Daniel Tagu Dedo, Mempersiapkan NTT Menuju 2030
Reporter: very
Redaktur: very
Jakarta, INDONEWS.ID - PDI Perjuangan belum memutuskan calon kepala daerah dalam Pemilihan Gubernur di Nusa Tenggara Timur yang bertarung pada 2018 mendatang. Sejauh ini, PDI Perjuangan masih menimbang-nimbang bakal calon yang akan diusung.
Sekretaris DPD PDIP NTT, Nelson Obet Matara mengatakan, ada empat nama yang masih diseleksi DPD PDIP NTT yaitu Raymundus Sau Fernandez, Kristo Blasin, Lusia Adinda Dua Nurak, dan Daniel Tagu Dedo.
Salah satu Bacagub NTT dari PDI Perjuangan, Daniel Tagu Dedo mengatakan bahwa pilkada 2018, dan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden 2019 merupakan momentum penting, terutama bagi Provinsi NTT.
“Pilkada 2018, Pileg dan Pilpres 2019 adalah momentum penentu bagi masa depan NTT, karena 2030 Indonesia diprediksi akan menjadi Negara terbesar ke-3 terbesar di bidang ekonomi dan didukung ledakan middle income sebesar 113 juta yang akan memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujarnya kepada redaksi Indonews.id, Rabu (22/11/2017).
Pertanyaan terbesarnya yaitu, dimana posisi NTT pada tahun 2030? “Inilah pertanyaan yang harus dijawab oleh para tokoh politik NTT baik di NTT maupun yang ada di luar NTT, dimana posisi NTT pada tahun 2030? Apakah akan tetap menjadi provinsi termiskin ke-3, atau provinsi yang memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia,” ujarnya.
Pertanyaan inilah yang menjadi pergulatan dan hendak dijawab mantan Direktur Utama Bank NTT selama 8 tahun ini.
Daniel mengatakan, untuk menjawabi pertanyaan itu, dirinya telah menyiapkan sejumlah program atau kebijakan.
Pertama, membangun fondasi ekonomi kerakyatan. Hal itu dilakukan dengan membangun industrialisasi komoditi unggulan NTT, dengan leading sector ekonomi maritim dan pariwisata. Industri yang dibangun yaitu garam, rumput laut, industri perikanan, peternakan terpadu, kerajinan, pariwisata, dan hiburan berbasis budaya lokal.
Kedua, untuk menciptakan fondasi ekonomi kerakyatan di atas maka dirinya akan menyiapkan lapangan kerja sebanyak 1 juta tenaga kerja lokal dalam 5 tahun. Selain itu, menghasilkan 47 ribu pengusaha mikro dan menengah. Untuk mendukung kualitas kerja, maka harus dibangun 100 Balai Latihan Kerja (BLK), yang fokus pada target industrialisasi tersebut.
Ketiga, perbaikan kualitas Pendidikan, mulai dari PAUD hingga Perguruan Tinggi. Perbaikan kualitas pendidikan itu antara lain dilakukan melalui aksesabilitas sekolah, kualitas kurikulum, kualitas guru, dosen, dll.
Putra asal Sumba ini mengatakan, dirinya juga akan menjalin kerja sama dengan Australia, Amerika, China, untuk mendirikan Balai Latihan untuk High Skill Labour. Dia juga akan membuka universitas berkelas di Kupang, Sumba dan Flores. “Meningkatkan popularitas kualitas sekolah-sekolah Katolik seperti STM Nenuk-Atambua, STF Ledolero-Maumere, SMA Syuradikara-Ende, Seminari Kisol, Seminari Mataloko, SMA Giovani-Kupang, dll, demikian juga SMA Kristen Waikabubak, SMA Kristen SoE, dll,” ujarnya.
Keempat, perbaikan kualitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan formula WHO, seharusnya NTT memiliki 144 rumah sakit kelas C. Ketersediaan tenaga medis, ketersediaan Obat, dan lain-lain.
Kelima, membangun infrastruktur seperti bendungan, jalan, jembatan, dan lain-lain. Infrastruktur tersebut, katanya, dibutuhkan untuk mendukung aksesabilitas dan dapat menurunkan disparitas harga hasil produksi komoditi dan bisnis unggulan NTT. “Flores, Sumba dan Timor perlu dibangun jaringan rel Kereta Api,” ujarnya.
Keenam, tekait sumber pembiayaan, Daniel akan melakukan terobosan dengan tidak hanya mengandalkan APBN/APBD. “Ini yang akan mengubah predikat NTT sebagai propinsi minta-minta, menjadi propinsi yang berdikari. “Caranya akan dipaparkan saat debat publik,” katanya.
Ketujuh, transformasi birokrasi dan pola hidup masyarakat. Daniel mengatakan, hal inilah merupakan basis perubahan NTT, atau yang dikenal dengan Revolusi Mental.
Kedelapan, mengatasi kekeringan dengan menerapkan Water Treatment Management. Lantas bagaimana untuk merealisasikannya? “Kita tunggu saja pembahasannya lebih lanjut,” katanya.
Jangan Sampai NTT Kehilangan Kesempatan
Terpisah, bakal cawagub yang akan mendampingi Daniel, DR. Ignas Iryanto Jou mengatakan, Daniel merupakan sosok yang mengerti persoalan NTT, mampu bekerja dan memiliki integritas tinggi.
“Yang pasti, buat saya, jika mencari gubernur yang siap, ngerti persoalan, mampu bekerja, punya integritas yang mampu melakukan pembangunan transformatif di NTT secara startegis, Pak DTD (Daniel Tagu Dedo) lah orangnya. Beliau bukan politisi, bukan pengamat dari luar NTT. Beliau 8 tahun menjadi Direktur Utama Bank NTT dan terus menerus berkeliling NTT dan memotret persoalan di sana secara langsung. Bukan berkeliling dalam rangka kampanye dan ‘memberi kesan’ merakyat,” ujar tokoh pemberdayaan masyarakat ini.
Karena itu, katanya, PDIP bisa saja memilih calon lain dengan pertimbangan lain seperti elektabilitas. “Kalau itu terjadi, menurut saya, NTT akan kehilangan kesempatan untuk memiliki gubernur yang benar-benar bagus dan memiliki kompetensi yang kuat,” ujarnya.
Ignas mengatakan, dia memiliki chemistry yang kuat dengan Daniel. Pasalnya, keduanya memiliki passion yang sama untuk membangun NTT.
“Kami memang punya chemistry dan saya melihat keseriusan dan kesiapan serta passionnya untuk benar-benar membangun NTT. Buat DTD ini bukan persoalan mencari kerja atau mencari jabatan, bahkan sebaliknya ini tantangan yang penuh dengan kesulitan dan menuntut kerja keras. Jadi Gubernur NTT jauh lebih sulit daripada menjadi Gubernur DKI. Banyak alasan untuk itu,” ujarnya.
Namun, alumnus SMA Syuradikara Ende ini menyadari bahwa dirinya dan Daniel bukan pengurus partai, walau Daniel memiliki Kartu Tanda Anggota PDI Perjuangan.
“Saya sama sekali tidak punya KTA dari partai apapun. Karena itu dari awal dan dengan prinsip nothing to lose, saya menyadari bahwa realitas politik partai tidak memberikan optimisme buat pasangan kami. Realita politik kemungkinan besar sekali, akan membawanya berpasangan dengan sahabat/balon yang lain,” ujarnya. (Very)