Jakarta, INDONEWS.ID - Presiden Prabowo Subianto kembali merombak sejumlah jabatan strategis dalam Kabinet Merah Putih. Mereka dilantik di Istana Kepresidenan pada Kamis (1/10/2026).
Presiden juga mengganti Kapolri dari Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dengan Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto.
Pergeseran sejumlah perwira tinggi TNI dan Polri ini menarik karena bersinggungan dengan pertahanan, keamanan, ketahanan pangan hingga perubahan peta geopolitik kawasan.
Salah satu perubahan yang menonjol adalah berpindahnya Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa dari posisi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) menjadi Wakil Menteri Pertanian (Wamentan). Namun, posisi Wakasad belum diketahui hingga saat ini. Saleh mendampingi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Sebelum berpindah ke kabinet, Saleh Mustafa merupakan Wakasad sejak Agustus 2025. Ia sebelumnya pernah menjabat Pangkostrad, Irjen TNI, Pangdam XVII/Cenderawasih dan sejumlah posisi strategis lainnya. Ia merupakan lulusan Akmil 1991.
Situs resmi TNI AD juga sebelumnya mencatat Saleh Mustafa sebagai Wakasad. Namun, setelah pelantikannya sebagai Wamentan, proses pengisian jabatan tersebut menjadi bagian dari penataan organisasi TNI AD berikutnya.
Perubahan Lingkungan Strategis
Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah melihat perpindahan Saleh Mustafa tidak berdiri sendiri.
Menurut Amir, pergeseran tersebut perlu dibaca bersamaan dengan perubahan lingkungan strategis yang sedang dihadapi Indonesia, khususnya perkembangan konflik Iran-Amerika Serikat, hubungan Iran – China, keamanan jalur laut serta dampaknya terhadap kawasan Indo-Pasifik.
“Wakasad kosong karena Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa menjadi Wakil Menteri Pertanian. Ada pergeseran di Angkatan Darat,” kata Amir melalui pernyataan tertulis di Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Ia menilai, posisi baru Saleh Mustafa di Kementerian Pertanian juga dapat dikaitkan dengan isu ketahanan pangan yang semakin strategis dalam situasi geopolitik global.
Menurutnya, pangan bukan lagi semata-mata persoalan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, tetapi dapat menjadi bagian dari ketahanan nasional ketika terjadi gangguan terhadap perdagangan internasional dan jalur distribusi.
“Ini terkait ketahanan pangan. Sumber pangan terbatas. Ini antisipasi resistensi,” ujarnya.
Amir juga menyoroti perkembangan konflik Iran dan Amerika Serikat yang menurutnya tidak bisa dilepaskan dari konfigurasi geopolitik Indo-Pasifik.
Amir mengatakan, dinamika yang terjadi di Timur Tengah berpotensi memiliki efek berantai terhadap kawasan Indo-Pasifik.
“Ini antisipasi hubungan interaksi ancaman Iran ke Amerika Serikat, termasuk di Lautan Hindia. Ini membawa dampak ke Indo-Pasifik dan Laut China Selatan,” kata Amir.
Ia juga mengingatkan kemungkinan meningkatnya interaksi Iran dan China dalam menghadapi tekanan geopolitik global.
Namun, hubungan Iran-China tersebut perlu dibaca sebagai dinamika strategis yang berkembang, bukan berarti otomatis membentuk aliansi militer yang akan berhadapan langsung dengan Indonesia.
Masuknya Saleh Mustafa ke Kementerian Pertanian, kata Amir, menjadi perhatian karena ia merupakan satu-satunya prajurit TNI aktif yang masuk dalam kabinet hasil reshuffle kali ini.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan kehadiran Saleh di Kementan diharapkan membuat pekerjaan kementerian semakin optimal. Namun, pembagian tugas antara Menteri dan Wamentan masih akan dibahas.
“Nanti kita bahas, biarlah dulu dia napas,” kata Amran pada Jumat (2/10/2026).
Setelah Kapolri, Tunggu Giliran Panglima dan Jaksa Agung
Pada saat yang sama, Presiden Prabowo juga mengganti Kapolri. Komjen Pol Suyudi Ario Seto dilantik sebagai Kapolri menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Komjen Pol Wahyu Hadiningrat juga dilantik sebagai Wakapolri.
Listyo Sigit kemudian dipercaya menjadi Kepala Staf Kepresidenan (KSP).
Selain itu, Komjen Pol Karyoto juga mendapat penugasan baru sebagai Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Bagi Amir, konfigurasi tersebut memperlihatkan adanya penataan personel dari institusi keamanan menuju posisi pemerintahan strategis.
“Setelah Kapolri, menyoroti Panglima dan Jaksa Agung,” ujarnya.
Amir menilai perkembangan berikutnya yang perlu diperhatikan adalah siapa yang akan mengisi posisi Wakasad dan bagaimana konfigurasi kepemimpinan TNI ke depan.
Dalam sejarah TNI, jabatan Panglima TNI tidak hanya berasal dari satu matra. Pergantian kepemimpinan dapat melibatkan Angkatan Darat, Angkatan Laut maupun Angkatan Udara.
Presiden Prabowo pada Juni 2026 menerima Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto bersama KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak, KSAL Laksamana Muhammad Ali dan KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo dalam agenda resmi di Istana.
Amir menyebut persoalan usia juga menjadi salah satu variabel yang perlu diperhatikan dalam membaca konfigurasi calon pimpinan TNI ke depan.
Ia menyoroti posisi Kepala Staf Angkatan Laut dan kemungkinan perubahan konfigurasi antar-matra dalam proses regenerasi kepemimpinan TNI.
Namun, siapa yang nantinya yang dipilih sebagai Panglima TNI merupakan kewenangan Presiden melalui mekanisme yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Karena itu, nama-nama calon tidak dapat dipastikan sebelum ada keputusan resmi.
Dua Lapisan Analisis
Amir melihat seluruh rangkaian perubahan tersebut melalui dua lapisan analisis, yakni taktis dan strategis.
“Analisa intelijen ada taktis dan strategis,” ujarnya.
Menurut dia, penempatan personel dari institusi keamanan ke jabatan pemerintahan dapat menjadi bagian dari penataan jangka pendek sekaligus membangun koordinasi untuk menghadapi persoalan yang lebih panjang.
Dalam konteks ini, perpindahan Saleh Mustafa ke Kementerian Pertanian dapat dibaca dari dua sisi. Secara administratif, ia mengisi posisi Wakil Menteri Pertanian yang kosong setelah Sudaryono berpindah menjadi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).
Namun secara strategis, Amir melihat sektor pangan semakin berkaitan dengan ketahanan nasional di tengah ketidakpastian geopolitik dan gangguan rantai pasok global. *