Home › Internasional

Tujuh Syarat Iran dan Harga Minyak di Atas 110 Dolar Ikut Menentukan Beban APBN

Oleh : Rikard Djegadut - Senin, 02/11/2026 11:45 WIB


Ilustrasi Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak dunia yang terdampak perang AS-Israel dan Iran. (Foto: Dok. Indonews)
Ilustrasi Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak dunia yang terdampak perang AS-Israel dan Iran. (Foto: Dok. Indonews)

Jakarta, INDONEWS.ID – Iran menegaskan tidak akan kembali ke meja perundingan dengan Amerika Serikat (AS) sebelum Washington memenuhi tujuh syarat yang diajukan Teheran. Tarik-ulur diplomasi yang dimediasi Qatar itu langsung tercermin pada harga minyak dunia, yang masih bertahan di atas US$110 per barel dan jauh melampaui asumsi harga minyak dalam APBN 2026.

Sikap Iran disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, melalui televisi pemerintah Iran, Sabtu (31/10/2026). Ia menegaskan, perundingan tidak akan digelar sebelum tuntutan Teheran dipenuhi, sebagaimana dilansir Beritasatu.com.

"Syarat-syarat tersebut berbeda dari ketentuan dalam nota kesepahaman Islamabad," kata Rezaei.

Rincian lengkap tujuh syarat itu belum dipublikasikan. Namun, dalam sejumlah pernyataan sebelumnya, Iran menuntut penghentian perang di seluruh front, pembebasan aset Iran yang dibekukan, pencabutan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran, serta penghentian serangan militer AS ke wilayah Iran.

Washington Pilih Beri Ruang Diplomasi

Perang yang melibatkan AS, Israel, dan Iran kini memasuki bulan kedelapan sejak serangan pada 28 Februari 2026. Nota kesepahaman yang diteken pada pertengahan Juni 2026 sempat meredakan pertempuran, sebelum serangan kembali terjadi.

Presiden AS Donald Trump menyatakan perundingan dengan Iran berjalan baik dan hanya menyisakan satu atau dua sasaran yang harus diselesaikan. Menurut Trump, Washington tidak terburu-buru melancarkan serangan baru karena kekuatan militer dan program nuklir Iran dinilai telah lumpuh.

"Berjalan dengan baik," kata Trump kepada wartawan, Sabtu (31/10/2026), sebagaimana dilansir Kompas.com dari AFP.

Pada hari yang sama, Trump dilaporkan berbicara lewat telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Mengutip Axios, Netanyahu mendesak serangan dilakukan segera setelah pemilu paruh waktu AS pada Selasa (3/11/2026), sementara Trump memilih memberi ruang bagi perundingan.

Dari Teheran, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut pembicaraan dengan mediator Qatar menunjukkan kemajuan. Ia menegaskan Iran siap menghadapi dua kemungkinan, yakni pertahanan maupun diplomasi.

Harga Minyak Bergerak Mengikuti Kabar Perundingan

Pasar minyak merespons cepat. Pada perdagangan Senin (2/11/2026), harga minyak mentah Brent turun US$1,59 atau 1,40 persen menjadi US$111,84 per barel. Minyak West Texas Intermediate (WTI) turun US$1,56 atau 1,50 persen menjadi US$102,56 per barel, mengutip Reuters.

Analis KCM Trade, Tim Waterer, menilai penurunan itu belum mengubah arah pasar.

"Koreksi teknikal setelah kenaikan kuat sepanjang pekan lalu," ujar Waterer.

Ia mengingatkan, jika eskalasi AS–Iran kembali terjadi setelah pemilu paruh waktu, harga Brent berpotensi bergerak mendekati US$120 per barel.

Selisih Lebar dengan Asumsi APBN

Bagi Indonesia, angka-angka itu bukan sekadar kabar pasar. APBN 2026 disusun dengan asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) US$70 per barel dan kurs Rp16.500 per dolar AS.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, menurut pemberitaan sejumlah media, menyebut rata-rata ICP Januari–Oktober 2026 berada di kisaran US$91–92 per barel. Pemerintah juga tengah mengkaji kemungkinan tambahan anggaran subsidi energi, yang dalam APBN 2026 dipatok Rp381,3 triliun untuk subsidi dan kompensasi.

Kenaikan harga minyak menambah beban belanja subsidi dan kompensasi energi, meski sebagian tertutup oleh tambahan penerimaan negara dari sektor migas. Karena itu, setiap kabar dari meja perundingan Teheran dan Doha ikut menentukan seberapa besar ruang fiskal yang tersisa hingga akhir tahun.

Selama tujuh syarat Iran belum menemukan titik temu dengan Washington, harga minyak dunia, dan bersamanya beban APBN, masih akan bergerak mengikuti setiap pernyataan dari kedua ibu kota.

Artikel Lainnya