Home › Nasional

HUT Ke-81 TNI, Andrianto Andri: Tentara yang Kuat, Tentara yang Dekat dengan Rakyat Sangat Relevan dengan Kondisi Bangsa Hari Ini

Oleh : very - Senin, 05/10/2026 13:36 WIB


Andrianto Andri, Komisaris PT Wijaya Karya Beton Tbk (WIKA Beton). (Foto: Ist)
Andrianto Andri, Komisaris PT Wijaya Karya Beton Tbk (WIKA Beton). (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID – Presiden Prabowo Subianto memimpin langsung Upacara Parade Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Lapangan Prima, Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (5/10/2026).

Tahun ini, TNI mengusung tema “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”.

Terkait dengan HUT ke-81 TNI tersebut, aktivis Reformasi `98, Andrianto Andri mengucapkan dirgahayu untuk Tentara Nasional Indonesia.

”Dirgahayu TNI ke-81 tahun. Kami sebagai masyarakat sipil atau civil society menyatakan bahwa hari ini HUT TNI yang ke-81 yang mengambil tema Tentara yang kuat adalah tentara yang dekat dengan rakyat,” ujarnya kepada INDONEWS.ID di Jakarta, Senin (5/10/2026).

Relawan yang menjabat sebagai Komisaris PT Wijaya Karya Beton Tbk (WIKA Beton) ini mengatakan, tema tersebut sangat relevan dengan kondisi bangsa hari ini.

TNI, kata Komisaris PT Jakarta International Container Terminal pada 2010-2015 itu, adalah garda terdepan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

”(Inilah) yang dinyatakan oleh Bapak Presiden Prabowo (bahwa) TNI itu manunggal dengan rakyat, yang dekat dengan rakyat dan sejarah TNI itu kan berasal juga dari rakyat,” ujarnya.

Alumni S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nasional Jakarta pada 1992 dan S2 Ilmu Administrasi di Universitas Prof Dr Moestopo Beragama (2012) itu mengatakan bahwa sejarah terbentuknya TNI sangat unik.

”Mereka (TNI) membentuk sendiri tentaranya, berkonferensi, memutuskan panglima sendiri, setelah itu barulah ditetapkan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 5 Oktober 1945,” tuturnya.

Karena itu, katanya, TNI merupakan pemilik sah NKRI. ”TNI adalah salah satu elemen yang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kita tahu sejarahnya bagaimana Jenderal Sudirman sebagai Panglima Besar TNI menyatakan berperang gerilya untuk menghadapi Belanda. Jadi ini suatu sejarah yang sangat fundamental. Karena keberadaan TNI yang eksis di lapangan, Indonesia bisa mencapai kemerdekaan secara hukum melalui Konferensi Meja Bundar tahun ’49. Jadi sekali lagi TNI adalah institusi yang keberadaannya bersama dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ucapnya.

 

Kebutuhan Strategis

Seperti diketahui, dalam acara tersebut, Presiden Prabowo juga meresmikan 204 satuan baru TNI yang meliputi 6 Komando Daerah Militer (Kodam) Baru, 30 Brigade Infanteri Teritorial Pembangunan, 150 Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (BTP), 1 Brigade Infanteri Marinir + 4 Batalyon Marinir, 1 Divisi Pasgat, 1 Brigade Parakomando Pasgat, 3 Batalyon Parakomando Pasgat, 2 Skadron Udara, 2 Satuan Radar dan 1 Skadron Pendidikan TNI AU.

Pembina relawan Garuda Astacita Nusantara (GAN) ini mengatakan, pembentukan 6 Kodam tersebut merupakan kebutuhan strategis mengingat situasi dunia saat ini serba tidak pasti.

Staf Khusus Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II pada 2009-2010 ini mencontohkan antara lain konflik di Timur Tengah masih belum selesai hingga saat ini. Selain itu, potensi konflik di Laut Cina Selatan, potensi konflik di Selat Taiwan, di Semenanjung Korea dan konlik Rusia dan Ukraina yang belum tuntas.

“Jadi memang sudah sangat penting diperlukan TNI yang posturnya mungkin lebih besar. Cuma juga jangan lupakan dari segi kualitas, karena perang ke depan kita ini adalah perang melalui AI, ini juga harus menjadi konsen TNI ke depan. Jadi saya rasa hal ini sudah dipikirkan semua oleh Bapak Presiden Prabowo,” katanya.

Menutup pembicaraan, Andrianto kembali mengucapkan ”Dirgahayu Tentara Nasional Indonesia (TNI). TNI kuat bersama rakyat, Indonesia berdaulat adil dan makmur,” pungkasnya.

 

Artikel Lainnya