Jakarta, INDONEWS.ID – Politeknik STIA LAN Jakarta kembali menyelenggarakan Ujian Terbuka Promosi Doktor Terapan pada Program Studi Administrasi Pembangunan Negara hari Kamis 5 November 2026 di Ruang Serbaguna Jakarta. Dalam kesempatan ini, Dr.Tr. Darmawansyah, S.T., M.Si. memaparkan hasil penelitian disertasinya yang mengangkat tema “Model Peningkatan Peluang Kerja Lulusan Pelatihan Vokasi di Kementerian Ketenagakerjaan.”
Ujian terbuka ini merupakan salah satu tahapan akademik penting dalam proses penyelesaian pendidikan doktor terapan, sekaligus menjadi forum ilmiah untuk menguji kedalaman substansi penelitian, kemampuan analisis, serta kontribusi keilmuan promovendus terhadap pengembangan administrasi publik dan kebijakan pembangunan, khususnya di bidang ketenagakerjaan.
Dalam pemaparannya, Dr.Tr. Darmawansyah menjelaskan tujuan kajian ini adalah untuk membandingkan perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang sedang dilakukan, memberikan argumentasi tentang kebaruan (novelty), serta memperkuat urgensi penelitian. Sebelum penelitian ini, telah dilakukan beberapa penelitian yang relevan dengan konsep Tata Kelola Pelatihan Vokasi (Vocational Training Governance) dan Collaborative Governance.
Tata Kelola Pelatihan Vokasi (Vocational Training Governance) sebagai salah satu landasan penting dalam merumuskan model peningkatan peluang kerja lulusan pelatihan vokasi di Kementerian Ketenagakerjaan. Konsep ini menekankan bahwa keberhasilan penyelenggaraan pelatihan vokasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas proses pembelajaran dan kompetensi instruktur, tetapi juga oleh efektivitas tata kelola, koordinasi kelembagaan, relevansi program, serta keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dalam keseluruhan ekosistem ketenagakerjaan.
Tata Kelola Pelatihan Vokasi (Vocational Training Governance) memandang penyelenggaraan pelatihan sebagai suatu sistem yang membutuhkan perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, evaluasi, dan pengembangan secara berkelanjutan. Dalam konteks ini, Kementerian Ketenagakerjaan memiliki peran strategis dalam memastikan bahwa program pelatihan vokasi dirancang berdasarkan kebutuhan riil pasar kerja, perkembangan teknologi, perubahan karakteristik pekerjaan, serta kebutuhan kompetensi dunia usaha dan dunia industri.
Selain itu, penelitian ini juga menempatkan pendekatan Collaborative Governance sebagai elemen penting dalam meningkatkan efektivitas penyelenggaraan pelatihan vokasi. Pendekatan ini menekankan pentingnya kolaborasi dan sinergi antara pemerintah, dunia usaha dan dunia industri, lembaga pendidikan dan pelatihan, asosiasi profesi, serta masyarakat dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan peningkatan kompetensi tenaga kerja.
Melalui Collaborative Governance, penyelenggaraan pelatihan vokasi tidak lagi hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh pemangku kepentingan. Dunia industri, misalnya, dapat berperan dalam mengidentifikasi kebutuhan kompetensi, memberikan masukan terhadap kurikulum, menyediakan fasilitas praktik kerja, hingga membuka akses penempatan kerja bagi lulusan pelatihan. Sementara itu, pemerintah berperan sebagai regulator, fasilitator, koordinator, sekaligus penggerak kolaborasi antar pemangku kepentingan.
Sinergi tersebut diharapkan mampu menciptakan keterhubungan yang lebih kuat antara lembaga pelatihan vokasi dengan kebutuhan dunia kerja. Dengan demikian, lulusan pelatihan tidak hanya memiliki sertifikat kompetensi, tetapi juga mempunyai keterampilan yang relevan, pengalaman praktis, jejaring profesional, dan akses yang lebih luas terhadap kesempatan kerja.
Integrasi konsep Vocational Training Governance dan Collaborative Governance menjadi perspektif strategis dalam membangun model peningkatan peluang kerja lulusan pelatihan vokasi. Model ini diharapkan dapat mendorong tata kelola pelatihan yang lebih terintegrasi, partisipatif, adaptif, dan berorientasi pada hasil (outcome oriented).
Penelitian ini menyoroti pentingnya membangun model yang mampu menghubungkan penyelenggaraan pelatihan vokasi dengan kebutuhan industri dan dinamika pasar kerja. Dengan demikian, keberhasilan program pelatihan tidak semata-mata diukur berdasarkan jumlah peserta yang mengikuti dan menyelesaikan pelatihan, tetapi juga berdasarkan sejauh mana lulusan dapat memperoleh pekerjaan, mengembangkan karier, maupun menciptakan peluang usaha secara mandiri.
Lebih lanjut, pengembangan model peningkatan peluang kerja lulusan pelatihan vokasi di Kementerian Ketenagakerjaan diharapkan dapat menjadi masukan strategis bagi penyempurnaan kebijakan dan tata kelola penyelenggaraan pelatihan vokasi. Hal ini mencakup penguatan relevansi kurikulum pelatihan, peningkatan kompetensi instruktur, pengembangan kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri, serta penguatan layanan informasi dan penempatan kerja bagi para lulusan.
Untuk mendukung keberhasilan peran balai pelatihan vokasi secara komprehensif, penguatan Active Labour Market Policies (ALMP) melalui pengembangan Public Employment Services (PES) harus diupayakan secara optimal. Sejalan dengan ILO, PES sebagai institusi pemerintah penyusun dan pelaksana kebijakan pasar kerja memiliki tiga peran kunci, yaitu (1) memberikan layanan informasi lowongan kerja yang lebih inklusif bagi pencari kerja, (2) menyelaraskan kebutuhan tenaga kerja dengan perubahan tren industri (job matching), (3) memitigasi dampak negative restrukturisasi ekonomi terhadap potensi pengangguran.
Dalam sesi ujian, tim penguji melakukan pendalaman terhadap berbagai aspek penelitian, mulai dari landasan teoritis, metodologi penelitian, hasil analisis, hingga implikasi praktis dari model yang dikembangkan. Diskusi akademik berlangsung sebagai bagian dari upaya memastikan bahwa hasil penelitian memiliki landasan ilmiah yang kuat serta memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan kebijakan publik.
Tim Penguji dalam ujian terbuka doktor terapan Politeknik STIA LAN Jakarta terdiri dari :
• Ketua Tim penguji : Assoc. Prof. Dr. Mala Sondang Silitonga, MA.
• Sekretaris : Assoc. Prof. Dr. Asropi, M.Si
• Promotor : Prof. Dr. Nurliah Nurdin, MA.
• Ko-Promotor I : Dr. Muhammad Taufiq, DEA.
• Ko-Promotor II : Prof. Dr. R. Luki Karunia, MA.
• Anggota I : Prof. Yassierli, Ph.D
• Anggota II/Eksternal : Prof. Anwar Sanusi, Ph.D
Sebagai dasar pertanggungjawaban akademik, Tim Penguji menggunakan 10 indikator kinerja akademik digunakan sebagai berikut :
1. Kualitas Disertasi : Orisinalitas, kontribusi teoritis, dan relevansi dengan praktik administrasi publik.
2. Kompetensi Metodologi : Penguasaan metode penelitian, analisis data, dan interpretasi hasil.
3. Kontribusi Praktis : Dampak penelitian terhadap kebijakan atau praktik administrasi publik.
4. Penguasaan Literatur : Pemahaman mendalam terhadap literatur terkait administrasi publik.
5. Kemampuan Analisis : Kemampuan menganalisis masalah kompleks dan menawarkan solusi.
6. Kemampuan Sintesis : Kemampuan mengintegrasikan teori dan praktik.
7. Kemampuan Evaluasi : Kemampuan menilai efektivitas dan efisiensi program-program administrasi publik.
8. Komunikasi Ilmiah : Kemampuan menyampaikan hasil penelitian secara jelas dan efektif.
9. Integritas Akademik : Etika penelitian, kejujuran, dan transparansi.
10. Relevansi dengan Administrasi Publik : Kesesuaian penelitian dengan bidang administrasi publik.
Selain kinerja akademik selama Promovendus menempuh pendidikan Program Doktor di Politeknik STIA LAN Jakarta, Tim Penguji juga mengikuti rekam jejak prestasi akademik khususnya pada saat mengikuti Program Sarjana (S-1) dan Magister (S-2) yang lulus dengan mendapat nilai terbaik.
Melalui ujian terbuka ini, Politeknik STIA LAN Jakarta terus menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan pendidikan tinggi vokasi dan terapan yang berorientasi pada pemecahan permasalahan nyata di sektor pemerintahan dan pembangunan. Penelitian doktor terapan diharapkan tidak hanya menghasilkan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan inovasi dan rekomendasi kebijakan yang aplikatif bagi peningkatan kualitas penyelenggaraan pemerintahan.
Disertasi yang diangkat Dr.Tr. Darmawansyah menjadi salah satu kontribusi akademik dalam mendukung transformasi kebijakan ketenagakerjaan, khususnya melalui penguatan pelatihan vokasi yang lebih adaptif, relevan, dan berorientasi pada hasil. Pada akhirnya, peningkatan kualitas pelatihan vokasi diharapkan mampu memperluas akses kesempatan kerja, meningkatkan daya saing sumber daya manusia, serta mendukung pembangunan ketenagakerjaan nasional.
Selamat kepada Dr.Tr. Darmawansyah, S.T., M.Si. atas pelaksanaan Ujian Terbuka Promosi Doktor Terapan. Semoga hasil penelitian yang dihasilkan dapat memberikan manfaat nyata bagi pengembangan kebijakan ketenagakerjaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.