Home › Nasional

Merinding! Makna Salib Merah Raksasa yang Warnai Demo Mahasiswa Hari Ini di Jakarta

Oleh : Rikard Djegadut - Rabu, 28/10/2026 22:11 WIB


Merinding! Makna Salib Merah Raksasa yang Warnai Demo Mahasiswa Hari Ini di Jakarta

Jakarta, INDONEWS.ID – Sebuah salib kayu berwarna merah berukuran besar mencuri perhatian di tengah demonstrasi mahasiswa di kawasan Jalan MH Thamrin, Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026). Simbol tersebut dibawa oleh massa Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) sebagai bentuk solidaritas terhadap masyarakat adat Papua.

Kehadiran salib merah itu menjadi salah satu pemandangan yang menonjol dalam aksi demonstrasi yang berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Simbol tersebut dikaitkan dengan film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Dwi Laksono yang mengangkat persoalan masyarakat adat Papua dan ancaman terhadap ruang hidup mereka.

Dikutip dari laporan Suara.com, massa PMKRI membawa salib merah ke tengah kerumunan demonstran di depan Plaza UOB, Dukuh Atas. Kehadiran simbol tersebut disambut oleh massa aksi yang sebelumnya telah berkumpul di kawasan itu.

Salah satu peserta aksi dari PMKRI menjelaskan bahwa simbol tersebut terinspirasi dari masyarakat adat Papua dan film dokumenter Pesta Babi.

Salib yang dibawa tidak dilengkapi tulisan. Namun, bentuk dan warnanya mengingatkan pada simbol yang digunakan masyarakat adat Papua untuk menandai wilayah yang harus dilindungi dari ancaman pihak luar.

Simbol Perlindungan Ruang Hidup

Dalam konteks yang diangkat film Pesta Babi, salib merah merepresentasikan penolakan masyarakat adat terhadap proyek pembangunan yang mengancam tanah, hutan, dan keberlangsungan hidup mereka.

Film dokumenter tersebut menyoroti dampak Proyek Strategis Nasional (PSN), ekspansi perkebunan sawit dan tebu, serta pembukaan kawasan hutan dalam skala besar di Papua Selatan.

Wilayah yang menjadi sorotan mencakup Merauke, Boven Digoel, Asmat, dan Mappi. Ekspansi pembangunan di kawasan tersebut menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kehidupan masyarakat adat, termasuk kelompok Awyu, Muyu, Malind, dan Yei.

Bagi masyarakat adat yang mempertahankan wilayah leluhurnya, tanah dan hutan bukan semata-mata sumber ekonomi. Keduanya juga berkaitan dengan identitas, tradisi, sumber pangan, dan keberlanjutan kehidupan antargenerasi.

Karena itu, simbol salib merah dalam konteks tersebut dimaknai sebagai tanda penolakan terhadap perampasan ruang hidup, sekaligus representasi perlawanan damai dan penderitaan masyarakat adat.

Dibawa di Tengah Lima Tuntutan Mahasiswa

Kehadiran salib merah berlangsung di tengah demonstrasi yang digelar aliansi mahasiswa dan elemen masyarakat sipil melalui Komite SADAR. Aksi tersebut mengangkat sejumlah persoalan nasional, mulai dari lingkungan hingga penegakan hukum.

Dalam demonstrasi itu, mahasiswa menyampaikan lima tuntutan utama kepada pemerintah.

Pertama, mendesak penetapan status bencana nasional untuk karhutla, penegakan hukum terhadap korporasi yang bertanggung jawab, dan penyelesaian persoalan tata kelola lahan.

Kedua, meminta APBN digunakan untuk kepentingan rakyat serta menolak pemborosan anggaran untuk kepentingan politik.

Ketiga, menuntut penurunan biaya pendidikan dan pemerataan akses terhadap layanan dasar.

Keempat, mendesak penghentian penyalahgunaan hukum dan pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Kelima, meminta pemulihan kebebasan berpendapat, penegakan hukum terhadap pelanggaran hak asasi manusia (HAM), serta penghentian militerisasi di ruang sipil.

Isu perlindungan lingkungan dalam tuntutan tersebut memiliki keterkaitan dengan pesan yang dibawa melalui simbol salib merah. Keduanya menempatkan persoalan tata kelola lahan, kepentingan masyarakat, dan perlindungan ruang hidup sebagai bagian dari kritik terhadap kebijakan negara.

Bukan Sekadar Simbol Keagamaan

Dalam aksi tersebut, salib merah tidak hanya dapat dibaca dari bentuknya sebagai simbol keagamaan. Konteks penggunaannya merujuk pada solidaritas terhadap masyarakat adat Papua dan perlawanan terhadap ancaman atas wilayah mereka.

Penggunaan simbol itu memperlihatkan bagaimana demonstrasi mahasiswa juga menjadi ruang untuk membawa persoalan masyarakat di luar Jakarta ke pusat perhatian publik.

Di tengah peringatan Hari Sumpah Pemuda, pesan yang disampaikan tidak berhenti pada tuntutan politik dan ekonomi. Isu perlindungan lingkungan, hak masyarakat adat, dan keadilan dalam pembangunan turut menjadi bagian dari aspirasi yang disuarakan.

Dengan demikian, salib merah yang hadir di kawasan Dukuh Atas menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya menyangkut pertumbuhan ekonomi dan proyek infrastruktur, tetapi juga menyangkut nasib masyarakat yang hidup di wilayah terdampak.


Artikel Lainnya