Tapanuli Selatan, INDONEWS.ID - Hujan deras mengguyur disertai longsor menemani perjalanan Tim Marsiadapari Tandihat 2026 pada hari terakhir rangkaian pengabdian (23—27 September 2026). Jalan menuju Desa Tandihat Baru berubah menjadi licin dan berlumpur. Kendaraan yang membawa tim sempat beberapa kali kehilangan traksi. Hingga akhirnya, sekitar 500 meter sebelum tujuan, tim memilih turun dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Sembako yang dibawa dititipkan kepada warga setempat untuk diangkut menggunakan sepeda motor. Dalam guyuran hujan dan medan yang menanjak, anggota tim berjalan bersama hingga akhirnya tiba di rumah Kepala Desa Tandihat Baru. Perjalanan tersebut menjadi gambaran kecil dari semangat yang dibawa Marsiadapari Tandihat 2026: bahwa pengabdian bukan hanya mengenai datang dan melaksanakan program, tetapi juga mengenai bersedia berjalan bersama masyarakat, apa pun tantangannya.
Program ini merupakan bagian dari UI Peduli di bawah koordinasi Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial Universitas Indonesia (DPIS UI), melibatkan Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK UI) dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB UI), serta berkolaborasi dengan Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI), Universitas Aufa Royhan (UNAR), dan mitra pendukung lainnya. Tim UNAR turut berperan sebagai mitra pelaksana bersama tim UI di lapangan.
Hari terakhir rangkaian kegiatan diawali di SDN 100207 Tandihat melalui latihan storytelling dan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bagi anak-anak. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi penutup pendampingan anak selama program berlangsung. Kepala Sekolah SDN 100207 Tandihat, Desnita Simatupang, menyampaikan apresiasi atas kehadiran tim.
“Terima kasih sebesar-besarnya untuk kakak-kakak mahasiswa yang sudah mengabdi di sini. Kehadiran kalian sangat berarti bagi anak-anak kami. Semoga ilmu dan semangat yang kalian tularkan terus mereka ingat.”
Ketua Tim Pengmas UI, Assoc.Prof.Dr. Hendra Kaprisma, mengatakan bahwa pengabdian di Tandihat (23—27 September 2026) memberikan pelajaran penting bagi seluruh anggota tim.
“Marsiadapari bukan sekadar rangkaian kegiatan pengabdian. Kami datang untuk bekerja bersama masyarakat, tetapi pada saat yang sama kami juga belajar dari mereka. Ketangguhan warga Tandihat, cara mereka menghadapi situasi pascabencana, dan keterbukaan mereka menerima kami menjadi pengalaman yang sangat berarti bagi seluruh tim.”
Menurut Hendra, tantangan perjalanan pada hari terakhir justru memperlihatkan makna semangat Marsiadapari. Hujan, jalan berlumpur yang disertai longsor, dan perjalanan yang harus ditempuh dengan berjalan kaki menjadi bagian dari cerita pengabdian ini. Bagi tim pengabdi, itu bukan hambatan untuk mengeluh, tetapi pengingat bahwa ketika kita sudah memilih untuk hadir bersama masyarakat, kita harus siap berjalan bersama mereka.
Berpamitan dengan Meninggalkan Manfaat
Setelah kegiatan di sekolah, tim melanjutkan kunjungan ke tiga pihak yang selama tiga hari mendukung pelaksanaan program, yaitu Puskesmas Simarpinggan, Desa Tandihat Baru, dan Desa Tandihat. Di Puskesmas Simarpinggan, tim diterima oleh Kepala Puskesmas, dr. Dian Aspasia Limbong. Dalam kesempatan tersebut, Tim Marsiadapari berpamitan sekaligus menyerahkan bantuan alat kesehatan secara simbolis sebagai bagian dari inventaris puskesmas dan untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat di Huntara.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Desa Tandihat Baru, desa pemekaran dari Desa Tandihat yang berada di dataran lebih tinggi. Hujan yang turun membuat perjalanan menjadi cukup berat, tetapi tim akhirnya tiba di kediaman Kepala Desa Tandihat Baru, Lena Manula. Sembako yang dibawa tim kemudian dititipkan untuk dibagikan kepada warga. Pertemuan singkat tersebut menjadi kesempatan bagi tim untuk menyampaikan terima kasih atas dukungan masyarakat selama program berlangsung.
Dari Tandihat Baru, tim kembali ke Desa Tandihat untuk berpamitan dengan perangkat desa. Sekretaris Desa, Aslan, menyampaikan apresiasi sekaligus harapan agar semangat yang dibawa tim terus tumbuh di tengah masyarakat.
“Hal yang kalian lakukan, mementingkan cara berpikir untuk bangkit kembali dari pascabencana, itu yang kami harapkan. Semoga nantinya dalam menentukan sekolah dan cita-cita, kalian semua diberi rahmat oleh Allah SWT.”
Sementara itu, Kepala Desa Tandihat, Saban Yuharja Siregar, menyampaikan rasa syukurnya atas kehadiran Tim Marsiadapari.
“Kami mengucapkan terima kasih atas bantuan yang sudah adik-adik berikan. Kami sungguh-sungguh terbantu atas kegiatan adik-adik di Huntara.”
Selain berpamitan, tim juga menyerahkan alat kesehatan kepada Posyandu Desa Tandihat. Peralatan tersebut diharapkan dapat terus digunakan untuk pemantauan kesehatan masyarakat, terutama pada ibu, balita, dan lansia yang masih tinggal di kawasan Huntara.
Salah seorang kader Posyandu menyampaikan apresiasinya. “Terima kasih atas alat kesehatan yang sudah diberikan untuk Posyandu kami. Alat ini akan sangat berguna untuk melayani warga dan akan kami jaga serta manfaatkan sebaik-baiknya.”
Lima Hari yang Menjadi Pembelajaran Bersama
Bagi Ns. Indah Permata Sari, ketika ditemui di UI-Depok, menyatakan bahwa keterlibatan dalam Marsiadapari Tandihat menunjukkan bahwa proses pemulihan masyarakat membutuhkan pendekatan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan.
“Selama lima hari, kami melihat bahwa kesehatan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari kondisi psikologis, lingkungan, pendidikan, dan dukungan sosial. Karena itu, intervensi yang kami lakukan juga berusaha melihat masyarakat secara utuh, bukan hanya dari satu aspek.”
Ia menambahkan bahwa interaksi dengan warga menjadi pengalaman yang penting bagi mahasiswa. Mahasiswa belajar bahwa pengabdian bukan hanya mengenai memberikan pelayanan, tetapi juga bagaimana kita mendengarkan, menghargai pengalaman masyarakat, dan memahami kebutuhan mereka. Apa yang kami bawa mungkin terbatas, tetapi kami berharap manfaatnya dapat terus dirasakan setelah tim pengabdi UI kembali.
Refleksi serupa disampaikan Koordinator Mahasiswa sekaligus Ketua BEM FIK UI, Aqila Bunga Nurhanin. Menurutnya, ketangguhan masyarakat menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama kegiatan tersebut.
“Warga di sini sangat kuat dengan berbagai situasi yang mereka hadapi. Kemarin sempat kami lakukan skrining, dan sebagian besar sudah mulai berdamai dengan keadaan. Harapannya, mereka bisa tetap kuat dan kembali pulih. Semoga kolaborasi ini tidak berhenti sampai di sini.”
Pengabdian Tim Marsiadapari Tandihat 2026 akhirnya ditutup bukan dengan seremoni besar, melainkan dengan perpisahan, ucapan terima kasih, dan harapan agar manfaat yang ditinggalkan dapat terus berlanjut. Bagi tim, perjalanan pulang membawa lebih dari sekadar dokumentasi kegiatan. Ada pengalaman mengenai anak-anak yang kembali tersenyum, warga yang bersedia berbagi cerita, tenaga kesehatan yang menerima dukungan, serta masyarakat yang tetap bertahan dan membangun kembali kehidupannya.
Ketika hujan membuat kendaraan tak lagi mampu melaju, langkah kaki justru membawa tim semakin dekat dengan masyarakat. Marsiadapari Tandihat 2026 mungkin telah selesai. Namun, semangat untuk saling membantu, saling menguatkan, dan berjalan bersama diharapkan tetap hidup di Tandihat.