Moskow, INDONEWS.ID - Indonesia tidak datang ke panggung global hanya membawa gagasan tentang masa depan. Indonesia datang membawa bukti. Dalam Global Digital Forum II 2026 di Moskow, Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS, pengajar Magister Terapan Industri Kreatif (Matrik) Vokasi UI, mengangkat capaian ekonomi kreatif Indonesia sebagai bukti bahwa kreativitas dapat menjadi kekuatan strategis pembangunan nasional.
Di hadapan peserta dari lebih dari 100 negara, dihadiri lebih dari 1.000 pakar teknologi informasi, sekitar 50 tamu VVIP se-tingkat menteri, dan lebih dari 50 perusahaan teknologi, Devie membawa pesan bahwa Indonesia memiliki ekonomi kreatif yang bukan sekadar potensial, melainkan telah terbukti menciptakan nilai ekonomi, lapangan kerja, investasi, dan daya saing global.
“Ketika dunia sedang berlomba mencerdaskan mesin, Indonesia menunjukkan bahwa kreativitas manusia juga dapat menjadi kekuatan ekonomi yang luar biasa. Kita memiliki budaya, talenta, dan ekosistem yang mampu mengubah ide menjadi karya, karya menjadi industri, dan industri menjadi kesejahteraan,” ujar Devie, Wakil Indonesia dan Asia dalam PR Leadership Forum di San Fransisco.
Dalam paparannya, Devie menyoroti data Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif yang menunjukkan skala besar ekonomi kreatif Indonesia. Pada 2024, nilai tambah ekonomi kreatif Indonesia mencapai Rp. 1.611,2 triliun, setara dengan 7,28 persen PDB nasional. Pada 2025, sektor ini menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja.
Kinerja ekspor dan investasi turut memperkuat posisi tersebut. Nilai ekspor ekonomi kreatif pada Januari–Oktober 2025 mencapai US$26,68 miliar, sedangkan realisasi investasi pada triwulan III 2025 mencapai Rp132,04 triliun, atau 107 persen dari target RPJMN 2025.
“Angka-angka ini sangat kuat. Indonesia tidak sedang membicarakan mimpi, tetapi menunjukkan hasil. Ekonomi kreatif telah menjadi mesin pertumbuhan nasional yang menciptakan pekerjaan, menggerakkan investasi, memperluas ekspor, dan membawa identitas Indonesia ke pasar dunia,” kata Devie Rahmawati, pembicara forum global di antaranya di Australia, Inggris, Jepang, Malaysia, Singapura ini.
Menurutnya, capaian tersebut merupakan bukti penting dari arah kebijakan Kementerian Ekonomi Kreatif yang menempatkan kreativitas sebagai kekuatan strategis pembangunan nasional.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa ekonomi kreatif merupakan mesin baru pertumbuhan yang bertumpu pada kekuatan daerah, data, dan kolaborasi. Penguatan kelembagaan juga terus dilakukan, antara lain melalui bertambahnya 19 provinsi yang membentuk dinas atau komite ekonomi kreatif, serta pengembangan kelembagaan ekraf di tingkat kabupaten dan kota.
“Pemerintah tidak hanya mempromosikan karya, tetapi juga membangun ekosistem nasional agar kreativitas dapat tumbuh, dibiayai, dilindungi, dipasarkan, dan menciptakan kesejahteraan. Capaian ini penting untuk diketahui dunia,” ujar Devie, yang dalam Global Digital Forum II membagikan perspektif Indonesia tentang hubungan teknologi, budaya, dan peluang ekonomi.
Bagi Devie Rahmawati, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komite Tetap Regulasi, Kebijakan, dan Standardisasi Industri Event KADIN Indonesia Pusat, ekonomi kreatif memiliki keunggulan karena bertumpu pada kekayaan intelektual, budaya, talenta, inovasi, dan kemampuan manusia menciptakan nilai baru.
Program Kementerian Ekonomi Kreatif seperti Akselerasi Ekspor Kreasi Indonesia (ASIK), Creative by Indonesia, Ekraf Hub, Gen Matic, Emak Matic, Desa Kreatif, serta penyusunan Rencana Induk Ekonomi Kreatif 2026–2045 menunjukkan bahwa pengembangan ekraf dilakukan dari hulu hingga hilir. Pemerintah juga menyiapkan insentif bagi subsektor prioritas, termasuk film, gim, dan aplikasi.
“Kreativitas melahirkan ide, tetapi kebijakan yang tepat mengubah ide menjadi kekuatan ekonomi. Kekuatan inilah yang membuat capaian Indonesia begitu penting untuk dibagikan kepada dunia,” jelas Devie.
Devie menambahkan, satu kegiatan kreatif dapat menggerakkan banyak sektor sekaligus. Konferensi, festival, konser, pameran, film, gim, dan produksi konten menciptakan peluang bagi pekerja kreatif, desainer, produser, penyedia teknologi, pelaku UMKM, sektor kuliner, transportasi, perhotelan, dan pariwisata.
“Industri kreatif memiliki efek berantai yang luar biasa. Satu karya atau satu acara dapat menghidupkan banyak sektor. Inilah alasan ekonomi kreatif layak ditempatkan sebagai kekuatan utama pembangunan,” imbuh penulis buku Communication Technology and Society; Exploring the Multicultural and Digital World ini.
Dalam forum digital internasional tahunan ini, Devie menekankan bahwa kecerdasan artifisial dapat mempercepat proses kreatif, tetapi teknologi harus tetap berpihak pada manusia.
AI dapat membantu riset, pengembangan konsep, produksi, penerjemahan, distribusi, dan pemasaran karya. Namun, perkembangan tersebut harus diikuti perlindungan hak cipta, royalti, orisinalitas, dan keberlanjutan ekonomi kreator.
“AI dapat menghasilkan ide dan prototipe dalam hitungan detik. Tetapi kekuatan terbesar tetap berada pada manusia: imajinasi, pengalaman, budaya, dan kemampuan memahami konteks,” ujarnya.
“Teknologi yang paling mengagumkan bukan hanya yang membuat mesin semakin pintar, tetapi yang membuat lebih banyak manusia mampu berkarya, bekerja, dan sejahtera.”
Menurut Devie, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu negara yang memimpin ekonomi kreatif berbasis AI karena memiliki pasar yang luas, keragaman budaya, talenta muda, dan ekosistem industri yang terus berkembang.
Sebagai pengajar Magister Terapan Industri Kreatif Vokasi UI, Devie menghubungkan perspektif akademik dengan kebutuhan industri dan perumusan kebijakan.
Magister Terapan Industri Kreatif Vokasi UI merupakan pendidikan pascasarjana terapan yang diarahkan untuk menjawab persoalan nyata industri kreatif, mulai dari pengembangan bisnis, kekayaan intelektual, pembiayaan, tata kelola, teknologi, hingga strategi komersialisasi karya.
Kontribusi akademik tersebut diperkuat melalui sejumlah kajian kebijakan yang dikembangkan di lingkungan Magister Terapan Industri Kreatif Vokasi UI, antara lain:
Kajian Insentif Subsektor Film di Indonesia, yang membahas instrumen kebijakan untuk memperkuat investasi dan keberlanjutan industri film.
Reformasi Tata Kelola Royalti Musik Indonesia, yang mendorong tata kelola royalti yang transparan, akuntabel, serta melindungi pencipta dan pemegang hak.
Indeks Nasional Ekonomi Kreatif, yang bertujuan memperkuat basis pengukuran dan evaluasi perkembangan ekonomi kreatif Indonesia.
“Magister Terapan Industri Kreatif hadir untuk memastikan bahwa ilmu tidak berhenti sebagai teori, dimana mahasiswa dan akademisi harus mampu membaca persoalan industri, menyusun solusi berbasis data, dan menghasilkan rekomendasi yang berdampak,” imbuh Devie.
“Indonesia tidak kekurangan ide, karena kita memiliki talenta, budaya, pasar, dan kreativitas yang luar biasa. Saat ini, yang sedang kita bangun adalah ekosistem agar semua kekuatan dari kampus, industri, negara hingga seluruh potensi itu, dapat tumbuh menjadi industri kelas dunia,” tambah peneliti kajian digital ini.
“Dari Moskow, saya ingin menunjukkan bahwa ekonomi kreatif Indonesia bukan cerita sederhana, karena Rp. 1.611 triliun dan 27,4 juta pekerja hadir, ekspor puluhan miliar dolar, hingga investasi ratusan triliun, yang semuanya menjadibukti bahwa kreativitas Indonesia telah menjadi kekuatan strategis, yang bukan hanya membanggakan, tetapi juga menginspirasi serta mengubah cara dunia melihat potensi Indonesia,” seru Wakil Indonesia di Forum OECD, Paris ini.
Paparan akademisi Matrik Vokasi UI dalam Global Digital Forum II 2026 ini, menegaskan bahwa Indonesia siap memasuki masa depan dengan menggabungkan kreativitas, teknologi, pendidikan terapan, kebijakan publik, dan kolaborasi industri.