Home › Olah Raga

Bintang Ragunan, SSB yang Membina Telanta Muda dengan Hati

Oleh : rio apricianditho - Jum'at, 16/10/2026 15:40 WIB


Bintang Ragunan, SSB yang Membina Telanta Muda dengan Hati

Jakarta, INDONEWS.ID - Belajar meningkatkan kemampuan dan pengetahuan kita, apapun yang kita pelajari pasti bermanfaat untuk kita dan pihak lain. Menjadi pesepakbola pun harus belajar dan dilatih, ada satu Sekolah Sepak Bola (SSB) di kawasan Pasarminggu yang membina talenta muda menjadi pesepakbola handal, Bintang Ragunan kawah candradimuka ponggawa lapangan hijau. Membina dengan hati, dari kalangan manapun anak asuh akan dibina asalkan panggilan jiwanya ada di sepak bola. 

SSB Bintang Ragunan bukan `sekolah` mewah tapi konsisten membina talenta muda sejak 2013, dibangun eks pemain Persija Teuku Chairul Wizal bersama dua orang yang ia percaya punya visi dan misi membangun sepak bola nasional. Alamat surat menyurat di Lenteng Agung sementara lapang tempat Bina Taruna mengasah skill dan mental binaannya di Pasarminggu.

Bahkan, sebelum mendapat lapangan sepak bola seperti saat ini, mereka sempat berpindah beberapa kali. Awalnya di lapangan sepak bola di perumahan Polisi, komplek Akri kemudian pindah di Ragunan yang memilik 3 lapangan. Setelah beberapa tahun di Ragunan, akhirnya Bina Taruna harus hengkang akibat lapangan milik sekolah olahraga itu hanya menyisakan 1 lapangan.

"Kita gak mungkin berbagi lapangan dengan mereka (sekolah olahraga-red), mereka saja harus berbagi, maka kami memilih pindah meski saat itu belum tahu mau pindah kemana", tutur Teuku saat masih membela Persija ada di barisan pemain belakang.

Niat tulusnya membina anak-anak, seperti gelombang radio yang terpancar di jagat dan tertangkap oleh Pemkot Jakarta Selatan yang memiliki lapangan sepak bola di kawasan Pasarminggu, letaknya persis di sisi jalan raya Pasarminggu. Sejak itulah hingga saat ini Bintang Ragunan membina anak asuhnya di sana.

latihan di Pasarminggu, alamat surat menyurat di Lenteng Agung tapi namanya "Bintang Ragunan", nama itu bukan asal sebut oleh 3 pendirinya tapi nama yang sudah ada di benak Teuku sebelum ia, Yunus, dan  Cut Maya, dua kompatriotnya membuka sekolah sepak bola. Dan mereka pun pernah merasakan atmosfir Ragunan, di awal-awal membina anak-anak penyuka sepak bola.

Sebenarnya memang kurang ideal tapi SSB Bintang Ragunan tunjukan kualitas pembinaan, mereka tak pernah menghindar dari ajakan kompetisi berdasarkan usia pemain, U-13 mereka penuhi, U-15 mereka kawal, U-17 pun mereka ikuti. Dan bukan sekedar penggembira, entah sudah berapa kali Bintang Ragunan mengangkat tropi juara, jejeran piala itu terpampang di gerai tempat meletakan tropi kala indonews.id bertandang ke kediaman `head coach` Bintang Ragunan Teuku Chairul Wisal.

Mereka tak membina pesepakbola handal dari segi teknik, tapi Bintang Ragunan lebih mengutamakan memupuk mental anak-anak. Bagi Bintang Ragunan menang atau kalah hal biasa dalam suatu pertandingan tapi mental juara, semangat bertanding adalah sesuatu yang harus diajarkan dan dibimbing.

Pembinaan itu diajarkan bukan secara lisan saja tapi terus dicontohkan, maka anak-anak Bintang Ragunan begitu semangat berlatih di lapangan milik Pemkot Jaksel. lapangan itu cukup layak untuk membentuk karakter pemain versi Bintang Ragunan, meski musim kemarau lapangan itu tak lagi berumput hijau tinggal tanah berdebu, bila masuk musim hujan tanahnya seperti bubur, becek.

Meski begitu anak-anak Bintang Ragunan punya semangat, mereka hadir di lapangan itu meski belum tahu kondisi lapangan. "Kadang saya gak tega melihat anak-anak latihan tapi lapangan berdebu", ujar Teuku yang pernah tercatat sebagai pegawai beberapa bank.

Latihan yang diterapkan Bintang Ragunan latihan seperti halnya SSB-SSB lainnya, teknik dasar dan latihan fisik, dan yang utama membentuk karakter pemain yang punya mental juara, fair dan berprilaku baik. Tak mudah membentuk mental seperti, untuk itu Bintang Ragunan keras bagi anak asuhnya yang ketahuan merokok, stop rokok atau tinggalkan Bintang Ragunan.

Hal itu dilakukan untuk melindung anak-anak lainnya dari kebiasaan merokok, karena para pembina paham anak asuhnya pasti berkelompok dan biasanya kumpul bareng. Saat bersama itu pengaruh buruk mudah ditularkan.

Menjaga mental anak-anak pun dilakukan agar apa yang sudah ditanamkan tak lagi tergerus oleh `ocehan-ocehan` orangtua yang menyaksikan buah hatinya berlaga di sebuah kompetisi seperti Liga Jakarta U-17 dan Liga Soeratin U-15. Mereka dijinkan hadir asal tak ada ucapan yang menyalahkan pemain bila Bintang Ragunan kalah atau, merendahkan pilihan pelatih memasukan pemain ke lapangan.

Begitulah upaya Bintang Ragunan membentuk karakter pemain, bukan sekadar pesepakbola handal tapi juga bermental baja, tak takut menerima kekalahan dan tak angkuh bila menang. Kehandalan pemain Bintang Ragunan sudah terbukti, jebolan mereka sudah ada yang membela klub liga 1 dan memperkuat tim liga 2 atau EPA-18.

Bintang Ragunan memang bukan sekolah sepak bola yang `wah`, tapi pelatih mereka semua bersertifikat C sesuai aturan yang berlaku. Bintang Ragunan bukan sekolah yang menutup kesempatan bagi pelatih yang ingin menularkan ilmunya, mereka welcome asal jiwanya sefrekwensi dengan pengurus saat ini, membina anak-anak bukan mencari yang lain.

Begitupun kala Bintang Ragunan menerima anak yang ingin berlatih, apapun status kehidupannya mereka terima. Bagi Bintang Ragunan membina pemain muda yang berkarakter pejuang, fair dan berkepribadian baik adalah visi dan misi mereka.

Jika suatu saat anak asuh Bintang Ragunan jadi pemain profesional dikenal dunia, mereka tak sakit hati bila pemain tersebut lupa siapa yang mengasah kemampuannya dan membentuk mentalnya, karena membangun SSB Bintang Ragunan memang untuk membina talenta muda bagi Merah Putih.

Bintang Ragunan akan terus memoles anak-anak jadi pemain yang berjiwa pendekar dan handal mengolah kulit bundar meski mereka tak dianggap, bagi pengasuh bersalahlah mereka bila tak menularkan ilmu yang mereka miliki. Itulah tujuan mereka mendirikan Bintang Ragunan.

Artikel Lainnya