Nasional

Habil Marati Wafat, Andrianto Andri: Kehilangan Sosok Penting dari Perjalanan Konsolidasi Aktivis Politik

Oleh : very - Selasa, 29/09/2026 21:01 WIB


Andrianto Andri, aktivis sekaligus pemerhati politik dan kebangsaan. (Foto: Ist)
Andrianto Andri, aktivis sekaligus pemerhati politik dan kebangsaan. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID -  Tokoh politik nasional sekaligus mantan Bendahara Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Habil Marati, meninggal dunia di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada Minggu (27/9/2026).

Politikus senior dan pengusaha nasional ini mengembuskan napas terakhirnya pada usia 64 tahun.

Jenazah pria kelahiran Muna, Sulawesi Tenggara ini dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, pada Senin Senin, 28 September 2026.

Kepergian mantan anggota DPR RI dari daerah pemilihan Sulawesi Tenggara itu meninggalkan kenangan mendalam bagi kalangan aktivis politik yang pernah berjuang bersamanya.

Aktivis sekaligus pemerhati politik dan kebangsaan, Andrianto Andri, mengenang Habil Marati sebagai sosok yang memberikan dukungan besar dalam berbagai kegiatan politik, khususnya konsolidasi relawan dan aktivis pendukung Anies Baswedan menjelang Pilpres 2024.

Andrianto mengatakan, dirinya mulai mengenal dekat Habil Marati pada 2022. Pertemuan mereka bermula ketika menyelenggarakan diskusi mengenai situasi politik dan kritik terhadap pemerintahan Presiden Joko Widodo.

"Diskusi dilakukan di sebuah restoran di kawasan Pakubuwono. Semua dibiayai almarhum," kenang Andrianto, Selasa (29/9/2026).

Menurut Andrianto, keterlibatan Habil Marati dalam gerakan politik saat itu tidak berhenti pada diskusi. Almarhum kemudian berperan dalam konsolidasi aktivis PPP yang tergabung dalam Forum Ka`bah Membangun (FKM).

Pada 16 November 2022, FKM menggelar deklarasi dukungan kepada Anies Baswedan di Yogyakarta. Menurut Andrianto, momentum tersebut menjadi salah satu peristiwa penting dalam perjalanan dukungan politik kepada Anies menjelang Pemilihan Presiden 2024.

"Itulah kali pertama Anies Baswedan hadir dan mendeklarasikan secara terbuka," ujarnya.

Setelah kegiatan FKM, konsolidasi berkembang dengan bergabungnya aktivis dari sejumlah latar belakang partai politik, termasuk Golkar, PPP, dan Partai Amanat Nasional (PAN). Gerakan tersebut dikenal dengan sebutan KIB, singkatan dari Kuning, Ijo, Biru, yang menjadi wadah aktivis lintas partai pendukung Anies Baswedan.

Andrianto menyebut Habil Marati dipercaya menjadi koordinator gerakan tersebut.

Di bawah koordinasi Habil, KIB melakukan tur ke berbagai daerah di Indonesia untuk membangun dukungan bagi Anies Baswedan. Kegiatan itu menyasar berbagai elemen masyarakat, mulai dari lingkungan kampus hingga pesantren, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat akar rumput.

Sejumlah tokoh turut terlibat dalam rangkaian kegiatan tersebut, di antaranya Rocky Gerung, Saut Situmorang, dan Refly Harun.

"Saya sendiri menjadi sespri yang tak pernah absen dalam muhibah KIB," kata Andrianto.

Ia memperkirakan, kegiatan roadshow dan konsolidasi yang dikoordinasikan Habil Marati telah menjangkau lebih dari 200 titik di berbagai daerah di Indonesia.

Andrianto juga mengenang situasi politik saat itu, ketika ungkapan "Bajingan Tolol" ramai diperbincangkan di ruang publik. Menurut dia, KIB dan Rocky Gerung menghadapi berbagai bentuk persekusi ketika menjalankan kegiatan di sejumlah tempat.

Di tengah dinamika tersebut, Habil Marati dinilai tetap memberikan dukungan besar bagi gerakan yang mereka jalankan.

"Almarhum Habil Marati sangat besar resource yang keluar. Meski pilihan KIB kalah, kita tetap berbesar hati," tuturnya.

 

Menjalin Komunikasi hingga Akhir Hayat

Andrianto mengungkapkan, meskipun intensitas pertemuan mereka berkurang setelah rangkaian kegiatan politik tersebut, komunikasi dengan Habil Marati tetap terjalin.

Ia juga mengenang ketika Habil menghubunginya untuk menyampaikan apresiasi setelah mengetahui dirinya diangkat menjadi komisaris sebuah badan usaha milik negara (BUMN).

"Pernah dia call, surprise saya jadi Komisaris BUMN dan dia senang mengapresiasi," ungkapnya.

Dalam komunikasi terakhir mereka, Andrianto mengaku sempat menyampaikan pandangannya mengenai dinamika politik menuju Pilpres 2029. Ia mengatakan, dirinya meyakinkan Habil bahwa perjalanan politik Prabowo Subianto menuju 2029 masih berlangsung, dan menurut Andrianto, almarhum menyetujui pandangan tersebut.

Kini, Habil Marati telah berpulang. Andrianto menyampaikan bahwa sejumlah tokoh hadir dalam pelaksanaan fardu kifayah untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum, di antaranya Jusuf Kalla, Anies Baswedan, Sofyan Mile, Andi Rahmat, Irgan, dan Endin.

Bagi Andrianto, kepergian Habil bukan sekadar kehilangan seorang politisi dan pengusaha nasional, melainkan juga sosok yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan konsolidasi aktivis politik di Indonesia.

Menutup kenangannya, Andrianto menyampaikan doa dan penghormatan kepada almarhum.

"Selamat jalan pejuang. Titip salamku sama senior panutan: Mahadi Sinambela, Rahmawati, Rizal Ramli. Bertemulah kalian, orang-orang baik, di surga Ilahi. Amin," pungkas Andrianto. *

Artikel Lainnya