMBALI MENEMUKAN CARA BERPIKIRNYA SENDIRI

Oleh : luska - Selasa, 29/09/2026 13:33 WIB


DEKOLONISASI PEMIKIRAN, KETIKA NUSANTARA KEMBALI MENEMUKAN CARA BERPIKIRNYA SENDIRI

Penulis: Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol


Jakarta, 29 September 2026


Ada sebuah pertanyaan yang mungkin sederhana, tetapi sesungguhnya sangat besar:


Mengapa ketika kita ingin menjelaskan Indonesia, kita sering lebih dahulu mencari teori dari luar daripada membaca pengetahuan yang lahir dari tanah kita sendiri?


Pertanyaan ini bukan ajakan untuk menolak Barat.


Justru sebaliknya.


Ilmu pengetahuan tidak mengenal batas bangsa. Kita belajar dari siapa pun yang memiliki pengetahuan. Pemikiran Barat telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern dan tentu harus terus kita pelajari.


Tetapi ada satu hal yang tidak boleh hilang:


Kita harus mampu berpikir dengan kepala kita sendiri.


Dan untuk itu, kita perlu kembali membuka satu ruang yang selama ini belum digali secara maksimal:


PENGETAHUAN NUSANTARA.


Bukan sekadar sejarah.


Bukan sekadar cerita kerajaan.


Bukan sekadar benda peninggalan.


Tetapi pemikiran, pengetahuan, metode, pengalaman, teknologi, tata kehidupan, dan cara leluhur kita memahami dunia.


---


KITA SERING MELIHAT WARISAN, TETAPI TIDAK MEMBACA ILMUNYA


Ambil satu contoh yang sangat dekat dengan kita:


CANDI BOROBUDUR.


Selama ini kita sering melihat Borobudur sebagai sebuah mahakarya budaya dan keagamaan.


Itu benar.


Tetapi pertanyaan yang lebih jauh adalah:


Bagaimana manusia pada abad ke-8 dan ke-9 mampu membangun struktur sebesar itu dengan tingkat keteraturan yang demikian tinggi?


UNESCO mencatat Borobudur dibangun pada abad ke-8 dan ke-9, memiliki susunan bertingkat yang kompleks, lima teras persegi konsentris, tiga platform melingkar, sebuah stupa utama, dan 72 stupa berlubang. Struktur tersebut juga menggunakan bukit alami sebagai pusat konstruksinya.


Maka kita tidak cukup hanya bertanya:


“Apa makna Borobudur?”


Kita juga harus bertanya:


“Pengetahuan apa yang diperlukan untuk membangunnya?”


Di situlah pertanyaan menjadi menarik.


Bagaimana menentukan ukuran?


Bagaimana menentukan kemiringan?


Bagaimana mengatur beban?


Bagaimana menyusun ribuan komponen batu?


Bagaimana mengelola air?


Bagaimana menghadapi kondisi tanah dan lereng?


Bagaimana memastikan struktur tetap berdiri?


Bagaimana para pembangunnya memindahkan, membentuk, dan memasang material dalam jumlah sangat besar?


Bahkan penelitian dan konservasi modern terhadap Borobudur harus memperhitungkan persoalan air, tanah, struktur batu, dan risiko gempa. Dokumentasi UNESCO mengenai restorasi Borobudur menunjukkan bahwa sistem drainase dan kondisi tanah di bawah monumen merupakan bagian penting dalam pekerjaan konservasi; kajian restorasi juga memasukkan studi seismik karena Borobudur berada di wilayah yang memiliki risiko gempa.


Maka, kita boleh mengatakan:


Borobudur bukan hanya benda budaya. Ia juga merupakan jejak dari kemampuan manusia Nusantara dalam mengorganisasi pengetahuan dan pekerjaan konstruksi.


Tetapi kita harus lebih hati-hati daripada sekadar mengatakan, “leluhur kita sudah memiliki matematika modern.”


Belum tentu istilah dan sistem ilmunya sama dengan yang kita kenal sekarang.


Yang justru menarik adalah:


kita perlu meneliti pengetahuan apa yang sebenarnya mereka kuasai.


Apakah terdapat prinsip pengukuran?


Apakah terdapat sistem geometris?


Apakah terdapat pemahaman mengenai distribusi beban?


Apakah terdapat pengetahuan mengenai material?


Apakah terdapat pengetahuan mengenai air dan drainase?


Apakah terdapat teknik pengolahan batu?


Apakah terdapat pengetahuan mengenai kondisi tanah?


Pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus kita buka.


Bukan untuk mengagung-agungkan masa lalu, tetapi untuk menemukan pengetahuan yang mungkin selama ini tidak kita baca.


---


BATU BUKAN HANYA BATU


Bayangkan seseorang hendak membangun sebuah rumah.


Kalau ukuran kayu salah, rumah bermasalah.


Kalau sudut potongan salah, sambungan tidak tepat.


Kalau beban tidak dihitung, struktur bisa lemah.


Kalau air tidak diarahkan, bangunan bisa rusak.


Kalau fondasi tidak sesuai dengan tanah, bangunan dapat mengalami persoalan.


Sekarang kita melihat Borobudur.

Ia bukan sebuah benda yang muncul begitu saja.

Ia adalah hasil dari perencanaan, pengukuran, organisasi tenaga manusia, pengolahan material, pengetahuan konstruksi, dan pengambilan keputusan yang dilakukan secara sistematis.


Karena itu, kita perlu mengubah pertanyaan:

Jangan hanya bertanya siapa yang membangun Borobudur.


Tetapi:

“PENGETAHUAN APA YANG MEMUNGKINKAN BOROBUDUR DIBANGUN?”

Pertanyaan ini jauh lebih penting.


Sebab dari sebuah bangunan kita mungkin dapat menemukan kembali sebuah sistem pengetahuan.


NUSANTARA BUKAN RUANG KOSONG


Hal yang sama berlaku terhadap warisan tekstual.

Nagarakretagama bukan sekadar naskah tua. Naskah tersebut menjadi salah satu sumber penting untuk memahami kondisi Majapahit pada abad ke-14.


Sutasoma bukan sekadar karya sastra.

Dari karya Mpu Tantular itulah kita mengenal ungkapan Bhinneka Tunggal Ika, yang lahir dari konteks masyarakat Majapahit yang mempertemukan tradisi keagamaan yang berbeda

.

Kemudian kita memiliki prasasti, babad, kakawin, artefak, sistem irigasi, arsitektur tradisional, teknologi pelayaran, tata ruang, pengobatan tradisional, sistem pertanian, sampai berbagai bentuk pengetahuan masyarakat yang diwariskan lintas generasi.


Pertanyaannya:

Sudahkah semuanya kita perlakukan sebagai sumber pengetahuan yang harus diteliti?


Atau selama ini kita hanya memperlakukannya sebagai:

“warisan budaya”?


Di sinilah letak persoalannya.


Sebuah warisan budaya dapat menyimpan teknologi.


Sebuah naskah dapat menyimpan teori sosial.


Sebuah sistem pemerintahan masa lalu dapat menyimpan pemikiran tentang kepemimpinan.


Sebuah tata ruang dapat menyimpan pengetahuan ekologis.


Sebuah kapal tradisional dapat menyimpan pengetahuan hidrodinamika yang lahir dari pengalaman.


Sebuah rumah tradisional dapat menyimpan pengetahuan struktur, iklim, ventilasi, material, dan adaptasi terhadap lingkungan.


Jadi:

JANGAN HANYA MELIHAT BENDA.


BACA PENGETAHUAN DI BALIK BENDA.


DEKOLONISASI BUKAN ANTI-BARAT


Di sinilah istilah dekolonisasi pemikiran harus dipahami secara tepat.


Dekolonisasi bukan berarti:

“Buang semua teori Barat.”

Bukan.

Dan juga bukan:

“Semua yang berasal dari Nusantara pasti lebih hebat.”

Itu juga bukan ilmu pengetahuan.


Dekolonisasi berarti kita membangun kemampuan untuk:

MEMBACA BARAT.

MEMBACA NUSANTARA.

MENGUJI KEDUANYA.

LALU BERPIKIR DENGAN KEPALA SENDIRI.


Kalau teori dari Barat dapat membantu menjelaskan suatu persoalan Indonesia,


 GUNAKAN

Kalau pengetahuan Nusantara memiliki pengalaman yang relevan

,

 GALI

Kalau keduanya dapat dipertemukan, padukan.

Dan kalau ternyata ada pengetahuan lokal yang belum memiliki bahasa ilmiah modern, jangan langsung dibuang.


TELITI.

Karena mungkin yang belum kita miliki bukan pengetahuannya.

Mungkin kita hanya belum menerjemahkannya ke dalam bahasa ilmu pengetahuan modern.


DARI KONSUMEN PENGETAHUAN MENJADI PRODUSEN

PENGETAHUAN

Inilah perubahan yang sesungguhnya kita perlukan.


Selama kita hanya mengambil teori dari luar untuk menjelaskan negeri sendiri, kita akan terus menjadi konsumen pengetahuan.


Tetapi ketika kita mulai membuka kembali sumber-sumber Nusantara, menelitinya dengan metode ilmiah, mengujinya, membandingkannya dengan pengetahuan modern, lalu mengembangkan teori baru berdasarkan temuan tersebut, kita mulai bergerak menjadi:


PRODUSEN PENGETAHUAN.


Itulah tujuan sebenarnya.


Bukan membangun kesombongan sejarah.


Bukan mengatakan bahwa leluhur kita mengetahui segala sesuatu.


Tetapi menyadari bahwa:

MEREKA PERNAH BERPIKIR.


MEREKA PERNAH MENGUKUR.


MEREKA PERNAH MEMBANGUN.


MEREKA PERNAH MENYELESAIKAN MASALAH.


DAN PENGALAMAN ITU MENINGGALKAN JEJAK.


Tugas generasi kita adalah membaca kembali jejak tersebut.

KITA TIDAK SEDANG KEMBALI KE MASA LALU


Justru sebaliknya.

Kita sedang menggunakan masa lalu untuk membangun masa depan.


Borobudur tidak perlu dibangun kembali.

Tetapi pengetahuan di balik Borobudur perlu dibaca kembali.


Nagarakretagama tidak perlu dijadikan dogma.

Tetapi informasi di dalamnya perlu diteliti.


Sutasoma tidak perlu ditempatkan hanya sebagai teks kuno.

Tetapi gagasannya perlu dipahami dalam konteks sejarah dan kemudian diuji relevansinya bagi masyarakat modern.


Begitu pula Ki Hajar Dewantara.

Kita tidak cukup hanya menghafal semboyannya.

Kita harus bertanya:

Pemikiran pendidikan dan kepemimpinan apa yang sebenarnya lahir dari pengalaman Indonesia?


Dari sanalah sebuah bangsa mulai menemukan kembali dirinya.


SEBUAH BANGSA HARUS MAMPU MELIHAT DIRINYA SENDIRI


Ada satu kalimat yang menurut saya perlu kita pegang:

“Kita tidak kekurangan sejarah. Kita kekurangan keberanian untuk membaca sejarah kita sebagai sumber pengetahuan.”


Selama ini kita terlalu mudah melihat peninggalan Nusantara sebagai masa lalu.

Sekarang waktunya melihatnya sebagai:

DATA.


Kemudian:

DATA → PENGETAHUAN → PEMIKIRAN → TEORI → INOVASI.

Inilah jalan yang harus kita tempuh.


Bukan menutup diri dari dunia.

Justru membuka diri lebih luas.

Tetapi kali ini kita datang ke percakapan dunia dengan membawa sesuatu yang berasal dari pengalaman kita sendiri.


KALIMAT PEMAHAT


KITA TIDAK PERLU MEMBUANG PENGETAHUAN BARAT.


KITA HANYA PERLU BERHENTI MENGANGGAP BAHWA PENGETAHUAN TENTANG INDONESIA HARUS SELALU DATANG DARI LUAR INDONESIA.


Karena mungkin selama berabad-abad kita berjalan melewati jawaban-jawaban yang sebenarnya sudah ada di depan mata:


DI DALAM BATU.


DI DALAM NASKAH.


DI DALAM CANDI.


DI DALAM KAPAL.


DI DALAM RUMAH.


DI DALAM SISTEM AIR.


DI DALAM TATA KEHIDUPAN.


DAN DI DALAM PEMIKIRAN PARA LELUHUR KITA.


Tugas kita bukan mengagungkan masa lalu.

Tugas kita adalah


 MEMBACA ULANGNYA.


Dan dari sana menemukan kembali kemampuan yang mungkin selama ini tertutup oleh cara kita memandang diri sendiri.


DEKOLONISASI PEMIKIRAN BUKAN MENOLAK DUNIA.


DEKOLONISASI PEMIKIRAN ADALAH MENEMUKAN KEMBALI DIRI SENDIRI SEBELUM BERBICARA KEPADA DUNIA.


 BERSAMBUNG KE SERI 2


BOROBUDUR — ILMU YANG TERKUNCI DI DALAM BATU


Kita akan mencoba membaca Borobudur bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi sebagai jejak pengetahuan: pengukuran, geometri, konstruksi, material, tata air, tanah, struktur, dan kemampuan manusia Nusantara mengorganisasi pekerjaan dalam skala yang luar biasa.


Karena sebuah peradaban tidak hanya meninggalkan bangunan.

Ia meninggalkan cara berpikir.


Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol

Jakarta, 29 September 2026

Artikel Lainnya